Selamat sore,
berhubung kopidangdut sayang anak-istri,
dan berjanji setiap keluh kesah mereka kopidangdut dengarkan, maka kesempatan kali ini kopidangdut pajang surat dr istri kopidangdut yg dikirim beberapa waktu lalu.
Bukannya sombong, bukannya congkak yang disayang handai dan tolan, uppss..maksudnye bukannya mau pamer, kopidangdut sekadar memberikan kesempatan pada sebuah gagasan yg dinamakan demokrasi, transparansi dan responsibility..
YEaaaah!
selamet menikmati: (tanpa edit dari kopidangdut)
Ulasan Tanpa Judul **
Mengapa saya beri nama ulasan tanpa judul?? Selain karena bingung mau memberi judul apa, lebih dikarenakan tulisan ini akan banyak bercerita tentang saya dan suami tercinta, yang dilatarbelakangi dengan berbagai pelajaran hidup yang saya terima.
Menjalani sebuah pilihan dengan legowo, atau istilah lainnya, istiqomah, ternyata cukup sulit. Mengapa saya katakan cukup sulit?? Bagi saya, menempatkan kata “cukup”, berarti ada usaha dari saya untuk mengatasi, karena saya yakin adanya banyak jalan, berbeda halnya dengan ketika saya menggunakan kata “sangat”.
Kembali pada cukup sulitnya menjalani sebuah pilihan dengan istiqomah, betul – betul saya alami. Ketika awal pernikahan kami, saya sudah memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja, mengabdikan diri pada suami dan anak – anak kami kelak, tanpa harus meninggalkan rumah. Nampaknya suami sangat senang dengan kepurtusan saya tersebut. Hal ini dibuktikan dengan perkataannya “ daripada memperkaya perusahaan orang lain, lebih baik memperkaya rumah tangga sendiri dengan melayani suami dan anak dengan ikhlas”.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan saya masih menikmati rutinitas sebagai ibu rumah tangga dengan berbagai tugas seputar dapur, sumur, dan tentu saja, kasur, hehe. Tapi ya itu tadi, beberapa bulan berselang terlebih setelah putri pertama kami lahir, pilihan yang sebelumnya betul – betul saya nikmati, saya pertanyakan kembali pada diri saya. Apa ini benar yang saya inginkan?? Sering timbul rasa iri saya pada suami, ketika suami bercerita tentang rutinitas tugas kantor, kumpul bareng teman – temannya, baik teman kantor ataupun teman semasa kuliah dulu. Setiap hari, selalu saja banyak hal yang baru yang suami beritakan dan ceritakan, hal – hal tersebut semakin membuat saya merasa sangat jauh dalam berpengetahuan.
Sementara saya?? Berkutat dengan aroma pup dan pipis Cinta (nama putri kami), serta rengekannya yang meluluhkan. Jangankan untuk menyalurkan hobi, urusan mandi saja saya lakukan setelah putri tercinta terlelap. Teori – teori kuliah dulu sudah hilang (pasti teman – teman kuliah pada ketawa, dulu lupa, sekarang ga ingat, hehe), yang ada hidup saya ya seputaran Cinta dan Ayahnya. Efek yang ditimbulkan adalah energi negatif, yang tanpa saya sadari telah membuat suami bersedih dan terluka. Baik perkataan ataupun perbuatan saya yang dirasakan suami kurang penghormatan, tidak ada kepercayaan, dan yang lebih parah lagi seakan menafikan keberadaannya. Yang jelas dan pasti, saya takut akan ditinggalkan.
Nampaknya saya sangat disayangiNya. Saya sangat disadarkan oleh sebuah kisah kehidupan sebuah rumah tangga sebuah keluarga. Begitu banyak pelajaran dan hikmah yang saya peroleh.
Mengapa saya berpikiran negatif terhadap suami??merasa takut ditinggalkan??mengapa saya terlupa akan perjuangan suami untuk selalu membuat saya bahagia??usaha dia untuk menomorsatukan keinginan dan kepentingan saya tanpa memperhatikan keinginan dan kepentingannya??Mengapa saya masih terlupa akan ucapan terimakasihnya yang tulus yang selalu terucap, tertulis tiap harinya “ Nda, terimaksih ya, sudah melayani Ayah dengan baik serta merawat Cinta dengan ikhlas.” Bukankah itu sebuah penghormatan suami terhadap saya, istrinya, yang telah dianggapnya ikhlas menjalankan amanahnya??
Saat ini yang ada dalam pikiran saya berusaha memberi yang terbaik untuk suami, menerima segala kekurangan dan kelebihannya dengan ikhlas, berusaha membuat suami bahagia, karena saya ingin meraih surgaNya lewat dia
** Salam hormat penuh cinta, teruntuk suami tersayang, kopidangdut
Ditulis oleh Mas Kopdang 








