Ogut Benjut Kopidangdut

Mei 11, 2008

Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi - bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda?” – Korintus 14

Baru tahu ogut kalau kelenteng itu namanya sampookong (*), bukan sibokong. Ogut pikir- malah dalam keadaan ragu-ragu- disebut kelenteng kopingho, sebagai tempat bersandarnya Bung Cheng Hoo si laksamana gagah perwira yang mirip Jet Lee dan sedikit semburat mata Andy Lau. Haiyahhh….

Rupanya mengingat hal dengan serba tanggung malah membahayakan kawan maupun lawan. Untung saja kelenteng kopingho tidak ada. Cilaka tigabelas bila ternyata tukang becak yang ogut tumpangi mengantarkan dengan sungguh-sungguh ke kelenteng kopingho dan ogut mencari-cari patung Bung Cheng Hoo hingga bego, melongo dan menjadi koplo.

Untungnya lagi ini cuma seputaran Semarang, yang andaipun ogut kehabisan ongkos bisa koprol berpuluh-puluh kali untuk kembali ke hotel. Toh simpang lima ogut gak mungkin salah sasaran, kecuali tiba-tiba kepincut sama mbakyu yang ayu-ayu di situ, menjual teh celup, teh poci dan susu segar. Maknyussss!

Apalagi ogut bukan sedang bertamasya di belantara Brazilia, di kota Rio deJaneiro. Bisa-bisa ogut minta diantar tukang ojek, dalam keadaan jalanan yang becek ke patung terbesar around the world, patung sang Lesus (**)! Karena ternyata yang ada adalah patung Yesus Kristus, bukan pelawak Almarhum itu yang sudah leyeh-leyeh di alam merkayangan sana.

Jadi sodara-sodara, jangan sampai ingatan sodara serba tanggung. Pokoknya yang tanggung-tanggung itu berbahaya, tidak enak dan makin penasaran. Sungguh!

Pulang dari kelenteng, seharusnya ogut langsung pergi beli lumpia, titipan temen sekantor yang gak rela rekan sejawat bisa plesiran ke tanah Jawa. Mau dibilang apa terserah, tapi karena badan pegel-pegel, maka lebih pas rasanya langsung ke hotel, selonjoran dan menikmati udara dingin dalam kamar. Uahhhh… Baca entri selengkapnya »


Suami Kopidangdut

Mei 4, 2008

Jangan menangis suamiku, kamu tetap laki-lakiku…

Ayo kita jalan saja sore ini, kemanapun kamu mau. Kita bisa pesan Silverbird, seperti biasanya, menuju Papih Mega-Meutia.

Lalu kita terbang menuju Kaitak, Changi, atau cukup Ngurah Rai-Banda Neira. Bahkan bila kamu mau Schipoll pun bisa kita rencanakan segera. Paspor dan lainnya biar Papih yang urus.

Lalu kita bisa bermalam sejenak di Luzern, St. Moritz, atau Santorini..Yah, jauh sedikit tak apalah…asal kamu tak meneteskan air mata lagi…

Suamiku, jangan bersedih…, dekap aku seperti biasanya aku mendekapmu - dalam gemerlap hidup..namun tertatih dalam kesempurnaan- yang sungguh aku bosan dengannya.

Percayalah, kamu adalah pria hebat. Bertanggung jawab. Baik. Pemaaf. Pekerja keras. Ayah yang keren, dan perhatian… Namun itu rasanya terlalu berlebih bagiku.

Entah apa gerangan yang membuatku tak ingin kesempurnaan lagi..

Suamiku…Ingatkah pada dedaunan marple coklat yang gugur mencium tanah basah di Vancouver tahun lalu? Ketika itu aku memintamu segera untuk kembali ke penginapan… Tanpa banyak tanya kamu menurutiku…

Padahal ku tahu pasti betapa cintamu pada nuansa senja itu. Rerimbunan yang menyerah pada waktu, menari menuju Tuhan. Ketika bau tanah masih nyungsep, bercampur aroma croissant yang kugenggam. Langit yang kemerahan dan hanya ada kita berdua di tepian danau impianmu…dan Leicamu yang terpasang sempurna belum panas kamu genggam..Tahukah kamu, apa yang ku mau?

