::: Kartini, sesuatu yang terlupakan: Sebuah Tambahan :::

April 25, 2005

Salam,
Semoga Kita semua makin Ikhlas menjalani hidup,

Kalau ada yang masygul dengan Kartini, yang sedikit ’bolong’ dari dirinya adalah ketika beliau tidak bisa mendobrakkan dirinya untuk menolak menjadi istri kedua seorang bangsawan Jawa yang identik dengan kepoligamiannya.
Tapi seperti apa adanya, realitas yang ditanggung terlalu menghujam pada dirinya, menolak apa yang ada dalam pikirannya dan akhirnya dirinya tiada lain seorang istri kedua, seorang wanita muda yang menjadi ’korban’ sebuah sosial kultur lokal saat itu.

Mas Dwi dan teman-teman semua,
Konsep yang dituangkan Kartini adalah kekinian yang meletup di saat dunia belum sanggup menerimanya. Kartini boleh saja berharap, namun sampai saat ini apa yang diharapkan beliau masih saja menunggu untuk segera ada. Lalu sanggupka kita meng’ada’kannya?

Bayangkan ketika lamaran pekerjaan dikerucutkan dalam sebuah kolom iklan lowongan pekerjaan, dan berbunyi : Wanita, Single,…bla..bla..bla..
Ada apa dengan kata ‘single’? Apakah wanita atau perempuan atau apapun namanya harus dituntut untuk selalu single dalam suatu posisi? Dimanakah suatu bentuk relevansi nyata mengkait antara marital status seorang wanita dengan dunia Profesionalnya. Pun ketika itu dipertanyakan kepada para Paduka HRD, tak lantas segera dijawab, karena ini tak pernah ada dalam gumpalan benak pemikiran murni mereka sendiri.

Untuk menjadi seorang perempuan atau wanita memang harus menjadi pribadi yang dihormati, bukan (hanya) oleh lingkungan, melainkan terutama oleh diri sendiri.
Sehingga tekad dan semangat yang terpancar dari para Katini ini merayap dan menjalar ke setiap relung pri kehidupan bangsa Indonesia, apalagi dunia…Semoga.

Matur Sembah nuwun,
Mas ~kopidangdut~
Senin, 25 April 2005


::: Cinta Negara Apakah sejalan dengan Cinta Tanah Air? :::

April 19, 2005

Salam hormat,
Semoga hidup ini selalu diwarnai kebahagiaan…

“Untuk menggambarkan Nasionalisme= Cinta Negara” dan “Patriotisme=Cinta tanah air”

Dalam sebuah wawancara dengan harian Nasional Swedia di Stockholm yang disadur oleh TEMPO beberapa tahun yang lampau, Hasan Tiro berujar:

“Jangan tanyakan rakyat Aceh mengenai Nasionalisme, tapi kami akan berteriak lantang akan rasa Patriotisme kami!”

Begitulah jalan pikiran Hasan Tiro, yang menasbihkan dirinya mewakili suara keseluruhan rakyat Aceh.

Lalu masih ingatkah ketika Mel Gibson bermain habis-habisan dalam film The Patriot. Bagaimana seorang Peranakan Skotlandia yang telah menjadi anak Amerika berjuang habis-habisan untuk Amerikanya, walaupun pasukan Bung Mel terdiri dari Imigran, peranakan berbagai bangsa…
Patut ditanyakan apakah Mel Gibson memiliki Rasa Nasionalisme? Nasionalisme manakah, Skotlandia atau Amerika? Namun yang pasti mereka adalah para patriot (versi Amerika)…

Begitu pula- lah sejarah yang mengalir di bumi nusantara ini…

Untuk siapakah Diponegoro Berperang melawan Belanda? untuk sebuah nama Indonesia? ataukah Untuk tanah leluhur keluarganya…

Untuk siapakah Pangeran Antasari berjuang? Untuk sebuah kata ‘Indonesia’ ataukah kerajaan Banjarnya…?

Patriotisme tiada lain adalah nurani yang terpanggil akan identitas akan tanah tumpah darahnya, akan ikatan manusia terhadap alamnya, hajad hidupnya…

Nasionalisme lahir dari sebuah kesadaran politik yang terikat lewat amanat kedaulatan rakyat yang diberikan kepada Negara. Sebuah kontrak sosial antara rakyat dan negaranya.

