Prita, maukah kamu jadi bintang iklan rumah sakit?

Desember 5, 2009

Saya cuma iseng. Bayangkan bahwa sekarang perlawanan cerdas sudah darurat dibutuhkan untuk tidak memperdalam masalah.

Prita.
New york times sudah membahasnya. Kisah perlawanannya melawan omni hospital makin ramai dan tak berkesudahan.

Ada cara terbaik, yang win-win solution.
Cari saja rumah sakit mahal yang berani menjadikan Prita bintang iklan. Bayarannya cukup Rp204juta.

Prita cukup tampil dengan mengatakan:
“Rumah sakit ini, jauh lebih baik..”

Ringkas, mengena, baik, dan tidak tendensius.

Rumah sakit yang lain itu sebaiknya rumah sakit swasta skala internasional, yang mampu dan cukup cerdas memanfaatkan momen ini.

Lantas, gerakan koin untuk keadilan?
Silahkan saja tanyakan pada penggagasnya mau diapakan.

Biasanya kaum influencer, punya banyak cara kreatif, selain menarik perhatian..
:D


SeNsOR.Cut!

November 29, 2009

“Bercinta itu mengasyikkan, Dik.. Cumbu rayu tak menentu namun mendayu-dayu membuat degup jantung kita makin menggebu. Nafsu menderu. Bahkan bagiku bercinta termasuk cabang olah raga sekaligus rekreasi yang murah meriah..”.

Apakah tulisan seperti itu juga boleh disensor?

Sensor tentu saja bisa terjadi di mana saja. Terutama, yang paling mencemaskan adalah sensor atas nama negara. Buku, film, penampilan di layar kaca, program acara, dan semua hal yang dianggap mengancam dan berbahaya boleh diintervensi. Disunat. “Cekrisss… Auh, sakit!”

Terkadang sensor itu sifatnya ringan. Hanya dipotong sebagian, atau diganti namanya. Namun, untuk sensor kelas berat, total dilarang. Film dilarang ditayangkan, buku dilarang diedarkan, program acara tidak boleh diperpanjang masa tayangnya. Kolom surat kabar dihilangkan. Seperti kolom “asal-usul” harian kompas.

Sensor muncul dari perbedaan posisi tawar. Ada yang berkuasa dan di sisi lain ada yang bermohon. “Saya berkuasa, nah kamu mau apa?”

Ada sensor lainnya yang sebetulnya juga memangkas kreatifitas. Sensor ini dinamakan “kelayakan”.

Semua tulisan di surat kabar, baik kolom maupun pendapat sudah mengalami sensor ringan yang disebut layak dan tidak layak. Ini wajar. Surat kabar punya argumentasi bahwa kualitas tulisan mempengaruhi bobot dan kredibilitas surat kabar di mata pembaca.

Begitu juga dalam dunia hiburan misalnya panggung hiburan, tayangan sinetron, album musik, dan film.

Hanya saja uji kelayakan yang tidak tepat dan cenderung berbahaya adalah atas nama “pasar”.

“Ini kurang komersil”. “Lagu kamu bakal tidak populer”. “Tulisan kamu terlalu nyastra, bikin pusing kepala”. Sensor jenis ini justru akan membelenggu para pembuat karya.

Semuanya akan diawali dengan perhitungan laba-rugi. Populer atau gagal. Rugi bandar atau membikin kita tajir melintir.
Untunglah manusia kreatif ada dan makin banyak yang berpegang teguh pada kemurnian karya. Pada kemerdekaan berpendapat. Namun, tetap dengan rasa tanggung jawab dalam karya-karyanya.

Muncul kemudian apa yang dinamakan blog, band indie, penerbit buku rumahan, forum komunitas internet, milis dengan moderasi ringan.

Dengan adanya berbagai kanal media sebagai alternatif pengejawantahan karya, maka budaya manusia akan terus berkesinambungan. Semua tercatat, semua berpendapat.

Tentu saja arus informasi yang deras, karya kreatif yang membanjir, program acara televisi yang bertubi-tubi akan membawa dampak. Manfaat atau tidak bermanfaat. Damai atau membawa kekacauan.

Tapi bukankah itu asyiknya kehidupan dunia. Terus bergerak, berkecamuk, mengalir, membludak, adil-tidak adil, jahat-baik, kreatif atau menjiplak, untung atau rugi, sementara atau abadi.

Minimal, manusia menemukan jati dirinya, baik sebagai individu, maupun saling berinteraksi dengan individu lainnya, tanpa cemas, tanpa otak, lidah atau tangan yang kelu.

Karena sensor laksana salju. Dingin-dingin empuk yang dapat mematikan! :D

Indonesia, 10:52:00 AM, Sun, Nov 29, 2009


Seperti Apakah Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum itu?

November 24, 2009

SBY dalam pidatonya, Senin malam, 23 November 2009:

“Khusus untuk menyukseskan gerakan Pemberantasan Mafia Hukum, saya sedang mempersiapkan untuk membentuk Satuan Tugas di bawah Unit Kerja Presiden yang selama 2 tahun kedepan akan saya tugasi untuk melakukan upaya Pemberantasan Mafia Hukum.

