::: catatan pasuruan :::

Jakarta, 6 Juni 2007

Jika saja Sdr Munir masih hidup, mungkin dalam beberapa lama, televisi dan media nformasi lainnya akan banyak menayangkan wajah, teriakan, kritikan, umpatan dan orasi Sdr Munir.
Dapat dipatikan pula Marinir akan dibabat habis oleh Munir, ditelanjangi hingga ujng kaki sang Komandan.
Pasuruan bukanlah kota besar yang biasa dipergunjingkan, namun ulah segelintir tentara menjadikannya pusat perhatian. Banyak hal yang terseret dari kasus ini. Penganiayaan manusia, bisnis TNI, pelanggaran HAM, Pro-kontra Sipil versus Militer, eksistensi Peradilan Militer, dan tentu saja keberadaan wakil rakyat dalam menyikapi masalah ini.
Marinir adalah juga komponen bangsa, tapi apa yang telah dilakukannya selayak jemari yang mencabik-cabik perut tubuhnya sendiri. Marinir seharusnya bermain di atas ait, bukan di atas tanah.
Jalesveva Jayamahe.
Namun banyak hal yang memang menjadi agenda bersama demi mewujudkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beradab-menjunjung tinggi persamaan hak. Posisi Marinir mulai dipertanyakan. Kepentingan mana yang menjadi prioritas mereka.
Bangsa Indonesia masih saja harus mengorbankan putra-putri innocent untuk menebus kesadaran. Kesadaran berbangsa, kesadaran bertanah-air satu, tanah air Indonesia.
Tanggapan atas peristiwa pasuruan sangat beragam, namun dengan nafas yang hampir sama. Mencoba menarik keadilan sosial dalam jantung kehidupan berbangsa.
Nyawa tidak harus dibayar dengan nyawa. Cukup janji dan tahu diri untuk tidak mengulangi…

Tinggalkan Balasan