::: Potong Rambut..rambut mana….yang ini khan?…mana aja :::

Juni 8, 2005

Buat Teman-teman semua…
Semoga selalu saja pandai bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan..

Wah..wah..wah..tanggapan yang beragam dan sungguh menarik untuk disimak tentang pernikahan sungguh bermanfaat bagi saya. Berbagai tanggapan yang saling mendukung, membangun dan berasal dari hasil perenungan yang tidak “seepret” langsung jadi, selalu saja menguatkan rasa bersukur saya memiliki teman-teman yang walapun tidak ganteng dan tidak kaya namun masih ada gunanya, hehehe..
terima kasih semuanya terutama buat Mas Dwi, Sinyo Janu, Mas Ded dan Mr. Chotman..semoga kalian sema bisa menjadi kakek yang selalu membahagiakan dan terbahagiakan oleh nenek di samping ranjang kalian esok nanti…!

Mas, Sinyo, Mr dan Nona serta Nyonya lainnya…
Saya sungguh tertarik dengan perkataan mas Dwi mengenai hubungan sejenis yang “ngotot” untuk “dinikahkan”..(di luar negeri ya?)
Nah..sebetulnya hal ini bisa ditekan apabila fungsi keluarga dapat berjalan sebagaimana mestinya..
Bayangkan, tentang konsep aqiqah di ajaran Islam…
Sepertinya, aqiqah ini selain sebagai tanda bersyukurnya kedua orang tua si Bayi, tentunya ada makna lain di dalamnya..yakni memperkenalkan sekaligus memohon kepada masyaraka sekitar tempat tinggalnya untuk turut menjaga bayi mereka baik lahir maupun bathin?

Caranya?

Lewat potong rambut, secara tidak langsung setiap orang yang hadir dan ikut memotong rambut si bayi dapat memastikan wajah si Bayi dan yang terpenting jenis kelamin si Bayi..Hal ini dikuatkan dengan dua atau cukup satu kambing yang disembelih..masyarakat akan tahu pasti apakah ”burung” ataukah ”celengan” yang bertambah di keluarga besar komunitas mereka..
Sehingga saat si Bayi tumbuh berkembang, warga sekitar dapat turut serta menjaga kodrat si Bayi ini..bila dia bermain dengan tingkah polah yang tidak wajar, masyarakat sekitar tentunya akan ikut serta mengingatkan orang tua ataupun si bayi itu secara langsung..

Hal ini tidak berlaku pada komunitas yang tidak bersentuhan dengan ajaran ini…sehingga Mas Dwi harus maklum bahwa mungkin teman sekamar Mas Dwi di sana, sewaktu-waktu akan memeluk dan mencumbu sehingga kumis-kumisya membuat geli Mas Dwi..Waspadalah..!!!

Demikian, sekuntum-dua kuntum dari saya,
~kopidangdut~
Rabu, 8 Juni 2005

PS. Buat Sinyo Janu…: Sepertinya lebih enak jadi Peniup seruling ala Fakir India daripada menjadi Tentara, Nyo..! karena bisa dengan mudahnya membangkitkan ular Cobra kapan pun dia mau….!


::: Siaga: Siap Antar Jaga :::

Juni 3, 2005

Salam siaga,
Dalam Pramuka, Siaga adalah level pemula bagi para Anggota Pramuka. Selanjutnya adalah Penggalang.

Begitu pun saya Mas Ded, saat ini saya masih berkutat dalam kesiapsiagaan, belum dapat menjadi seorang suami penggalang.
Saya belum terbiasa berkomunikasi ala morse dan semapur, masih banyak mis-komunikasi di sana-sini. Tali temali saya belum dapat ”menyimpulkan” berbagai persoalan sepenuhnya. Saya masih suami siaga yang merasa bahwa dunia ini hanyalah berisi nyanyian, baris-berbaris dan terkadang acara berkemah di halaman sekolah.

Sembari belajar menjadi suami penggalang sejati, yang dapat memimpin anggota di keremangan malam purnama, mencari jejak yang penuh teka-teki dan terutama adalah dapat menjadi Perodjo Mudo Korono sedjati ning….Saya tetap berupaya mengumpulkan remah-remah semangat yang sempat terjerembab (akhir Mei kemarin isteri di rumah mengalami keguguran di usia kehamilan 5 minggu). Mengalami sedikit cobaan saja, kepala sulit didongakkan…

Namun,
Tanpa dinyana, istri saya jauh lebih kuat dalam menenangkan pikirannya, kesabaran yang tak pernah lapuk dan selalu saja dapat menguatkan saya, Mas Ded, seorang Ketua regu, berhasil dibimbing oleh anggotanya. Sungguh suatu kondisi yang menguatkan saya untuk selalu berusaha mencintai regu ini.

Mas Ded,
Sleman Barat dalam keadaan damai? Bagaimana dengan kawasan Sleman Timur, apakah terkendali? Bagaimanapun juga squad Sleman bersatu masih babak-belur di dunia bal-balan kita..sabar ya Mas Ded!

Untuk Mas Dwi,
Dunia ini adalah untuk orang-orang yang telah menikah…
Mau bukti?
Harap sungguh-sungguh merenungkannya…

Ada sup yang penuh kuah,
Pengen ngerasain hidup? Cepatlah menikah…

Salam Kuah,

~kopidangdut~
Jumat, 3 Juni 2005