Saya sungguh mengharapkan dukungan dan kerja sama dari semua Lembaga Penegak Hukum, dari LSM dan Media Massa, serta dari masyarakat luas. Laporkan kepada Satgas Pemberantasan Mafia Hukum jika ada yang menjadi korban dari praktik-praktik Mafia Hukum itu, seperti pemerasan, jual-beli kasus, intimidasi dan sejenisnya.” ..

Mafia hukum. Seperti apakah mafia hukum itu? Bila kita cermati mafia hukum itu apakah ada? Apa yang mau diberantas? Orangnya atau perbuatannya?

Mengapa tidak dimulai dengan memberhentikan Susno Duadji, Abdul Hakim Ritonga, Bambang Hendarso Danuri, dan Hendarman Supandji, serta mengusut tuntas Anggodo cs.

APA SIKAP MASYARAKAT

Percayalah, bahwa kepercayaan masyarakat kepada SBY semakin luntur, walaupun sejatinya itu bukanlah yang diharapkan masyarakat Indonesia.

Logikanya sederhana. Rekomendasi Tim 8 yang ia bentuk sendiri pun tidak dilaksanakan dengan tegas melalui perintah langsung yang jelas kepada aparat penegak hukum di bawah dirinya untuk segera mengundurkan diri, atau melakukan penghentian kasus.

Untuk apalagi membuat “kue kekuasaan” baru di bawah kendali dirinya.

Tim 8 yang ada saja sudah mendapatkan reaksi antipati oleh Penegak hukum seperti Kepolisian dan Kejaksaan, lantas apa jadinya Satgas Mafia Hukum ini?

Menciptakan posisi baru? Mengalihkan perhatian? Berusaha menentramkan jiwa-jiwa yang haus rasa keadilan dengan menciptakan “gimmick” tak jelas lainnya?

Sudahlah..

Bereskan saja dengan runut permasalahan ini dengan menguraikan satu-persatu, sehingga kekusutan benangnya mulai dapat diketahui. Mana pangkal mana ujung.

KUE KEKUASAAN BARU

Apakah orang media, LSM, dan sebagian aparat penegak hukum diminta untuk menyertakan orang-orangnya dalam Satgas ini?

Apakah tidak cukup dengan memberikan tambahan kursi “wakil menteri”..?

Pembentukan satgas ini adalah pembungkaman secara halus terhadap gejolak masyarakat yang penuh dinamika aspirasi.

Dua tahun keberadaan mafia hukum justru ingin melemahkan kontrol masyarakat untuk berhadapan langsung dengan Presiden dalam menyuarakan keluh kesah rasa keadilan yang sudah babak belur tak berbentuk.

Sudahlah Bapak Presiden. Masyarakat sudah lelah untuk sekadar beradu argumentasi, berlomba menganalisis maksud pernyataan khas Bapak yang retoris dan sulit dimaknai dengan jelas, dan disuguhi macam-macam lembaga karbitan.

Ada baiknya dengarkan apa yang mereka keluhkan, bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap beberapa individu di lingkungan Kepolisian dan Kejaksaan sudah pada ambang batas toleransi.

Copot mereka. Jadikan pejabat-pejabat itu duta besar negara sahabat di Afrika. Minta maaf lah pada Masyarakat dan seraya dengan itu menertibkan tokoh-tokoh partai Demokrat, para sponsor dan penyumbang dana yang akan makin rakus, atas ke-GR-an mereka merasa berjasa mendanai keberhasilan pada Pemilu 2009 kemarin.

Hapus fitnah dengan bukti nyata.

Pastikan pembangunan jembatan Jawa Sumatra bukan sekadar proyek balas budi. Pastikan individu-individu pejabat nista dilengserkan dengan penuh keyakinan, bahwasanya:

“Orang terbaik Bangsa masih banyak yang dapat bicara, mengapa harus mempertahankan sumber daya mafia yang ada..?”

Jadikan kepemimpinan Anda di periode kedua, adalah masa keemasan Bangsa Indonesia menuju masyarakat berpendidikan yang unggul dan sejajar dengan warga negara dunia lainnya.

Bukan saatnya lagi kita bermain tikus dan kucing, cicak dan buaya, apalagi seakan-akan ada fitnah yang ingin mencelakakan Anda.

Semuanya semata-mata karena rasa cinta kami pada Tanah Tumpah Darah Indonesia!

Maka, urungkan niat untuk membentuk tim satgas “mafia hukum”. Karena sesungguhnya, demokrasi mungkin memang harus meminta biaya yang mahal. Namun, ketegaran jiwa, sikap ksatria, akan dicatatat sepanjang sejarah peradaban manusia.

Sekali lagi: Minta maaflah kepada rakyat, sehingga apa pun hasilnya nanti, perasaan dendam, tidak suka dan dengki perlahan-lahan luruh dalam tidur malam dengan mimpi-mimpi yang begitu indah, tanpa perlu basah..

