Perkenalkan nama saya Bambang. Lengkapnya Bambang Kopdang Diredjono. Panggil saja Mas Kopdang.
Pasti sampeyan bingung. Jangan! Saya tidak ingin membuat sampeyan semua bingung. Saya ingin membuat pengakuan. Saya lah yang selama ini membuat blog bagus ini. Bukan dia! Rio Wardhanu itu justru hanya nama akal-akalan saya. Serius! Sumprit, deh!
Ah, sampeyan masih nggak percaya juga? Percayalah! Kepada siapa lagi sampeyan boleh percaya, bila bukan dengan saya?
Saya sudah lanjut usia. Umur saya kira-kira 41 tahun. Bagi sampeyan yang sering mengunjungi blog gombal, maka segitulah kira-kira usia saya. Hampir sama dengan penggombal yang plontos itu.
Saya tinggal di dusun. Jauh dari keramaian kota. Singgasana saya di pinggir jalan besar yang mlipir mau ke arah Semarang, itu pun bila sampeyan berangkat dari Magelang.
Setelah pertigaan ke kiri yang menuju kota Temanggung, sampeyan lurus saja. Nanti bertemu pom bengsin pinggir jalan. Ya, saya tinggal di Pringsurat, tepatnya Desa Rejosari. Lebih akurat lagi bila sampeyan ingat dengan dusun saya, namanya dusun Pondoh.
Tempat tinggal saya asri. Bayangkan saja perkampungan Asterix. Ya! Seperti itulah. Persis! Jalan disusun dengan bebatuan dari pecahan cadas sungai yang mengalir di dusun saya. Rumah-rumah di sini tidak memakai pagar. Hanya tanaman. Pagar sudah habis. Dibabat dan dimakan oleh tanaman di sini.
Tanaman makan pagar. Sungguh!
Pohon klengkeng begitu rimbun, mengalahkan kerimbunan pohon beringin yang tenar itu. Beringin tak laku di sini. Madu, klengkeng, kayu nangka yang kuning-kuning dan pasir kali adalah kebanggaan kami dalam menghidupi keluarga. Sekali lagi, beringin tak laku di desa kami.
Mau tahu juga tentang pekerjaan saya?
Pekerjaan saya begitu penting. Bikin sampeyan terus hidup. Bisa bekerja, hidup dengan layak dan tertawa gembira. Saya petani. Petani beras yang memberi makan seluruh rakyat di negara ini. Jadi saya jauh lebih penting bila dibandingkan dengan jabatan dan pekerjaan si Bambang Gentolet, Bambang yang lain di desa saya.
Bambang yang satu itu, hanya menjabat Lurah.
Jangan bayangkan dan perkirakan saya onlain memakai apa. Bikin blog ini bagaimana caranya. Belajar dari mana. Saya masih tergolong warga desa yang canggih. Saya punya modem. Saya juga punya leptop. Lewat itu lah saya berkoneksi ria. Berjejaring dengan sampeyan semua. Ponakan saya di Van Lith-lah yang mengajarkan semua ini.
Oh ya, saya juga kaya.
Kaya batin tepatnya. Karena saya punya banyak waktu luang dalam kehidupan yang so biutiful ini. Sungguh. Tentu saja.
Begini contohnya: Berapa lama sampeyan bisa ngobrol enak sama istri sampeyan sendiri. Tentu saja lebih banyak sampeyan ngobrol dengan teman sejawat, teman kantor, dan bos sampeyan.
Iya khan? Bahkan mungkin lebih banyak ngobrol dengan istri orang lain, bila istri orang lain tersebut kebetulan teman sekantor sampeyan. Tentu saja!
Saya bisa sesukanya mengobrol dan bercengkrama dengan istri saya. Bisa dari pagi sebelum pergi bersama ke sawah, dilanjutkan saat menyiangi, makan siang, sampai saat ashar sebelum istri saya pulang terlebih dahulu untuk mengambil jemuran. Pulang.
Saya senang di sini. Kerasan deh… Apalagi bisa tahu betul keadaan Jakarta liwat internet ini.
