Nay Pyi Taw

Juli 2, 2009

Kalau ini berhasil terpostingkan, namanya hebat!

Dari jarak 255 mil utara Yangoon, Myanmar, babat hutan maka muncul ibukota baru yang bernama Nay Pyi Taw (dibaca: napido)

GSM belum ada, internet susah, dan di mana-mana cuma hutan dan kota masih bayi..


Menunggu

Juni 28, 2009

Menunggu itu enak karena artinya kita masih punya harapan.

Menunggu anak pulang sekolah, menunggu kekasih usai kuliah, menunggu pesawat yang akan membawa kita terbang.

Sekarang, ane pun sedang menunggu. Saat ane tulis postingan ini, ane menunggu untuk dibawa terbang entah kemana. Mencari sesuatu yang lebih baik? Tidak juga.

Seminggu ke depan, ane diminta menghadiri SOMTC ke-9 di Nay Pyi Taw, Myanmar.

Apaan tuh?
SOMTC artinya Senior Official Meeting of Transnational Crime yang wilayah cakupannya se Asia Tenggara di bawah kegiatan ASEAN.

Ngapain aja?
Ane sih cuma kebagian working group untuk Counter Terrorism. Ya, bicara kegaduhan, upaya pemberantasan, dan hal lain termasuk pembiayaan kaum pembuat kerak telor. Eh teror!

Harapan ane sebetulnya ingin jengun Aun Sang Suu Kyi, budhe cantik yang ngeyelan itu. Kali aja dikasih petuah bagaimana bisa sabar menjalani hidup demi suatu tujuan. Apa iya?

Jangan-jangan malah doi yang minta nasihat tentang nusantara. Mungkin ia bertanya apa itu Pancasila, siapa itu Sri Mulyani, Megawati atau Jusuf Kalla. :)

Gak papa, andaikan pun tak bertemu, setidaknya ane bisa mendapatkan (semoga) sesuatu dari sana. Dari sebuah negara yang masih juga di bawah kungkungan Junta Militer.

Negeri mantan jajahan Inggris yang dikenal dengan daerah Mandalay-nya, dengan sendal jepit dan sarungnya.

Negeri yang dulu, punya bapak bangsa sekelas Bung Karno, dia lah tuan U Nu.

Maka, di saat menunggu, terkandung suatu pengharapan, negeri ane tak setragis Myanmar alias Burma, dan semoga Presidenku presidennya baru!

Budhe Suu Kyi, I’m coming…!

Bandara Soekarno Hatta, 10:04:40 AM

****************************
Rio Wardhanu
Y!M : wardhanu@yahoo.com
gTalk : kopdang@gmail.com
****************************


Dicari: “Simfoni Negeri”

Juni 20, 2009

Apakah hati selalu bersimfoni? Berarti adakah sang konduktor yang mengatur semua ini?

“Sesuatu yang gampang di bolak balik”, kata sohib ane tentang hati. Perihal Qolbu. Perihal jiwa-jiwa manusia.

Eitts..Tenang saja, ane sedang tidak berniat mengungkit mendiang Manajemen Qolbu ;)

Ane lagi demen cerita tentang diri sendiri yang gemas dengar komentar penonton “debat calon presiden” yang konon katanya (karena ane sendiri ndak nongton) seperti ramah tamah antar saudara sepupu. Dekat tapi jarang bertegur sapa.

Pendapat ane, kalau yang dipertontonkan adalah “kesantunan politik” berlebihan dan tidak ada “greget” dan dipenuhi penggunaan bahasa amelioratif, diplomatis binti normatif, lebih baik ketiga calon pemimpin periode baru itu dijadikan dubes saja.

Senyam-senyum, unggah-ungguh yang berlebihan, layaknya utusan negeri seberang yang “wajib berpura-pura untuk santun..”.

Bukankah kita perlu perwakilan untuk menjadi juru bicara Indonesia dalam Forum Internasional, seperti Tuan Ali Alatas yang legendaris itu?

Aneksasi dibilang otonomi yang diperluas, operasi militer dibilang patroli keamanan, penumpasan nyawa rakyat disampaikan kepada media sebagai upaya pengamanan situasi dan kondisi sosial masyarakat untuk terus tertib.

Ane bukan ingin sosok sederhana seperti Ahmadinejad (yang sedang digempur pendukung Mousavi-Musawi), atau menjadikan negeri ini kaya raya seperti Arab Saudi.

Ane lebih suka pemimpin yang visioner, yang mampu membangun jiwa kebangsaan lewat upaya-upaya yang mantap! Bukan menjadikan Indonesia negara kaya, namun menjadi negara maju, dengan perikehidupan yang gemah ripah loh jinawi.