Satgas?

Lebih baik dananya dihabiskan untuk kesejahteraan masyarakat luar Pulau Jawa.
:P

Terima kasih :)

Indonesia, 12:31:00 AM, Tue, Nov 24, 2009


Program #cuih Nasional

November 23, 2009

Ketika ketidakberdayaan masyarakat dalam memahami (lagi-lagi) kesantunan retorika SBY, maka yang menjadi korban adalah televisi.

Entah berapa cc air liur dan ludah menempel di layar kaca, hanya gara-gara gagal menangkap maksud pernyataan SBY yang panjangnya melebihi Proyek Daendels dalam kerja rodi Anyer-Panarukan.

#cuih !

Adalah suatu bentuk kekecewaan yang mendalam. Hanya empat huruf.

Sebenarnya banyak cara agar SBY tidak terbelenggu oleh berbagai kepentingan dengan mengambangkan pernyataannya yang bukan main ular naga panjangnya. Tidak kepalang! Sayang seribu sayang bila justru gagal memberikan pernyataan yang jelas, akurat dan menyelesaikan masalah.

Saat ini, bila Anda pengguna twitter ( http://twitter.com/ ), maka bisa Anda cari kumpulan pernyataan masyarakat twitter Indonesia atas ketidakjelasan sikap Presiden dalam kasus Bank Century dan Kasus Bibit-Chandra. Kedua-duanya dapat disingkat “BC” dengan kata kunci #cuih.

Masyarakat yang banal. Namun, itu adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa “kepastian” perlu adanya dan posisi Pemimpin Negara -mau tidak mau- seharusnya memenuhi rasa keadilan masyarakat dengan berpikir, bersikap, dan bertindak tegas.

Tapi apa boleh buat. Nasib kita untuk memiliki Pemimpin yang “selalu normatif”. Pemimpin yang selalu berusaha berada di “jalan tengah”.

Dan perkenankan kami, warga Republik Indonesia menanggapinya dengan satu kata.

“Cuih..!”

Indonesia, Mon, Nov 23, 2009 , 10:01:45 PM
****************************
Rio Wardhanu
Y!M : wardhanu@yahoo.com
gTalk : kopdang@gmail.com
****************************


Pernyataan SBY Senin Malam 23 November 2009

November 23, 2009

Baru saja SBY melakukan penjelasan mengenai perkembangan bangsa akhir-akhir ini. Dapat disampaikan beberapa poin penting yaitu terkait: 1. Kasus Bank Century
2. Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto

Kedua isu tersebut mendominasi.
Berbagai desas-desus, rumor yang belum tentu mengandung kebenaran?

Sebagai Kepala Negara, sengaja untuk menahan diri menyangkut Bank Century. Alasannya adalah, kasus:
1. Bank Century menunggu BPK selesai melakukan audit atas permintaan DPR. 2. Menyangkut kasus hukum, dipandang tepat setelah mendapat rekomendasi Tim-8.

Untuk diketahui, tanggal 2 November 2009, karena silang pendapat maka dibentuk tim independen.

Tanggal 17 November 2009, telah digodog. Maka malam hari secara resmi disampaikan hal-hal sebagai berikut:

Konstitusi, hukum, undang-undang yang berlaku tetap harus dikedepankan.

Opsi atas keputusan harus bebas dari kepentingan pribadi, jernih dan tidak mendapat tekanan dari siapa pun.

1. Bank Century: hampir di seluruh dunia mengalami goncangan. Bukan dalam keadaan normal. Mencegah krisis perbankan bahkan perekonomian.
- sejauh ini pengambilan keputusan kepada Bank Century dinilai tepat walau menggelontorkan Rp6,7 Trilyun.

- Belum ada benturan kepentingan pribadi dan Menkeu dan BI yang memiliki kewenangan.

-Perlu diketahui mengenai Rp6,7trilyun apakah ada yang bocor.

- dan tegasnya ada “fitnah” untuk dana kampanye Partai Demokrat.

- Perlu dikaji dana dan asset yang masih dapat diambil dan dikembalikan ke Negara.

Dari hasil investigasi BPK yang disampaikan SORE tadi. Menkeu dan Bank Indonesia akan dimintai pendapat dan dipelajari dengan seksama.

Hasil Survey adalah masyarakat Indonesia terbagi menjadi beberapa kubu dengan pendirian yang berbeda.

Solusi terbaik untuk kasus ini: Atas rekomendasi Tim 8, maka beberapa pakar hukum telah memberikan saran selama 5 hari dipelajari.

Forum yang tepat adalah tetap memproses di Pengadilan. Namun, ketidakpercayaan yang besar kepada Kapolri dan Kejaksaan dan beberapa faktor seperti pendapat umum, keutuhan umum, azas manfaat dan perbedaan hakiki dalam masyarakat, maka diperoleh fakta terdapat sejumlah permasalahan di lembaga Polri, KPK, dan Jaksa.

