::: kamis sore,sore sekali,dan kita berkomitmen :::

Maret 31, 2005

Selalu dengan penuh rasa syukur,
Ketika terbaca berbagai tanggapan, sekilas rasa kesombongan berpotensi hadir dalam benak dan sebagai suatu pembelaan itu manusiawi sekali adanya, namun juga menjadi beban berat karena seharusnya kita semua selalu ‘walk the talk’ agar kita bisa berbiasa diri menjadi orang yang berintegritas.
Terima kasih atas tanggapannya.
bukankah setelah berpikir kita harus berterima kasih? Setelah ‘think’ kita wajib ‘thank’, setelah ‘denke’ kita wajib ‘danke’, karena semua sekadar dari sang Maha Pencipta.

Teman,
Mari kita berbicara mengenai komitmen…
Ketika 1 + 1 adalah 2, itu adalah ‘sekadar’ suatu ketepatan janji yang telah disepakati bersama. Muncul dari kesepakatan besar di antara para pemikir terkemuka dari semenjak hitungan itu ada.
seluruh ahli logika, filsafat matematika saling mengikrarkan diri untuk menyatakan bahwa 1 + 1 adalah 2, dan memang pada hakikatnya perhitungan diberlakukan dengan komitmen penuh.
bayangkan bila ada satu ilmuwan saja yang tidak berkomitmen penuh, dan mencoba untuk meniadakan ini. 1 + 1 adalah 3!!! apa lacur?
Dan ini berlaku untuk seluruh disiplin ilmu.

Lihatlah apa yang terjadi di negeri antah berantah bernama Nusantara. Ketika segerombolan ahli teknik sipil berhitung angka, 1 jembatan yang panjangnya 10 meter yang seharusnya (dan mereka tahu memang ini lah seharusnya) terbentuk dari 10.000 batu bata, 100 sak semen dan 2 truk pasir, dengan biaya 100 juta rupiah saja..dihitung oleh mereka dengan cukup 8.000 batu bata, 80 sak semen dan 1,5 truk, namun dengan biaya yang justru dilipatgandakan.
Maka apa yang terjadi??…..
Inilah komitmen, Teman..
Dan sungguh jarang rasanya ketika kita berpikir sejauh mana kita telah memegang teguh sebuah komitmen yang pernah kita sepakati.
Seberapa terserak remah-remah janji yang belum kita selesaikan selama ini.

Janji pada diri sendiri untuk selalu menemukan kebenaran hakiki, janji untuk selalu berkata benar, berkata sopan, selalu tepati janji, untuk tidak berbohong, untuk bangun pagi, bahkan untuk sekadar berkata jujur atas pertanyaan diri sendiri, sudah cukup baikkah kita selama ini?

Orang-orang dari negeri antah berantah yang bernama matahari terbit sepertinya memiliki suatu istilah yang bernama ‘kaizen’.
Yang -sepertinya pula- hampir mendekati pengertian bahwa di dalam hidup ini tidak ada yang namanya ‘terbaik’, yang ada adalah ‘lebih baik’, sehingga tertanam dalam hidup kita untuk selalu melakukan hal-hal menjadi lebih baik..lebih baik..dan selalu berusaha lebih baik.
‘Sekadar lebih baik…’

Hormat Takzim,
~kopidangdut~
Kamis, 31 Maret 2005


::: Senin Pagi, Pagi Sekali, Mari Kita Bersua :::

Maret 28, 2005

Dengan penuh rasa syukur,
Ketika kedekatan kita kemarin, di saat kuliah adalah sebuah rutinitas, kita sendiri-sendiri mencari teman sepermainan yang berbeda.

Ketika saat ini kita melepuh dalam panasnya ritme hidup di dunia masing-masing rasa kangen itu timbul…
Kangen akan persamaan asal sekolah, persamaan memori, persamaan senasib sebagai pekerja pemula..dan tentunya persamaan atas semangat meretas hari esok…
Lalu dibuatlah momen-momen mungil diantara kita..lewat perjumpaan tak sengaja pada acara teman-teman kita, acara kumpul bareng teman satu kelompok, acara reuni satu kota, juga pada hari bahagia di hari raya..

Juga hari ini,
Dengan sungguh-sungguh sengaja kutulis ini, yang sesungguhnya adalah sekadar upaya menyambung rasa, mengingat kisah di lampau semu yang sayup-sayup tetap nikmat untuk diresapi..

Satu titik dalam hidup, akan tetap sebuah titik di hidupnya itu..
Namun tiada suatu kesalahan apabila titik-titik ini menjadi rangkaian garis, menjadi rangkaian lingkaran, kurva, segitiga atau apapun yang sekiranya bisa membikin kita untuk bisa lebih bahagia di saat senja..

Pelan namun pasti, teman-teman kita yang lain akan juga lepas dari singgasana mahasiswa…pusing namun dinanti teman-teman kita akan berubah peran dalam rumahtangganya…kelak pun niscaya memori hari muda akan ada dalam benak tua kita…

Bersyukurlah pada usaha kita untuk selalu bersua berita, menitip pesan, berbagi cerita, mengobrol dan diobrol bahkan untuk hal-hal yang sepertinya hanya menghabiskan waktu saja..

Adalah suatu kebahagiaan apabila setiap saat kita tidak meninggalkan hal-hal lama yang telah berlalu..teman sepermainan di desa, pacar pertama, guru yang pernah menghardik kita, ruang rahasia tempat menyembunyikan majalah dewasa di saat SMA, baju kesayangan kita di saat remaja..
Namun untuk apakah semua ini..atas apa yang telah kita lakukan, kita kumpulkan dan kita simak dari lembar ke lembarnya? Sekadar kenangan..?