Bagaimana dengan yang satu ini…

”Seorang anak bernama Umet, lahir di Ukraina dari Bapak seorang Pengusaha Minyak dari Indonesia dan Ibu seorang peranakan Arab-Belanda dan Padang. Sekolah TK di Ukraina, SMP di Rusia, dan SMA di Polandia. Lalu dia kuliah di Universitas Praha. Menikah di Yunani dengan seorang Peranakan Itali-Turki. Dan sekarang Umet tinggal di Cyprus. Umet masih WNI, namun belum pernah menginjakkan kakinya di Indonesia bahkan mandi dengan air sumur Indonesia pun belum..Kemudian pada suatu hari dia ditanya apa itu Pancasila? Coba nyanyikan Indonesia Raya? Coba jelaskan amandemen apa saja yang ada di UUD’45…?
Umet tak bisa menjawab, tak bisa menelaah bahkan mengerti apa itu Pancasila. Umet paham lagu ’tubthumping’ Chumbawamba, tapi sama sekali belum tahu itu Indonesia Raya apalagi UUD’45.
Tetapi dia sakit hati ketika teman kuliahnya bilang Indonesia negara melarat, Indonesia negara para Koruptor, apalagi mereka yang meludahi bendera merah putih di Kedubes-nya di Praha…

Ketika dia ditanya apakah kamu memiliki Nasionalisme? Apakah kamu memiliki Patriotisme? Umet hanya bisa bilang..”Saya memiliki Istri dan Anak 4. Masalah Nasionalisme atau bukan…Patriotisme atau bukan,, entahlah..!

Begitu banyak Umet yang lain di belahan dunia sana..

Hormat Takzim,
~kopidangdut~
Selasa, 19 April 2005


::: Mbuhay, Jumat Sore yang menakjubkan… :::

April 15, 2005

Kado mungil untuk Mbak Norma di penghujung ”sendiri”..

Dengan cinta yang menjalar ke seluruh rasa…

Perlahan, pasti, cepat, pasti, kita menginginkan berkeluarga..
Menikmati senja seperti saat ini, menjelang malam bersama pasangan tercinta adalah indah.
Jiwa-jiwa yang meresapi makna waktu untuk dihisap habis bersama, dan ini adalah sebuah ’orgasme’ kehidupan bagi sebagian orang.
Bisa menghinggap di setiap benak, bahkan nyata dengan rasa pada mata, kulit kita dan pendengaran yang diselimuti keindahan hidup…

Jumat sore, ketika keemasan senja merapuh dan disibakkan kegelapan perlahan, dan perasan yang menghujam karena ingat akan libur di esok hari menimbulkan sensasi tersendiri…
Kita boleh saja merasa ada ketidaksiapan pada diri, ketika menghadapi satu titik di mana kesendirian terancam oleh keinginan berumah tangga..namun sepertinya juga bukan hal sulit untuk merajai hari-demi hari dengan didampingi pasangan pujaan hati..dimana lagi ada sisa kenikmatan yang luput untuk direguk?
Teh hangat yang diseruput perlahan, udara dingin yang meradang, dan perasaan kangen menghujam, seluruhnya adalah figuran pada fragmen kehidupan dewasa kita…lewat tangan yang merebah, melingkar di degup hati…

Kita…,
Ketika semuanya mulai berumahtangga, ada jenjang dimana kehidupan adalah berbagi, kehidupan adalah saling mengisi dan sebuah kehidupan adalah saling menikmati…
Sakit hati, umpatan lembut, rayuan yang tak juga usang, dan seluruh kenangan yang coba untuk selalu direkam dan tiada lain adalah sebuah kado kecil di pagi hari pasangan kita sehari-hari..

Kita, memang selalu ada di sini,
Tapi tidak selamanya keindahan perasaan masih hinggap di tiap sanubari kita..dan hanya kita lah yang berhak mengapa-apakan kesenangan kita, keriangan kita..bahkan kemurungan kita dan pasangan adalah suatu keindahan yang ada maupun tiadanya rasa senang selalu saja menemani kesendirian kita..seperti di saat senja kali ini..di sudut kantor yang masih saja enggan ditinggalkan,
Yang tiba-tiba dikejutkan hentakan lembut lewat sms:

”Mas..ayo plg, aku uda laper..”

Duh, gusti…!