Solusi dan opsi lain adalah: Kepolisian dan Kejaksaan menggunakan azas keadilan namun bukan melalui pengadilan agar lebih manfaat daripada mudharat.

Saya tidak akan intervensi. Proses penyidikan milik Kepolisian. Penuntutan milik Kejaksaan dan azas oportunitas, maka intruksi untuk perbaikan, pembenahan polri, jaksa dan kpk.

Demikian.
:P
****************************
Rio Wardhanu
Y!M : wardhanu@yahoo.com
gTalk : kopdang@gmail.com
****************************


Apakah Kita Cinta Negeri Ini?

November 21, 2009

Semua ada maqamnya. Ada tempatnya. Positioning, kata orang bisnis.

Tapi ada yang lebih akurat untuk hal ini: proporsional dan kontekstual.

Bila semua pihak saling berlomba-lomba lari mencapai garis finish, lantas tak ada penonton dan tak ada wasit, maka namanya bukan lagi lomba..melainkan lari dari kenyataan.

Sekarang, bahkan semua beramai-ramai mempertanyakan sikap Presiden Republik Indonesia. Entah kenapa semenjak Presiden RI ketiga BJ Habibie, dilanjutkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid, kemudian Presiden Megawati Soekarno Putri dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kewibawaan Presiden tak sehebat zaman Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto.

Bahkan Presiden Abdurrahman Wahid yang biasa disebut Gus Dur digantikan Ibu Megawati lewat pemakzulan. Impeachment.

Sedih. Prihatin. Bangsa yang besar dan akan terus besar terancam dikerdilkan.
Energi dihabiskan untuk terus saling menyalahkan. Saling serang. Saling tidak percaya. Saling curiga.

Malaysia, Singapura dan negeri tetangga lainnya sudah melaju penuh akselerasi menuju Negara Gemah ripah loh jinawi. Sedangkan Indonesia berputar-putar seperti berada di labirin tak berujung.

Apakah ini yang dinamakan ongkos demokrasi?

Boleh saja kita menaruh curiga jangan-jangan ini adalah pengkerdilan yang disengaja. Grand design yang sistematis meluluhlantakkan sendi-sendi keguyuban bangsa. Negeri Gotong royong yang tinggal sejarah. Entah berpijak pada prinsip apa.

Saling mengejek ideologi, saling menuduh kepercayaan yang dianut, proses pri kehidupan yang makin lama-makin mereduksi kekayaan moral, bathin terlebih kekayaan alam dan sumber daya manusia Indonesia.

Bagaimana mau jadi bangsa unggul jika tak ada jiwa kebersamaan. Indonesia sudah bukan lagi Indonesia yang bersatu. Melainkan Indonesia tak bertuan yang menjadi gugusan pulau tempat tawuran. Namun, di sisi lain, negeri asing berlomba-lomba menjarah kekayaan negeri ini dan menghabiskan kantong rakyat dengan pola konsumsi yang tak tahu diri.

Bukan zamannya lagi kita terus menerus berdiam diri untuk dikerdilkan. Bangsa ini bangsa yang besar, Kawan..

Semoga, kita semakin paham di mana kita berdiri. Semakin sadar tantangan masa depan yang makin menantang, bukan lagi urusan perseorangan, kelompok tertentu, umat tertentu. Masalah kita, adalah masalah bersama. Masalah negeri nyiur melambai. Negeri subur makmur. Negeri yang terlampau lama tertidur.

Kawan, kita bangsa yang Merdeka. Bukan bangsa para koruptor. Bukan bangsa kuli. Bukan bangsa kaum fakir. Bukan bangsa terjajah. Kita adalah ANAK INDONESIA, yang memiliki kewajiban melahirkan anak-cucu penuh martabat.

Bangsa besar yang mampu bersatu, mampu menegakkan keadilan tanpa perlu mengorbankan pri kemanusiaan yang adil dan beradab.

Kita cinta diri sendiri? Cinta keluarga sendiri? Cinta kelompok sendiri? Cinta partai sendiri? Cinta umat agama sendiri? Semoga tidak!
Karena kita Cinta tumpah darah Indonesia.

Apakah Anda cinta negeri ini?

INDONESIA,
4:21:48 PM Sat, Nov 21, 2009


Pahlawan Sosial (Media) Budaya

November 9, 2009

 

Romo_Mangun_by_lasigared

Sudah saatnya kita luruskan arti pahlawan. Bukan lagi kaum ksatria pembela negeri yang memanggul senjata, berlumuran darah, dan berbau milterisme. Ya, memang bukan berarti jajaran “pahlawan” Indonesia melulu dipersepsikan dengan kaum militer, namun setidaknya dominasi dan yang terngiang di benak kita arti kata pahlawan adalah pria berani mati yang bertempur dan menyusun strategi dalam perlawanan fisik.