Ane membayangkan: “Anies Baswedan sebagai Capres, dan tiga pemimpin itu panelis yang membacakan pertanyaan para konseptor naskah..”

Ane mengharapkan pemimpin yang rela kerja keras membangun pondasi budaya anak negeri guna menjadi manusia-manusia pemberani!

Berani gagal, berani berdemokrasi dengan tetap mengedepankan esensi bukan termakan janji-janji, apalagi sekadar nyanyian indomie! yang cakap teknologi, yang tahan bekerja keras demi masa depan (minimal dimulai) untuk dirinya sendiri agar mandiri.

Toh, pemimpin bukan segala-galanya, tapi sejatinya tetap saja setiap simfoni butuh pengatur irama dan ritme bunyi.

Toh, kita bukan bangsa pemimpi yang selalu tidur di kala siang hari. Kita kebanyakan tidur malah semakin banyak butuh nasi..

Bukan lagi soal sipil militer, gak jaman urusan pria wanita, bukan soal neolib atau paham ekonomi lainnya, bukan lagi butuh pemimpin yang disegani dan ditakuti.

Cukuplah pemimpin orkestra negeri yang pandai menciptakan simfoni. Sehingga setelah usai Pemilihan Umum nanti, tak ada lagi “sana-sini”, “engkau-kami”, tapi cukup satu saja. Indonesia..!

Sebuah negeri di mana setiap orang berhak menikmati hidup dengan senyum berseri-seri..
:D

Sent from my BlogBerry®
powered by blog kopidangdut
http://kopidangdut.wordpress.com/
~dari urusan serius seperti dangdut hingga hal remeh sekadar politik jenaka~


Lomba Ngeblog: iB Blogger Competition di Kompasiana

Juni 10, 2009
iklan

iklan

 

 

 

 

 

Ada yang pingin dapet duit karena ngeblog?
Ikutan lomba ini ajah…

logo-ib

 

 

 

Ni kompetisi yang buat kantor ane’..


Malaysia dan Kekuatan Jahat Sesungguhnya

Juni 7, 2009

“Persayaratan yang dibutuhkan oleh kekuatan jahat untuk berkuasa hanyalah bahwa orang-orang baik berdiam diri” (Sir Edmund Burke).

Malaysia adalah negeri serumpun dengan Indonesia. Maka dari itu, jaman TVRI masih jadi satu-satunya stasiun televisi, ada program acara yang dinamakan “Titian Muhibah”. Isinya adalah pertukaran penyanyi masing-masing negara untuk tampil di studio. Jadi, Sheila Madjid tampil di TVRI Senayan, sedangkan Harvey Malaiholo, bernyanyi di studio pada stasiun televisi Malaysia. Kedua-duanya disiarkan langsung di kedua negara.

Hal itu bisa terjadi, karena sesama bangsa melayu, selera bermusik tak beda-beda amat. Ami Search dengan “Isabela”-nya dapat menjadi lagu paling dikenal di Indonesia, pada jamannya. Juga “Suci dalam Debu” yang dinyanyikan bersama Inka Christie.

Dalam hal budaya, kita, Indonesia dan Malaysia layaknya pengantin baru. Mesra banget gitu looooh! Tapi itu: dulu.

Selain itu, bisa jadi Sipadan-Ligitan, Ambalat dan Manohara belum muncul untuk menjadi objek pertentangan kepentingan. Walaupun masalah Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia sudah mulai banyak yang bermasalah. Dengan tanpa adanya konflik terbuka antara Malaysia dan Indonesia, maka “kita” masih baik-baik saja.

Berbeda dengan jaman “Ganyang Malaysia! Amerika kita setrika, Inggris kita linggis”. Sebelum ada program barter penyanyi, Bung Karno pernah marah besar pada Malaysia.

Sekarang, di jaman SBY, Malaysia membantu kita untuk mempertanyakan kembali KeIndonesiaan kita.

Kapal perang di perairan Ambalat sedang meniru aksi adegan film kartun Tom and Jerry. Bermain petak umpet, berkejar-kejaran, kucing-kucingan dan mirip film jaman Piala Citra masih bergengsi: “Kejarlah Daku, Kau Kutangkap”.

Bagi saya, kasus Ambalat hanyalah permainan politik belaka. Stelan petinggi kedua negara. Ada dua kemungkinan:

1. SBY minta tolong Malaysia untuk mengalihkan perhatian publik untuk menemukan “musuh bersama”. Gaya yang diterapkan George.W Bush terhadap Osama dan Saddam.

2. Malaysia dan Indonesia sedang diperalat oleh kekuatan multinasional yang sungguh kaya dan berkuasa, yang Dikenal dengan “oil company”.