Hormat takzim kembali,

Mas ~kopidangdut~di Bekasi
Jumat, 15 April 2005


::: Senin Pagi, Pagi menjelang siang, lapar menghadang :::

April 4, 2005

(Tulisan ini diberikan khusus kepada Mas Dwi atas permintaannya kepada saya, betapa indahnya menjadi ‘sekadar’ Pandir di dunia. Namun untuk lebih berguna, sebaiknya dipublikasikan lewat milis kita. Semoga ada kelebihan guna)

“JIKA tangan punya keringat untuk menguap karena kerja, benak punya gumpalan untuk melatu menyebarkan ilham, untuk menyadari motif-motif manusia…” (nukilan makalah Nirwan Ahmad Arsuka, Kehidupan Kedua, Tentang Nalar dan Horizonnya)

Bekasi, 4 April 2005,
Selamat Pagi…

Semoga kita semua selalu diberi kemudahan menjalani hidup…,
beribadah dengan riang gembira…

Seberapa jauh kata dapat merangkup raga dan jiwa…menghanyutkannya…, menggerakannya…Bagi seorang Ali Syariati, pertanyaan ini begitu mudah dijawabnya. Lewat kata-kata, tulisannya adalah untuk menggerakkan…bernas pada kata, makna pada kalimat, hanyalah jalan dalam menempuh sebuah ritual mulia, bergerak, bekerja.
Kata yang tak terpasung sebatas pemanis logika, namun sumber energi lahiriah yang selalu dapat menerjang ruang dan waktu…

Lalu dimanakah fungsi sebuah tajuk rencana? Dimanakah sebuah kegunaan dari catatan pinggir seorang pengembang ilham sejati, dimanakah nilai sastra dan dimakah fungsi realita dari tulisan ini sendiri…???

Wahai pecinta kata-kata,
Pernahkah membaca tulisan Soekarno? Apa yang kau rasakan?…ya, terdapat suatu energi yang terpusat pada hati, untuk berbuat sesuatu sesuai nurani, pelan tapi pasti, inilah yang disebut inspirasi..Lalu dimanakah pikiran kau ketika Pram berdendang ria, bercerita mengenai kegemarannya bertutur kata? Ya..engkau pun terbawa suasana untuk selalu kembali memaknai dan merasakan sesungguhnya arti sebuah kata ‘merdeka’…

Bermain kata-kata tidak saja bermain persepsi, memindahkan logika seorang penulis kepada seorang pembacanya, namun lebih dari itu kata-kata adalah sebuah olahraga logika, pengepul keberanian untuk mengadakan yang belum ada, mencermati sesuatu yang tidak pasti, dan mencari kebenaran yang tersendiri…

Bukankah pencerahan dalam arti sesungguhnya adalah ‘sekadar’ suatu semangat dan keberanian untuk ‘bermain-main’ dengan logika..ketika sejarahnya kebenaran hanya milik gereja belaka, lalu seorang pengusung logika dari ujung barat eropa tegak berdiri, meneriakkan kebebasan dalam bertutur kata, berolah logika dan bertuliskan apa adanya..Averoeisme pun lahir, Sang Ibnu Rushd, menetaskan logika dari cangkang gereja…lalu bermunculan begitu banyak pemikiran dan tentunya gagasan-gagasan baru lahir, sejalan, maupun tidak sejalan dengannya…

Namun sepertinya orang eropa berbeda dengan kita, mereka tahu apa yang sesungguhnya ‘ada’, apa yang seharusnya ’ada’…Averoes hanyalah pengantar bagi mereka, namun sesungguhnya adalah filsafat Yunani yang telah terbuka..daripada membaca sekundaria, apa salahnya mempertajam langsung lewat tokoh penulisnya..aristotles dilahap habis, beranak pinak menghasilkan imanuel kant bin ibnu rushd, dan di Asia, mulla sadra bin ibnu rushd…

Lalu dimanakah kita berada?ketika kata, makna, logika merasuk dalam otak?apakah masuk, terngiang dan mendekam lama di sana tanpa ada ejawantah dalam realita?untuk berkata ‘tidak’ harus beribu waktu mempertimbangkannya, untuk berkata ‘bukan’ butuh seribu berani dalam hati, apalagi untuk mendengar ‘tidak’, ‘bukan’,’ah masa’ dan seluruh kosa kata yang laksana jarum menusuk hati…

Akhir kata,
Bukankah Tuhan menciptakan malaikat, untuk mendendangkan kata ‘ya’ ?
Bukankah Tuhan menciptakan Syetan untuk mendengar teriakan ‘tidak’?
Dan bukankah Tuhan ciptakan manusia untuk mendengarkan : “mau iya kek.., mau nggak kek.., suka-suka gw donk…!!!”.

Hormat Takzim,
~kopidangdut~
Senin, 4 April 2005