Pahlawan lahir juga dari kaum sipil. Diplomasi tiada henti, mendidik anak negeri, pemrakarsa cipta rasa karsa dalam budaya yang mengisi kemerdekaan, juga dapat dikatakan pahlawan. Baca entri selengkapnya »


Revolusi Sosial Sesungguhnya

November 5, 2009

Orang Eksakta (bahasa jadul ortu kita) sudah punya karya besar (opus magnum) sehingga kemajuan ilmu pasti mengalami lompatan besar (quantum leap), seperti yang dilakukan oleh Galilei, Newton dan Einstein. Lantas bagaimana dengan Orang sosial?

Baca entri selengkapnya »


Prihatin

November 4, 2009

Ada yang bilang: being corrupt is not just bad for the soul, it also harms the economy.

Melihat kenyataan yang terjadi, timbul beberapa pertanyaan:  “Apakah kaum pejabat (negara) di negeri ini selalu bisa dibeli?” “Apakah warga peranakan atau etnis tionghoa selalu bermain suap-suapan..?” Ada apakah gerangan? Dan akhirnya kita terjebak pada beberapa stereotip:

  1. Etnis Tionghoa adalah pelobi ulung yg etika bisnisnya selalu menggunakan “uang”
  2. pejabat selalau mudah untuk disuap.
  3. berurusan dengan birokrasi itu mudah sekaligus sulit. Mudah bagi yang rela bermain uang, dan sulit bagi yang enggan bermain uang.

Adalah keprihatinan kita semua, bahwa integritas sudah sangat sulit ditemui di kalangan orang yang berwenang. Tentu saja ini tidak hanya berlaku bagi penegak hukum, namun juga bagi kaum birokrat di luar polisi, dan jaksa.

Semoga saja, stereotip yang saya sampaikan di atas, adalah 100% salah..


Hikmah Cicak Buaya Dalam Iklim Keterbukaan Informasi

November 3, 2009

Pada tingkatan tertentu, sepertinya kita memang harus berbagi kesusahan. Dapat dibayangkan bila saja Bibit dan Chandra berjalan sendirian, atau Susno berkelahi tanpa teman, mungkin gak terlalu heboh dan tidak ada banyak cerita yang dapat kita ambil hikmahnya.

1. Rahasia sangat dekat dengan kebohongan, karena kerahasiaan akan memberi kesempatan pada ketidakjujuran. Berbeda dengan berksikap transparan, semua pihak tahu, maka bila ada kebohongan akan terkuak dengan cepat. Birokrasi harus terus berusaha bersikap transparan. Bukan materi atau substansi yang memang perlu ada rahasia, tapi pada “proses”.

2. Polisi perlu terus didukung masyarakat. Kekuasaan tanpa dukungan rakyat, sama saja seperti cebok pake tisu. Gak marem dan terus-menerus diikuti perasaan tidak nyaman.

3. Media makin mengambil peranan sebagai kekuatan baru. Apalagi dengan tingkat peradaban yang makin maju dan kemajuan cara berkomunikasi, dalam sekejab informasi tersebar tanpa dapat dikendalikan secara penuh. Hidup new media!

4. Opini publik makin gampang untuk dipancing, namun ya itu tadi, sulit untuk dikendalikan. Kalau untuk beberapa waktu, pengelabuan wacana hangat dengan menghembuskan berita baru yang lebih heboh dan menarik perhatian memang manjur, namun ingat. Nuarani masih ada di sini, Bung!

5. Hikmah terbesar adalah, penguasa tak lagi menganggap remeh masyarakat, terutama kelas menengah yang bekerja, dengan asumsi terdekat lebih berpendidikan, lebih kritis dan terpenting: berani mengambil sikap. Apakah kita perlu bicara substansi?

Maka coba tim pencari fakta Bibit-Chandra dibubarkan saja, dan ganti dengan Tim-tim pencari fakta berikut ini:

1. Kasus Century

2. Kasus Dana Yayasan Kepedulian apa gituh. (ane lupa) yang dewan pembina isinya terdiri dari 4 menteri yang sekarang bercokol.

3. Jangan coba berani-berani BIN dikepalai Polisi. Bakal runyam mulu ntar.

4. Mereview kasus Bank Indonesia dengan melibatkan besan.

Apalagi ya…?


Tugas Legal Officer

November 1, 2009

Sodara Agus bertanya pada saya mengenai: Tugas Legal Officer (LO).

Saya asumsikan, bahwa LO di sini pada perusahaan (swasta).

Berdasarkan struktur organisasi.

Bisa di bawah Legal Manager yang tergabung dalam Corporate Secretary. Ada juga LO yang berada di bawah bagian SDM, dan tugasnya akan mendekati LO sekaligus General Affair.

Yang bagus ih kalau perusahaannya punya divisi legal tersendiri.

Dilihat dari tugasnya:

1. Mengurusi Badan Hukum Korporasi/ Perusahaan:

- Mengurusi urusan RUPS, dan perubahan Anggaran dasar. Baca entri selengkapnya »


Kita Cuekin Aja..!

Oktober 31, 2009

Ngapain ikut2an ngurusin huruhara Bapak2 tua bangkotan bau tanah yg isinya cuma bisa berpikir sekitar udel radius 20cm. Malu!