Baca entri selengkapnya »


Nasionalisasi Kopidangdut

April 30, 2008

Nasionalisasi. Mantra putus asa bangsa tak berdaya.

 

Nasionalisasi ExxonMobil

Nasionalisasi Chevron

Nasionalisasi Royal Dutch Shell

Keuntungannya untuk Subsidi BBM

 

Saya melihat tulisan itu pada potongan kardus yang dijadikan alas poster. Pada kertas yang ditempel pada jerigen kosong yang terikat pada karet. Situasi yang menggambarkan sebuah unjuk rasa. Kesemuanya itu saya lihat pada halaman pertama Koran Jakarta (yang hingga 28 Juli masih Rp1000 itu).

  Baca entri selengkapnya »


Tari Pusar Kopidangdut

April 29, 2008

Maka, mengapa Sadie, sang penari perut asal Winconsin itu jauh lebih baik dari pada penari yang lahir dan besar di Timur Tengah? Tarian lenggak-lenggok yang ditiru di Indonesia namun dicekal di mana-mana.

 

Sadie emang jagonya. Itu yang bikin aku terus latihan belly dance sepulang ngantor…masalah artis yang dicekal karena liukannya, ah, itu tiruan yang aneh, Kop. Yang asli gak gitu. Ada hal prinsip yang kudu dijaga. Bila bagian atas tubuh kita gerak, maka bawah harus “still”. Diam pada porosnya. Begitu pun bila bawah yang sedang main, maka atas harus sabar untuk diam. Inilah prinsip yang harus dijaga..”

 

Telpon yang tadi kuangkat sudah pada tahap liukan senja. Entah mengapa, aku dan dirinya tiba pada pembicaraan mengenai liukan tubuh. Obrolan seperti apa sih yang pantas di kala senja sedang meradang. Menciptakan romantisme dadakan dan hati yang rawan.

Baca entri selengkapnya »


Obat Favorit Kopidangdut: Salep Kulit Cap 88

April 27, 2008

Jaman dulu, ketika sinetron belum merajalela dan radio masih duduk terhormat di singgasana hiburan warga, iklan yang sering muncul di antara sandiwara radio dan berita RRI Nusantara adalah salep kulit cap 88, yang berkoar-koar dapat mengatasi panu, kadas dan kurap Ente’…

Baca entri selengkapnya »


Keluarga Kopidangdut

April 18, 2008

William Forrester, peraih Pulitzer Prize dalam film Finding Forrester yang diperankan Sean Connery, selalu mengenakan kaus kaki terbalik. Alasannya: kesalahan mendasar pembuat kaus kaki adalah jahitannya yang di dalam, membuat kaki saya terasa sakit..”.

Ya. Kaus kaki indah di luar, semrawut di dalam. Seperti buah kedondong.

Baca entri selengkapnya »


Jin Beringin Kopidangdut

April 17, 2008

Dalam momen hening,… suasana meditatif,… djroning alam palimunan ing pasaban saben sepi,… Goenawan Mohamad bertutur bahwa dalam suasana solitude itulah Ratu Kidul menghampiri sang pertapa, Panembahan Senapati.

 

Karena, dalam keadaan itu empati berbicara.

 

Begitu pun mungkin yang sedang dialami seorang Sri Baginda Burhanuddin Abdullah beberapa hari ini di tahanan Mabes Polri. Jika perlu sembari menyalakan cerutu, dirinya bertatap wicara dengan sang Khalik :

“Apalagi gerangan yang Engkau anugerahkan kepada hambaMu ini?”

 

Baca entri selengkapnya »


Demokrasi Kopidangdut

April 16, 2008

dari warna-warni dot net

 

Demokrasi itu “menopause masyarakat barat”. Sebuah idea yang ditawarkan selepas revolusi. Sebuah istilah yang dinasbihkan Baudrillard.

 

Lalu apakah kita mau menjalankan masa-masa menopause itu? Gairah yang hilang dimakan usia?

Baca entri selengkapnya »