Apa sih yang kita ketahui tentang “kepentingan”
Apakah kepentingan itu sejenis kue serabi yang enak dicomot dan kenyal bila tergigit? Ataukah sejenis karet lateks yang digunakan pasangan muda biar tak tumpah ruah dan mengotori sarung, seprai atau modul kuliah?
Atau jangan-jangan kepentingan sama dengan kesiangan?
Karena terlalu banyak pekerjaan, terlalu lama main playstation, terlalu asyik bercinta sehingga lupa bila pagi hari harus siap-sedia untuk bekerja, memasak, berangkat kuliah, menyiapkan teks pidato sehingga akhirnya bangun tak sesuai rencana.
Apakah kepentingan sama halnya dengan itu?
Ketika saking pentingnya sehingga lupa ada moral yang harus dijaga, nilai yang perlu dilestarikan, persahabatan yang semestinya abadi, ketuhanan yang seharusnya tetap tersembunyi dalam sanubari, dan nilai humanis yang manusiawi?
Kepentingan – kata salah satu sahabat saya – adalah faktor kunci munculnya Good Governance, sahabat baik Tata Dado. Betul khan? Bukankah kita lebih sering mengendonesyakan menjadi tata kelola? Kepentingan harus berada dalam jalur yang benar, tanpa nyasar, agar seluruhnya seimbang. Balances. Ngepas …
Konflik Kepentingan Yang Tidak Lebih Dari Nol Persen
Itulah kunci tata kelola. Terkadang kita berani saat diperintah. Menunduk sembari mengepalkan jemari di depan burung kita. Sikap sopan versi pribumi. Namun hati keras bagai baja. Melawan lewat doa tengah malam. Melawan lewat gosip yang giat disebar. Perlawanan khas orang tertindas. Pada saat kita punya kuasa tentu saja di balik koin itu kepentingan menempel erat. Eh, malah jadi penakut.
Ditulis oleh Mas Kopdang
Ditulis oleh Mas Kopdang 
Ditulis oleh Mas Kopdang 



