Gak perlu ane ungkit lg urusan itu. Mending gak usah baca koran, nongton tipi, klo isinya dunia reptil mulu. Malu!

Gak malu sama adik, ponakan, anak bahkan cucu yg trus meretas hari depan yg makin mnantang dan pnuh gairah? Cari kerjaan susah, mau usaha modal cekak, pengelola negeri yg harusnya mikirin kita malah sibuk timpuk2an, tawuran kepentingan dan ngurusin napsu sekitar udel radius 20cm tadi..!

Bubarin aja Kapeka, Pulisyi, Jeksa, dan pengusaha media yg lagi getol2 tawuran! Eh gak mungkin ya? Ya sudah semuanya turun saja.. Ganti dengan yg baru, yg ganteng, gak doyan kuasa, apalagi sekadar urusan duit semata!

Sampah semua!

Kalau urusan duit, urusan jabatan, urusan kekuasaan dan lingkaran setan trus-menerus dipertontonkan, itu namanya be’ol!

Taik kucring!

Uda deh, kumpul di lapangan sofbol senayan, buka baju, trus tarung di situ. Gak usah pake senjata, gak usah bawa anak buah, gak usah bawa kaki tangan pengusaha, gak usah bawa nama atasan, gak usah bawa-bawa nama lembaga!

Sana baku hantam, sampe pada babak belur, sampe semuanya modar! Toh besok ada yg ganti.. Lebih cepet modar lebih baik!

Jangan coba bawa dan cari dukungan rakyat. Mereka sibuk cari makan, mereka sibuk cari duit buat mbayar uang sekolah, bayar listrik byar pet, nabung buat pengsiyun, cari duit buat kawin, cari bahan skripsi, toh semua terus berjalan dengan dan tanpa kehadiran bapak2 ndeso..!

Yang ketawa banyak! Negeri tetangga pada keprok-keprok tepuk tangan liat negeri indah ini babak belur perang sodara.. Energi, perhatian, mental, waktu semua terbuang percuma utk urusan perkelahian model kampung kayak gini!

Cuekin aja!

Biar yg doyan pacaran gak usah bahas negara sampe kalian putus atau malah jadian. Yg doyan ngeblog mending ngomongin gadget, twitter, dan sebangsanya. Yang lagi nyari kerja mending konsen ke sana. Wartawan gak usah ngoyo ngebuka dan crita urusan kpk, pulisi dan jaksa serta pengusaha hitam yg tawuran gak tau rebutan apa! Ibu rumah tangga mending belanja hemat saja, gak usah ngidam beli tas manohara, atau lebih baik ngomongin cici paramida atau pacar baru moreno, si Tasya yg jelita.

Malu! Kita punya orang tua penyelenggara negara yang ribut mulu!
Singapura dan Malaysia sibuk bicara kemakmuran rakyatnya, kita masih teler berebut periuk nasi, duit, kekuasaan sendiri-sendiri.

Taik kebo! Kebo bule’..bule’ depok..!
Uda deh, kalo trus-trusan begini Indonesia bakalan melahirkan fidel castro muda, moamar kadafi muda, yg dengan terpaksa akan mengembalikan khittah arti sebuah negara. Walaupun jelas inkonstitusional dan legitimasi penuh keragu-raguan!

Tapi,
Daripada urusan gini trus-menerus menghiasi surat kabar, tipi, sampe sosial media, maka akan tiba saatnya..
Pada pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, yang dikembalikan pada rakyat yang berdaulah, berkeadilan dan dilindungi oleh Tuhan maha esa. Gak diisi propaganda semu! Keadilan semu! Jabatan semu! Pemimpin semu!

Kita pengen sesuatu yg sunyata. Riil. Ideologi pancasila yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari..

Kita pingin yang miskin jadi kaya. Yang kaya tetep kaya. semua rakyat jadi kaya. Kaya materi, kaya idea, kaya akan jiwa.

biarlah yg bertengkar urusan sadap-menyadap untuk shut-up! Yg bertengkar urusan kapeka untuk berhenti bicara, jangan trus2an cari muka! Kita muak-semuak-muaknya. Kita sudah bosen sebosen-bosennya.

Kalo pemuda Indonesia uda sumpah, jangankan sgelintir bapak-bapak tua, orang belanda, jepang, seluruh indonesia
Bahkan seluruh semesta alam raya akan takzim dan segenap jiwa raga akan terkesiap! Bahwa semuanya harus kembali pada “satu”.

Satu bangsa,
Satu nusa,
Satu negeri,
Satu bahasa,
Satu nasib,

Demi Indonesia!
Demi jiwa-jiwa merdeka yang memanusiakan manusia apa adanya. Demi kehidupan lebih baik, demi harkat martabat bangsa yang dijunjung tinggi. Atas nama Tuhan, atas nama Rasulullah Muhammad SAW untuk memberikan kasih sayang pada seluruh alam semesta!

Hey kalian bapak-bapak Diam lah, bekerja sebaik-baiknya! Atau bi..na..sa..!

Muali sekarang, kita cuekin aja.. :D

Jakarta, 12:15:19 PM Sat, Oct 31, 2009 .