Sama halnya dengan perusahaan Amerika yang lebih memilih membayar sebagian kecil bagi hasil dan “biaya keamanan” bagi Indonesia dalam rangka mengeruk bumi Papua di Tembagapura dibandingkan ongkos yang jauh lebih besar dengan membiarkan Papua merdeka dan menghadapi konflik tak berujung. Hal ini sekadar itung-itungan di meja kasir. Kita “r” atau “l”. Rugi atau Laba.

Korban permainan oil company hingga saat ini adalah Negeri Arab. Pertempuran panjang antara Syarief Husin, sang penguasa, yang dikalahkan oleh Ibnu Saud, raja Hejaz dan Nejd dan daerah taklukannya.

Maka hingga saat ini, negeri Arab diberi tambahan bonus nama: “Saudi”- diambil dari keluarga Ibnu Saud yang terus berkuasa hingga saat ini…

Jakarta, 7 Juni 2009
Via 9000/4.6.0.247


Era Masyarakat Berakal

Juni 4, 2009

Kekuatan menakjubkan! Daya magis opini publik yang dibangun masyarakat internet dalam kasus Prita V. Omni merupakan bukti empiris bahwa media internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Blog, email, media sosial dunia maya, sudah menjadi media utama sarana komunikasi dan sumber informasi menyusul koran, radio dan tentunya sang raja media: televisi.

Kekuatan kelas menengah yang intelek adalah kekuatan yang “menakutkan”. Ongkosnya adalah nurani.

Sifat benci pada ketamakan, aniaya, penindasan mendapat, pembelaan dan sikap altruisme rupanya dapat tumbuh dengan subur.

Modal dasar racikan karakter bangsa yang doyan kerja bakti, mangan ora mangan ngumpul, dan budaya pitutur yang mengalami “quantum leap”, tanpa melalui budaya tulis, menjadi budaya multimedia!

“Wow..!”

Kita tidak lagi bersiap-siap menyongsong era multi media dan industri kreatif. Kita sudah larut di dalamnya.

Hubungan sosial yang berubah secara radikal bagi sebagian orang, para pihak yang sadar bahwa kita adalah bagian masyarakat global yang lebih memuliakan AKAL dibanding MODAL.

Pati, 3:04:36 AM
Via 9000/4.6.0.247


Blink Then Think

Mei 22, 2009

by: Sylvia Damayanti Amril – guest blogger 

Cuplikan kalimat dari Ippho Santosa yang menginspirasi.Maksudnya?

Hal ini saya angkat dari pengalaman-pengalaman manusiawi seperti berikut ini:

Pernah merasa kehabisan ide, merasa mati gaya?

Pernah mentok saat mencari solusi?

Getol menggunakan solusi yang itu-itu juga?

Saking penuh pertimbangan jadi kesulitan mengambil keputusan cepat?

  Baca entri selengkapnya »


Boed, let’s play the blues..

Mei 18, 2009

Ia berjalan sendirian bagai Sang Musa yang menuju bukit Tursina.

Ia tak mengeluarkan jutaan pekik dan mengobarkan panji-panji heroisme. Tak berjubah, tak membawa pasukan. Namun ia membawa staf yang cukup. Sidiq, tabligh, amanah dan fathonah.

Di belakangnya segerombolan kelompok bersungut-sungut kecewa. Namun tetap mengikuti langkahnya. Jutaan jubah beriringan, milyaran doa dirapalkan, penuh gegap gempita kehidupan.

Ia tetap tenang. Senyum menghiasi bibirnya.

Karena ia, umat yang katanya paling beriman kebakaran janggut dan rumbai-rumbai. Dipilihnya ia, menjewer banyak pihak. Bahwa kekuasaan itu perkara biasa, tak perlu ngotot dan berteriak sampai segitunya.

Ia Boediono. Tak menggunakan panji merah, kuning apalagi hijau. Ia mewakili kaum rasional. Mewakili kaum yang tak terlalu emosional.

Ia terus berjalan menuju bukit Tursina. Walau tak lagi muda, namun tetap tegap berjalan penuh semangat kerja.

Kerja..kerja..dan kerja. Kuasa akan menghampiri dengan sendirinya. Oke lah Boed, let’s play the blues. Dendangkan suara-suara kehidupan tanpa perlu banyak gaya, tawa atau atas nama agama..

Selamat hari Senin sodara..
Semoga gerombolan pengais kekuasaan tak larut dalam kecewa.. :)

*) boed, let’s play the blues diambil dari notes Bah Reggae @ facebook.

Posted by 9000/4.6.0.247