Saya memang tidak punya henpon secanggih sampeyan. Tapi untuk apa? Saya mau bicara dengan, Pardjo, teman SMP saya di Perum Bulog untuk ikut tender beras? Pardjo bisa langsung datang kemari. Atau saya yang kesana. Tiba-tiba saya kangen dengan sahabat saya? Lha, ya langsung saja bertandang dengan sepeda ontel kesayangan. Rumah di sini asri. Jalannya juga mulus, menurut saya. Untuk bertamu, tidak perlu ketuk pintu apalagi datang dengan janji.
Saya juga tidak memiliki kamera canggih dengan teknologi digital. Untuk apa? Lha, saya tidak mau mengabadikan apa-apa! Semuanya sudah terlahir abadi di sini.
Saat anak-anak saya masih lucu dan kecil-kecil, saya perlakukan sebagaimana mestinya. Sepanjang waktu saya ikuti perkembangannya. Saya ajak beliau ke sawah, ke sungai, ke balai desa, ke acara penyuluhan kelompok tani dan tentu saja saat jagongan tetangga.
Saya nikmati tiap detiknya. Mumpung dia masih lucu. Jadi sekarang, saat dia sudah bersekolah, saya tidak merasa perlu buka-buka album foto. Album itu sudah ada dalam ingatan dan hati saya. Di sini! Coba deh.. pegang kening saya dan dada saya. Kalau berdegup kencang, berarti saya sedang ingat beliau semasa kecil. Tentu saja!
Perkenalkan lagi, barang kali sampeyan lupa, nama saya Bambang. Bambang Kopdang Diredjono. Panggil saja Mas Kopdang.
Bila susah mengingat. Ingat saja Kopral Djono. Tapi ini beda. Saya Kopdang Diredjono. Panggil saja Mas Kopdang.
Sekali lagi saya mau tanya. Lebih banyak mana sampeyan menghabiskan waktu mengobrol dengan istri sampeyan, atau sahabat sampeyan? Baik di kantor atau di jalan atau mungkin di kafe-warung kopi- dan gedung perkantoran di sana itu? Maaf bila kurang berkenan.
Jadi, sebetulnya teman hidup sampeyan itu siapa? Istri sampeyan atau teman kantor sampeyan? Atau bos sampeyan yang sering sampeyan bilang gila itu.
Kalau dalam kehidupan saya yang so biutiful ini, tentu saja. Bune’- istri saya- selalu dalam rangkulan. Setiap pagi, saat bangun dari tidur, Bune selalu sedang dalam keadaan melungker, mendekap erat saya, dan masih tersenyum juga. Persis setelah sesaat saya “kasih” semalaman.
Tidak kalah dengan perempuan kota, Bune saya bodinya yahud. Se’det. Seksyih dan padet. Bukan seperti model bintang dangdut sekelas Ambarwati, “Si Goyang Ngecrut” dari Ambarawa atau Bunga Citra Lestari yang posternya di dinding kamar anak saya yang pertama. Pokoknya Bune jauh lebih montok.
Muonnnntoks lebih tepatnya.
Bune’ saya juga kaya. Kaya batin juga, sama seperti saya, tentu saja. Bune ndak pernah minta macem-macem. Lha wong, dia sudah punya semuanya. Bune saya ndak punya pegangan kertu kredit. Tapi pegangannya ya omongannya. Kalau saya lagi ndak punya uang, Bune belanja pakai omongan. “Yu, tak bayar sisuk yo, nek Mas-ku wis nduwe dit.” Yayuk Prapti, penjual kain keliling itu, ya percaya. Bune saya dan warga lainnya ndak pernah ngemplang kok.
Bune saya ndak suka macam-macam. Pakai baju ya seadanya. Dengan kain yang bagus dibeli dari Yuk Parti di Solo jaman saya plesiran ke sana, jaman si Ciprut, anak saya, masih kecil.
Favorit saya, kalau Bune memakai baju lurik dan kain yang belahannya minggir sedikit ke atas. Seksyih sekali. Betisnya yang mbunting padi seperti Ken Dedes. Bila sudah memakai itu pada saat jagongan tetangga, saya akan berlagak dan berlakon seakan-akan Ken Arok yang berhasil membunuh Mpu Gandring.
Saya gagah. Bukan pakai baju batik seperti Pak Pulisi yang baru saja dipecat. Saya memakai Jas. Jangan salah, Mas saya yang sekarang di Surabaya, rela memberikan berstel-stel jas buat adiknya ini. Memang agak sesak. Kata Mas saya, itu karena teilor met. Entahlah apa artinya.