Sent from my BlogBerry®
powered by blog kopidangdut
http://kopidangdut.wordpress.com/
~dari urusan serius seperti dangdut hingga hal remeh sekadar politik jenaka~


Summmpe’ Lllo?!

Oktober 26, 2009

Sumpah pemuda. Dari dulu rupanya anak muda doyan sumpah. Bedanya dulu sumpah altruistik sedangkan jaman sekarang narsistik. :D

Lantas untuk apakah sumpah itu? Meyakinkan diri sendiri? Ucap. Ikrar. Janji. Dengan keyakinan dan kesadaran menerima konsekuensi jika melanggarnya? Bila betul begitu Hebat!

Bolehlah kita mengaku satu tanah air. Mengaku bahwa bahasa kita sama. Tapi bila nasib berlainan bagaimana?

Satu kerja enak, yang lain, misalnya, masih pengangguran. Lalu tercipta jarak. Lantas berbeda komunitas. Beda pertemanan. Beda penghasilan. Apakah kita masih “satu..?”.

Sekarang tanpa disadari pembagian klas makin kentara berdasarkan kemampuan ekonomi. Lihatlah yang paling kentara: tikes pesawat, pengajuan jenis kartu kredit, bahkan hingga lingkungan akedemis. Lantas, yang satu itu apa, bila saya naik eksekutif, dan kamu naik ekonomi.

Ya. Tentu saja kita akan beralasan atau kamu berkilah bahwa itu bukan contoh yang tepat. Bahwa urusan nasib adalah urusan pribadi, tergantung perjuangan dan garis tangan. Baca entri selengkapnya »


Apakah Memang Yang Bernama “Fauzi” Hobby Memelihara Kumis

Oktober 22, 2009

Kumis satu adalah Menteri Dalam negeri yang baru: Sdr. Gamawan Fauzi. Sedangkan Kumis dua adalah Sdr.Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta.

Berita-GamawanFauzi

 fauzi-bowo


Aspirasi Mister Rigen dan Tolo-Tolo Tentang Kenduri Narablog 2009

Oktober 20, 2009

Jam lima sore. Saya mau pulang. Sudah ndak kerasan sama kantor. Jari tangan saya sodorkan, absen sok canggih, padahal kembali ke jaman baheula. Dulu tanda tangan, kok sekarang kembali ke tjap djempol, malah tidak cuma jempol, tapi empat jari lainnya.  Lantas saya hendak keluar lobby, tiba-tiba..:

“Om Kopdang!”..

Huih, siapa ya yang manggil saya saat senja mulai temaram.

“Om Kopdang..” Suara panggilan yang makin lantang.

Lha dalah..! gawat. Ada anak kecil berlari menuju pintu keluar di mana saya berdiri. Saya lupa-lupa ingat. Tapi..jangan-jangan..Saya clingak-clinguk, jangan-jangan ada orang tua depresi melepas anaknya di saat srengenge mulai raib.

Gawat, saya tiba-tiba ingat. Anak cungkring dengan dandanan rambut kopral, belum genap 6 tahun, gayane kemaki, siapa lagi kalau bukan Tolo-Tolo, anak Mister Rigen. Ya benar! Tak salah lagi: Tolo-tolo!

“Hoy, Tolo..mana Bapakmu je’..ngapain ada di sini..?”

Belum sempat ia menjawab, sudah sepantasnya saya tak kaget lagi, saya disapa pria sok elegan yang berbaju batik kelas 60ribu di Pasar Klewer.

“Senja yang Indah, Mas Kopdang…”

Hahahaha..saya tertawa dalam hati, rupanya Mister Rigen sudah ada di depan saya. Mau bagaimana lagi, bila anak-Bapak menyapa maka saya urungkan niat untuk kembali ke rumah dan mau tidak mau meladeni mereka berdua.

“Ayok naik, ngobrol di atas saja..nanti saya buatkan teh..”

“Tidak perlu Mas Kopdang. Saya hanya mampir sebentar. Habis melihat-lihat kantor Mas yang ciamik ini. Megahnya hampir sama dengan Balairung Gama.”

Kampret, enak saja..rupanya Mister Rigen menyama-nyamakan gedung kuno mirip Eropah yang ada di Jogja itu dengan gedung kantor saya yang dibuat dari pualam dan gading gajah Afrika, yang dibuat sewangun-wangunnya sebagai simbol kapitalisme global.

“Ah, Bapak Rigen bisa saja…”

“Maaf,.. Mister..panggil saya Mister..”

Hoeeek! Gak salah Ki Ageng Kayam bilang kalau Mister Rigen ini gayane wis gak tertolong dengan upaya apapun. Aristokrat gaya Kabinet Bersatu. Persis persahabatan ala Sindetosca.. Kepongpong. Bolong. Tapi nggaya tur nggilani. Tapi saya bersabar.

“Baiklah Mister Rigen…” Hahahaha..Mister mbatukmu!

