Selamat siang,
Sudah lama rasanya saya tak menyambangi blog “runyam” ini. Seminggu belakangan ini saya ndak ngantor namun “dipaksa” bergaul dengan para reserse POLRI untuk saling bertukar ilmu dalam rangka mencari [penghidupan lebih layak] keahlian memperdalam ilmu investigasi. Mungkin bilamana dirasa ilmu ini sudah usang dan tak besifat rahasia, saya akan membagi ceritanya dengan para Sahabat Kopidangdut tercinta.
Kali ini saya sedang tidak ingin bercerita mengenai hal-hal serius dan populer. Mungkin sedikit ganjil dan luput diperhatikan banyak orang [karena memang tidak banyak digemari?].
Esquire, Playboy dan Penulis Lepas Sosialis Apakah ada hubungannya antara majalah bulanan franchise dari luar negeri semacam Esquire [ majalah pria mapan], FHM [majalah pria dipan*], dan Playboy [majalah pria kelilipan**] dengan penulis lepas berhaluan [kiri] sosialis sekaliber Eka Kurniawan, Asrid Reza dan Puthut EA.
Apakah para sahabat pernah mendengar nama-nama dan istilah berikut: Eka Kurniawan? Cantik Itu Luka? Astrid Reza? On/off? Puthut EA?
Oke lah… apa kenal ini? Pramudya Ananta Toer? Ya, pasti jauh lebih kenal Bung Pram dibandingkan Eka Kurniawan dan Putut EA, apalagi Astrid Reza.
Tiga nama terakhir adalah serombongan penulis muda yang sekarang menyemarakkan kancah cerpen, novel dan sebagian karya sastra lainnya. Apakah kebetulan atau tidak, mereka semua punya jejak sejarah di Jogjakarta di awal tahun 2000-an. Eka telah membuktikan dirinya bahwa Pram salah.
Dengan buku “Cantik itu Luka” yang tebalnya lebih dari 400 halaman, Eka secara tunai dan tuntas memutarbalikkan fakta bahwa Pengarang Jaman Sekarang tak mampu dan tak mau menulis semacam Roman yang berkualitas sekaligus berkuantitas [secara halaman].
Cantik itu Luka terbit lebih dari 400 halaman. Beberapa bulan yang lalu saya membeli Playboy edisi 2, rupanya Astrid Reza menulis cerpen di sana. Sayang saya lupa apa judulnya. Demikian juga dengan Eka yang mengirimkan cerpen di majalah bulanan esquire, edisi bulan November ini. Yang saya tahu, Eka pernah mengisi kolom Bentara KOMPAS. Sedangkan Puthut EA sekarang sudah menjadi pelanggan tetap pengisi kolom cerpen KOMPAS minggu.
Jujur saya awalnya bingung. Dahulu, yang saya pahami, mereka menulis dalam media terbatas, bahkan terkesan membatasi diri dengan media yang seideologi dengan mereka. Lewat AKY [Akademi Kebudayaan Yogyakarta] mereka berinteraksi, membuat acara [contohnya: “Orang-orang yang bergegas”], menelorkan media alternatif on/off dengan salah satu edisi khususnya yang menampilkan cover provokatif: “Dian Sastro for President”.
Namun rupanya saya yang salah. Mereka adalah anak Jaman, persis yang diucapkan Pram tentang “anak jaman sekarang”. Eka, Puthut dan Astrid adalah anak jaman. Bisa hidup bak kaum proletar namun mudah juga menjelma menjadi anak kosmopolitan. Siap melahap buku-buku Garcia Marquez, Tolstoy dan siap mencermati BusinessWeek, Times, FHM, Esquire. Budaya pop tak haram bagi mereka. Itulah kelebihan mereka. Tak terkotak-kotak dan tak mengkotakkan diri.
Akademi Kebudayaan Jakarta
Adalah lembaga yang mereka sama-sama dirikan. Walau menumpang pada kantor Insist, namun rupanya produk yang dihasilkan tak sekadar “numpang lewat”. Jurnal On/off adalah salah satunya. Media yang digandrungi remaja yang tertarik dunia sastra dipastikan takkan melewatkan satu edisi –pun. Dahulu Pemimpin Redaksinya adalah Puthut EA, sebelum Ia menimba ilmu ke belantara Nusantara dan dilanjutkan oleh Astrid Reza.
Sastrawan Masa Depan Bisa jadi satrawan masa kini dan masa depan tidak muncul dari Horison, KOMPAS, atau lembaga sastra yang telah mapan. Sastrawan bisa muncul dari terbitan rutinnya dalam kolom cerpen majalah populer sekelas FHM, Maxim, Hai, majalah Popular, dan bahkan blog-blog yang makin bertaburan.
Mas Kopdang, sastrawan itu apa sih?
Mas Kopdang: Lha..? Ya sama, aku juga gak ngerti Bos..!
keterangan:
*] dipan: balai, rangkaian kayu atau materi lainnya sebagai alas kasur. Baik kasur empuk maupun kasur yang keras. Bahkan di sebagian daerah-karena ekonomi-dipan hanya sebagai alas tikar. Kasur? tak ada tuh…
**] kelilipan: keadaan mata berkejap-kejab karena terasa gatal atau perih yang disebabkan angin, debu atau benda asing lainnya sekelas lebih kecil dari pesawat F-16 dan Jumbo Jet.












Nopember 6, 2007 pukul 12:24 pm |
wih dah kayak rosihan anwar sampeyan itu pake nyinggung-nyinggung horison, lha itu lak nama hotel di bekasi itu pan?
April 29, 2008 pukul 11:12 pm |
Sastrawan masa depan akan muncul dari media-media pop yg tak terduga? Saya kok masih sangsi ya.. Soalnya, kemapanan sastrawan senior terlalu mendominasi..
Salam kenal!