Bune saya paling suka pengajian. Apalagi kalau kiyai-nya datang dari Magelang atau Semarang. Saya sering ditugaskan oleh Bune saya yang jadi pimpinan rombongan untuk menyewa mobil elep milik Pak Haji Idrus, juragan madu dan klengkeng itu. Lalu saya isikan bengsin secukupnya, lalu saya supiri hingga ke kantor Kecamatan, bersebelahan dengan Masjid Raya.
Sementara Bune’ dan kawan-kawannya mengaji, saya bisa dolan dan memilih pakaian buat si Ciprut dan adik-adiknya dari pasar dadakan yang tumpah ruah di halaman Masjid. Biasanya saya mampu beli 2-3 potong. Saya utamakan buat si Ciprut. En Tokh, adik-adiknya bisa dapat lungsuran? Tentu saja!
Jangan tanya Bapak saya. Saya malas bicara masalah ini sesungguhnya.
Diredjono adalah orang termasyhur di kampung kami sebelum ketahuan suka macam-macam sama pemuda belia yang ikut rombongan Tari Soreng. Padahal saya tahu, itu cuma akal-akalan orang kampung yang tak senang Bapak saya. Mentang-mentang Bapak saya ikut perkumpulan kesenian rakyat, mereka memfitnah macam-macam.
Sebetulnya Bapak itu baik. Suka mengaji. Maka dari itu, sulit bila difitnah ikut-ikutan Kominis. Lha, Pak RT dan si Bambang Lurah saja belajar Alip Ba Ta Tsa dari bapak saya ?!
Ah sudahlah, nanti saya panjangkan cerita tentang Bapak. Juga tentang si Ciprut. Paling gampang biar Bapak saya bisa pergi dan terusir, ya itulah, memakai cerita Bapak saya suka dengan pemuda belia dan suka memaksa melayani Bapak saya. Ada-ada saja. Peduli amat. Tentu saja!
Sudah sore. Saya harus mengecek sawah dan mengambil pupuk kandang. Lagipula, kalau malam jaringan di sini suka membuat ulah. Koneksi tak seindah siang bolong bila saya pakai leptop di pematang sawah. Atau saya coba koneksi pakai ini ya? Apakah dapat?
Jangan lupa! Nama saya Bambang. Bambang Petani, bukan Bambang yang lain. Tapi panggil saja Mas Kopdang.
[+] bonus dari saya:
1. negeri cinta










September 11, 2007 pukul 9:14 am
atau mungkin siang jadi Rio kalau malam jadi Bambang?
September 11, 2007 pukul 9:16 am
Nah, sampeyan jauh lebih memahami kepribadian dan jati diri saya … Keren deh, bo! Yukk Mareee… !
September 18, 2007 pukul 12:18 pm
[...] Saya Bambang [...]
Januari 16, 2008 pukul 8:37 pm
gembus2 pancen katrok njenengan keiii
Januari 17, 2008 pukul 11:39 am
walah mas.. mas…
nyoba nuliss buku, novel, cerpen,.. or opopun sembarang kalirr…
wong kok akehh tenan ide critane hehehe,..
lumayann to menghasilkan
Mas Kopdang: Waduh, anda belum tahu ya, kalo justru penulis buku, novel, cerpen baru nyoba jadi penulis blog.. Derajat kita itu jauh lebih tinggi, mBak…
Februari 16, 2008 pukul 10:35 pm
[...] saya. Salam kopidangdut dan Merdeka! keterangan: gambar diambil dari pbase.comTulisan terkait:+ Saya Bambang [...]
Februari 17, 2008 pukul 12:31 am
bambang itu artinya satria gagah. makanya ada peran bambangan (bukan bambungan). dulu, kalau tak salah, anak-anak pandhita di gunung itu kalau laki bambang, kalau perempuan endang. lha kalau putut, itu kayaknya sebangsa cantrik.
Februari 17, 2008 pukul 12:37 am
Hahaha..saya akhirnya tau kelakuan Paman Tyo..


kalau malem ndak bisa tidur, sekalinya kasih komen langsung dendam bales komen lagi…
Matur sembah nuwun..
Februari 27, 2008 pukul 11:41 am
[...] + Pengakuan Mas Bambang [...]