Selayaknya kita menempatkan semua ini sebagai jejak langkah, sebagai peniup angin kelupaan kita, menitikkan noktah pada kesalahan kita, sehingga apapun itu menjadikan kita untuk menjadi lebih baik..menjadikan kita sebagai Bapak yang dibanggakan putranya, sebagai ibu yang dijadikan panutan keluarganya..menjadi seorang bawahan yang menjadi incaran atasan untuk menggantikan kedudukannya, menjadi atasan yang selalu dilindungi wibawanya..dan menjadi manusia yang tahu diri di hadapan penciptanya…
Mungkin itu saja..

Hormat Takzim,
~kopidangdut~
Senin, 28 Maret 2005


::: Pagi Kemarin… :::

Maret 22, 2005

Selamat Pagi, Indonesia. (dibaca dengan aksen khas Gobind)

Kemarin pagi saya tergesa-gesa untuk keluar rumah, bukan karena terlambat atau ada tugas yang harus segera saya selesaikan setibanya di tempat kerja…
Saya hanya penasaran, bagaimana sih wajah Jakarta di pagi Buta?

Dahulu, yang paling pertama saya hindari adalah Kota Jakarta sebagai tempat mencari nafkah, dan entah kenapa hal ini justru menjadi kenyataan yang rasanya sulit untuk dihindari.

Layaknya para pekerja muda yang lain, akhirnya lambat laun saya pun mulai terpengaruh dengan ritme rutinitas yang lumayan membatasi kreatifitas saya selayak saya hidup di Jogja…

Keluar dari rumah, masih jam 5 pagi, geliat tukang ojek, penjual bubur ayam, dan bajaj yang menderu menyapa saya dengan wajah penuh harapan untuk disinggahi.
Jujur, biasanya saya keluar berangkat kerja pukul 7 pagi, terkadang naik bis kota, atau numpang mobil sepupu.

Dan hasilnya memang ‘mepet’ detik-detik terakhir absensi warna merah. Tapi kemarin pagi sedikit lain.

Saya berjalan hingga Jalan besar Pramuka (karena saya tinggal di jalan sempit sekitaran Utan Kayu yang banyak dikenal dengan JIL-nya maupun komunitas Utan Kayu-nya GM, Ayu Utami. Di jalan Pramuka tanpa dinyana sudah lumayan berseliwearan bis Kota dan mobil pribadi. Dapat saya duga, kebanyakan mobil ini berasal dari bilangan Pulogadung dan mobil milik warga Bekasi.

Setelah merasa bosan dan sepertinya tidak ada yang bisa saya dapatkan di jalan Pramuka, saya berhentikan bajaj yang sepertinya memang sengaja sedikit melambatkan kecepatannya begitu akan melewati saya. Saya tawar 5 ribu dari 8 ribu yang dia ajukan. Tujuan saya adalah Pasar Palmeriam di sudut barat Matraman.

Saya lirik arloji, jam menunjukkan pukul 6 kurang 20. Saya tahu, kalau pasar tradisional pasti selalu becek walau tidak hujan, selalu bau walau penjualnya selalu mandi sebelum berjualan, dan selalu cerewet, berisik dan penuh ekpresi..Sudah cukup lama, kira-kira 4 bulanan saya tidak berbelanja di Pasar tradisional. Terakhir kali adalah belanja di Pasar Condong catur, 300 meter dari warung nasi milik saya yang sampai saat ini masih berjalan walau pun tidak setiap hari saya kunjungi. Namun entah kenapa pasar tradisional selalu bikin kangen. Beda dengan Carefour yang digdaya, di sini saya bebas untuk menawar sesuka hati, walaupun jatuh-jatuhnya ya mungkin malah sedikit lebih mahal dibanding ‘pasar tradisionalnya’ warga prancis tersebut. Bisa belanja sambil menyeruput teh anget di genggaman, sembari makan serabi yang masih mengepulkan uapnya. Bisa beli jeruk setengah kilo, namun menawar sembari makan jeruk tersebut yang mungkin kalau ditimbang seberat 1 ons sendiri. Bisa tertawa, bisa memprotes, bahkan bisa mengumpat dan diumpat.

I kind of person who love to express my self clearly…..

Itulah alasan yang membuat saya menggila-gilai pasar tradisional. Oh ya sebetulnya semanjak saya mengawali cerita ini ada yang saya tutup-tutupi. Sebetulnya saya tidak sendiri, tetapi berjalan bersama istri. Bahkan sebetulnya saya berangkat dengan setengah hati, dipaksanya untuk bangun ‘pagi’, selesai ‘mandi’ dan memakai deodoran yang lumayan wangi. Istri saya ingin sekali melihat pagi.

Yang sebetulnya saya pun belum pernah tahu apa itu ‘pagi’ di Kota ini.
Yah, inilah yang namanya konsekuensi…

Selamat Pagi..(masih dengan aksen-nya Gobind)
I love you all, I love you all, I love you all Indonesia..(kalo ini pake aksennya Catur)

Matur sembah nuwun,
~kopidangdut~

NB: Buat DS dan bini, buat Pronggo dan calon istri, serta Hafidz, Janu, Supri dan Hendrik 98 beserta crew’nya.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk datang di hari “itu”.
Dan untuk semua yang selalu mendoakan baik lewat sms, email dan dalam mimpi-mimpi teman-teman semua..

Terima kasih banyak…

Hormat Takzim,
~kopidangdut~
Selasa, 22 Maret 2005