(Tulisan ini diberikan khusus kepada Mas Dwi atas permintaannya kepada saya, betapa indahnya menjadi ‘sekadar’ Pandir di dunia. Namun untuk lebih berguna, sebaiknya dipublikasikan lewat milis kita. Semoga ada kelebihan guna)
“JIKA tangan punya keringat untuk menguap karena kerja, benak punya gumpalan untuk melatu menyebarkan ilham, untuk menyadari motif-motif manusia…” (nukilan makalah Nirwan Ahmad Arsuka, Kehidupan Kedua, Tentang Nalar dan Horizonnya)
Bekasi, 4 April 2005,
Selamat Pagi…
Semoga kita semua selalu diberi kemudahan menjalani hidup…,
beribadah dengan riang gembira…
Seberapa jauh kata dapat merangkup raga dan jiwa…menghanyutkannya…, menggerakannya…Bagi seorang Ali Syariati, pertanyaan ini begitu mudah dijawabnya. Lewat kata-kata, tulisannya adalah untuk menggerakkan…bernas pada kata, makna pada kalimat, hanyalah jalan dalam menempuh sebuah ritual mulia, bergerak, bekerja.
Kata yang tak terpasung sebatas pemanis logika, namun sumber energi lahiriah yang selalu dapat menerjang ruang dan waktu…
Lalu dimanakah fungsi sebuah tajuk rencana? Dimanakah sebuah kegunaan dari catatan pinggir seorang pengembang ilham sejati, dimanakah nilai sastra dan dimakah fungsi realita dari tulisan ini sendiri…???
Wahai pecinta kata-kata,
Pernahkah membaca tulisan Soekarno? Apa yang kau rasakan?…ya, terdapat suatu energi yang terpusat pada hati, untuk berbuat sesuatu sesuai nurani, pelan tapi pasti, inilah yang disebut inspirasi..Lalu dimanakah pikiran kau ketika Pram berdendang ria, bercerita mengenai kegemarannya bertutur kata? Ya..engkau pun terbawa suasana untuk selalu kembali memaknai dan merasakan sesungguhnya arti sebuah kata ‘merdeka’…
Bermain kata-kata tidak saja bermain persepsi, memindahkan logika seorang penulis kepada seorang pembacanya, namun lebih dari itu kata-kata adalah sebuah olahraga logika, pengepul keberanian untuk mengadakan yang belum ada, mencermati sesuatu yang tidak pasti, dan mencari kebenaran yang tersendiri…
Bukankah pencerahan dalam arti sesungguhnya adalah ‘sekadar’ suatu semangat dan keberanian untuk ‘bermain-main’ dengan logika..ketika sejarahnya kebenaran hanya milik gereja belaka, lalu seorang pengusung logika dari ujung barat eropa tegak berdiri, meneriakkan kebebasan dalam bertutur kata, berolah logika dan bertuliskan apa adanya..Averoeisme pun lahir, Sang Ibnu Rushd, menetaskan logika dari cangkang gereja…lalu bermunculan begitu banyak pemikiran dan tentunya gagasan-gagasan baru lahir, sejalan, maupun tidak sejalan dengannya…
Namun sepertinya orang eropa berbeda dengan kita, mereka tahu apa yang sesungguhnya ‘ada’, apa yang seharusnya ’ada’…Averoes hanyalah pengantar bagi mereka, namun sesungguhnya adalah filsafat Yunani yang telah terbuka..daripada membaca sekundaria, apa salahnya mempertajam langsung lewat tokoh penulisnya..aristotles dilahap habis, beranak pinak menghasilkan imanuel kant bin ibnu rushd, dan di Asia, mulla sadra bin ibnu rushd…
Lalu dimanakah kita berada?ketika kata, makna, logika merasuk dalam otak?apakah masuk, terngiang dan mendekam lama di sana tanpa ada ejawantah dalam realita?untuk berkata ‘tidak’ harus beribu waktu mempertimbangkannya, untuk berkata ‘bukan’ butuh seribu berani dalam hati, apalagi untuk mendengar ‘tidak’, ‘bukan’,’ah masa’ dan seluruh kosa kata yang laksana jarum menusuk hati…
Akhir kata,
Bukankah Tuhan menciptakan malaikat, untuk mendendangkan kata ‘ya’ ?
Bukankah Tuhan menciptakan Syetan untuk mendengar teriakan ‘tidak’?
Dan bukankah Tuhan ciptakan manusia untuk mendengarkan : “mau iya kek.., mau nggak kek.., suka-suka gw donk…!!!”.
Hormat Takzim,
~kopidangdut~
Senin, 4 April 2005