“Begini Mas Kopdang. Saya di sini hendak menyampaikan sesuatu. Kebetulan Tolo-Tolo suka baca blog Mas… Jadi saya sekalian saja bertemu sama Mas setelah keliling Monas dan menjelajahi Kebon Sirih ini. “

Walah, ada apa ini. Batinku tiba-tiba tak enak.

Baca entri selengkapnya »


QA Tanya Jawab Seputar Lowongan Bank Indonesia 2009 (PCPM BI)

Oktober 18, 2009

Pertanyaan Seputar Lowongan Bank Indonesia (PCPM XXIX)

Apakah ada pertanyaan yang mengganjal, bingung, masih  penasaran? ada baiknya simak beberapa tanya dan jawab berikut ini.

:D

Apakah perlu sertifikat TOEFL?

Jelas perlu, tapi tidak mutlak Karena bagi Anda yang belum memiliki nilai tersebut, dapat mengikuti test TOEFL yang akan diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Gratis!

Apakah Jurusan bidang studi yang tertera adalah mutlak, sehingga bagi saya yang bukan lulusan dari bidang tertentu sebagaimana tercantum tidak dapat mengikuti tes?

Mutlak? Apakah yang mutlak di dunia ini… Coba saja dahulu, dengan mengisi formulir di http://rekrutmenbi.com/ bila ternyata jurusan yang anda miliki tidak ada tak perlu berkecil hati.

Kakak saya sudah bekerja di BI, apakah saya bisa daftar?

Kakak kandung? Wah sayang sekali, kalau kakak ipar masih boleh. Kalau kamu nekat, paling walaupun kamu sudah masuk dan berhasil lolos, kamumalah bakal dieliminasi. Kenapa harus membuang energi..?

Saya punya penyakit kadas, panu, kurap. Apakah boleh daftar? Baca entri selengkapnya »


Lowongan Bank Indonesia 2009

Oktober 15, 2009

logo_biBelum tentu ada, tapi untuk memastikan, coba baca harian KOMPAS tanggal 17 Oktober 2009 ya..

;)

Update terbaru: 16 Oktober 2009 15.40 WIB

BANK INDONESIA membuka kesempatan kepada Putra/Putri terbaik Indonesia untuk mengikuti Seleksi Penerimaan Calon Pegawai melalui PCPM XXIX dengan proses e-Recruitment (Aplikasi online tanggal 17 s/d 21 Oktober 2009 melalui http://www.rekrutmenbi.com/

P E R S Y A R A T A N :

Warga Negara Indonesia Laki-laki/ Perempuan;

Pendidikan minimal lulusan Strata 1 (S1); dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) baik untuk S1 maupun S2 minimal 3.00 (dari skala 4.00), yang lebih diutamakan dari bidang keilmuan sebagai berikut:

Ekonomi

Manajemen

Hukum

Teknik (Industri, Informatika/ Komputer)

Sosial Ekonomi Pertanian

MIPA (Matematika/ Statistika)

Usia maksimum Per tanggal 1 Oktober 2009:

28 tahun untuk jenjang pendidikan Strata 1 (S1).

31 tahun untuk jenjang pendidikan Strata 2 (S2).

Memiliki kemampuan berbahasa Inggris, ditunjukkan dengan sertifikat ITP TOEFL score minimal 500, atau IELTS minimal 5,5 yang masih berlaku sampai dengan tanggal 1 Oktober 2009. Bagi yang tidak memiliki sertifikat, harus mengikuti tes kemampuan bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia;

Tidak mempunyai Saudara Kandung/ Suami/ Istri yang bekerja sebagai pegawai atau calon pegawai di Bank Indonesia;

Bersedia menjalani ikatan dinas dan atau bersedia melepaskan ikatan dinas dari institusi lain;

Bersedia tidak hamil selama menjalani program pendidikan;

Bersedia ditempatkan di seluruh kantor Bank Indonesia.

Informasi ini telah dipublikasikan melalui Info Terbaru pada website Bank Indonesia dan akan dipublikasikan juga di harian Kompas dan Media Indonesia edisi Sabtu, 17 Oktober 2009.

bonus: Baca entri selengkapnya »


Ayat-Ayat Tembakau

Oktober 15, 2009

20080408230904Apa sih yang aneh dari negeri ini? Tidak ada bukan. Semua serba normal. Semua serba cuek, semua serba bebal. Tentunya termasuk saya, dan mungkin juga karena termasuk saya turut berperan di situ. Dalam keanehan, dalam kecuekkan, dan dalam kebebalan.

Jaman dulu, sebagian muslim dunia mengecam Salman Rushdie gara-gara bukunya yang diterbitkan: “Ayat-ayat Setan”. Pria kelahiran India ini dikecam oleh hampir seluruh warga Iran, karena Pemimpin Iran mengecam dirinya.

Bukankah pemimpin adalah perwujudan seluruh rakyatnya?

Kalau jawabannya setuju, maka berarti kita termasuk “tukang tilep! Juga bisa dibilang tukang catut”. Lho kok bisa? Baca entri selengkapnya »