Selalu dengan penuh rasa syukur,
Ketika terbaca berbagai tanggapan, sekilas rasa kesombongan berpotensi hadir dalam benak dan sebagai suatu pembelaan itu manusiawi sekali adanya, namun juga menjadi beban berat karena seharusnya kita semua selalu ‘walk the talk’ agar kita bisa berbiasa diri menjadi orang yang berintegritas.
Terima kasih atas tanggapannya.
bukankah setelah berpikir kita harus berterima kasih? Setelah ‘think’ kita wajib ‘thank’, setelah ‘denke’ kita wajib ‘danke’, karena semua sekadar dari sang Maha Pencipta.
Teman,
Mari kita berbicara mengenai komitmen…
Ketika 1 + 1 adalah 2, itu adalah ‘sekadar’ suatu ketepatan janji yang telah disepakati bersama. Muncul dari kesepakatan besar di antara para pemikir terkemuka dari semenjak hitungan itu ada.
seluruh ahli logika, filsafat matematika saling mengikrarkan diri untuk menyatakan bahwa 1 + 1 adalah 2, dan memang pada hakikatnya perhitungan diberlakukan dengan komitmen penuh.
bayangkan bila ada satu ilmuwan saja yang tidak berkomitmen penuh, dan mencoba untuk meniadakan ini. 1 + 1 adalah 3!!! apa lacur?
Dan ini berlaku untuk seluruh disiplin ilmu.
Lihatlah apa yang terjadi di negeri antah berantah bernama Nusantara. Ketika segerombolan ahli teknik sipil berhitung angka, 1 jembatan yang panjangnya 10 meter yang seharusnya (dan mereka tahu memang ini lah seharusnya) terbentuk dari 10.000 batu bata, 100 sak semen dan 2 truk pasir, dengan biaya 100 juta rupiah saja..dihitung oleh mereka dengan cukup 8.000 batu bata, 80 sak semen dan 1,5 truk, namun dengan biaya yang justru dilipatgandakan.
Maka apa yang terjadi??…..
Inilah komitmen, Teman..
Dan sungguh jarang rasanya ketika kita berpikir sejauh mana kita telah memegang teguh sebuah komitmen yang pernah kita sepakati.
Seberapa terserak remah-remah janji yang belum kita selesaikan selama ini.
Janji pada diri sendiri untuk selalu menemukan kebenaran hakiki, janji untuk selalu berkata benar, berkata sopan, selalu tepati janji, untuk tidak berbohong, untuk bangun pagi, bahkan untuk sekadar berkata jujur atas pertanyaan diri sendiri, sudah cukup baikkah kita selama ini?
Orang-orang dari negeri antah berantah yang bernama matahari terbit sepertinya memiliki suatu istilah yang bernama ‘kaizen’.
Yang -sepertinya pula- hampir mendekati pengertian bahwa di dalam hidup ini tidak ada yang namanya ‘terbaik’, yang ada adalah ‘lebih baik’, sehingga tertanam dalam hidup kita untuk selalu melakukan hal-hal menjadi lebih baik..lebih baik..dan selalu berusaha lebih baik.
‘Sekadar lebih baik…’
Hormat Takzim,
~kopidangdut~
Kamis, 31 Maret 2005
Ditulis oleh Mas Kopdang
Ditulis oleh Mas Kopdang
Ditulis oleh Mas Kopdang 






