Ijinkan saya, sebagai WNI, bertanya pada Bapak, Pak Presiden..
Ini adalah sebentuk rasa cinta saya kepada Bapak, seperti rasa cinta saya kepada yang lain, rakyat kebanyakan, para tukang parkir, tukang odong-odong, pekerja seks komersial, lurah, camat, anggota dewan, dan penjual jamu pegel linu… Karena saya paham, Bapak sama seperti kita semua..lahir dari seorang bunda yang luar biasa!
Ijinkan saya memohon Bapak untuk berkenan menyimaknya…, karena saya lupa nomer sms hotline yang dulu Bapak berikan kepada kami…
Satu
Saya paham siapa Jaksa Agung saat ini, Hendarman Supandji, dan saya dapat mengerti mengapa beliau memberikan statement akan tetap memperkarakan Bapak Soeharto.
Beliau paham hukum, saya pikir. Lembaga yudikatif berdasarkan ajaran Montesqieu, sepertinya sejalan beriringan dengan lembaga eksekutif yang Bapak pimpin dan lembaga legislatif yang Agung Laksono pimpin.
Pertanyaannya: Mengapa engkau cegah pemimpin kami yang lain untuk melaksanakan kewajibannya? Itu satu.
Dua
Saya juga paham Bapak doktor ilmu pertanian, bukan doktor hukum, namun bukankah setidaknya dalam masalah hukum, lebih baik serahkan kepada ahlinya.
Doa buat Bapak Pembangunan kita, selalu kami sematkan sepanjang malam..masalah apa yang kami doakan, apa yang kami panjatkan, biarlah kami yang tahu, yang pasti..doa kami adalah doa anak negeri, yang meminta kebaikan dan kesejahteraan selalu kami nikmati… masalah keadilan, biarlah tuhan yang menentukan, walau kami masih percaya pada semua pengemban amanah “rasa adil” yang ada di gedung-gedung berpalu itu…
Pertanyaan kedua: Mengapa Bapak meminta kami berdoa, sedangkan kami tak boleh berusaha mendapatkan rasa keadilan kami?
Tiga
Saya paham, Bapak Soeharto meninggalkan banyak masalah… baik sebagai manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, maupun sebagai Presiden negeri kita tercinta. Bapak Soeharto bapak yang baik. Bapak yang cinta keluarga, anak istrinya dan tentu saja cinta negeri ini seperti yang sama-sama kita cintai..
Bapak yang baik, mewariskan berbagai kebaikan kepada anak-anaknya. Bapak yang baik akan menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan lewat agama yang dianutnya…
Bila tiba waktunya, saat ajal menjemput Bapak kita satu ini, maka dalam agamanya, ahli waris akan bertanya kepada khalayak ramai: Bbarangkali ada urusan utang piutang yang belum diberekan, maka hubungi kami”.
Saya percaya, sebagai penerus tampuk kepemimpinan bangsa, Bapak akan menghadiri pemakamannya.. dan Bapak akan mendengar sekalimat tadi. Maka, bawalah para ahli fatwa MA, ahli fatwa MUI, utang apa sajakah yang dapat ditagih kepada keluarganya…bila itu adalah terbatas harta benda, maka Bapak, yang kami percayai untuk mewakili kami, yang telah mengemban amanah kami, sampaikan rasa duka cita kami..
Namun jangan lupa, untuk memberikan kembali sederetan utang Bapak almarhum kepada kami. Cukup utang harta benda saja. Berapa jumlah rekening yang beliau miliki dan beliau wariskan kepada anak-anak beliau… berapa jumlah uang di dalamnya.
Kami percaya beliau tidak berniat mengambil, namun sekadar membantu menyimpankan di berbagai rekening dalam dan luar negeri.
Kami percaya bila itu dibagikan kepada kami, maka akan habis dalam semalam sekadar membeli henpon, kamera dijital, laptop, apartemen ukuran studio, dan beberapa barang konsumtip yang sebetulnya tidak kami perlukan, namun tak sempat kami beli berhubung kami tak memiliki nyali dan tak ada daya beli…
Pertanyaan ketiga: SBYku, berkenankah dikau untuk mempertanyakan itu kepada mbak Tutut dan keluarga.. kapankah harta benda kami akan dikembalikan?
Empat
Bapak SBY tercinta… saya tahu Bapak suka mengarang lagu, suka juga membaca buku.. apalagi sekadar membaca pikiran dan perasaan kami, rakyat Bapak yang engkau pimpin.
Jangan anggap ini sekadar kewajiban Bapak yang nanti akan dipertanggungjawabkan dalam sidang di senayan maupun di hadapan Tuhan, namun adalah sebuah kesukaan bagi Bapak.
Sebuah pengabdian yang pahalanya melampaui seluruh doa kami, anak negeri..Semoga Bapak senantiasa bersama Tuhan dan bersama kami.
Maka, ijinkanlah saya mengajukan pertanyaan yang lain:
“Bersediakah Bapak mengerahkan penegak hukum yang jujur, berani, dengan integritas tinggi untuk “memohon dengan sangat kepada anak cucu Bapak Pembangunan kita untuk menyumbangkan sedikit informasi, dimanakah aset bapak disimpan, kepada siapakah aset tersebut dititipkan, nama siapa saja yang dipinjam olehnya sebagai upaya pengelabuan hukum, dan biarlah upaya damai yang dijadikan alas… Bukankah bangsa kita cinta damai?
Lima
Bapak SBYku tercinta, yang kami hormati, kami cintai..yang gagah perwira sejati, yang penampilannya gagah berani, dengan badan yang kekar dan tinggi besar, Bapak bukanlah goliath bagi kami, rakyat kecil… tetapi Bapak adalah david kami yang cerdik pandaii…
Yakinlah Bapak adalah pahlawan bangsa yang akan dikenang sepanjang sejarah negeri ini.. Kami meminta Bapak, pahlawan kami untuk berani…menghadapi serbuan goliath bangsa lain…raksasa-raksasa yang hendak mengelabui kami, memandirkan kami, membodohi kami..
Kami bukan pembenci kapitalisme, kami bukan pembenci liberalisme, kami juga bukan bangsa komunis, sosialis… kami hanya ingin hidup sederajat.. kemusliman kami, kekristianian kami, kehinduan kami, kebudhaan kami, kekonghucuan kami, bahkan keateisan kami merindukan hidup sejahtera.
Hadapilah bangsa lain dengan penuh percaya diri, jangan takut, karena kami ada di belakang Bapak…
Berdirilah dengan sikap sempurna. Kami tak mengharapkan suara anda menggelegar menyuarakan “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis”..
cukup suarakan hati nurani kami, suara hati Bapak dan suara hati nak cucu kita… Percayalah bila itu yang dapat Bapak persembahkan kepada kami, yakinlah tahun depan pemilu masih milik Bapak..Bahkan pusat antariksa yang mbesuk kita dirikan, di dekat Biak sana akan dinamakan:”SBY Air Space”..yakinlah..
Dan dengan suka cita tahun 2024, kepresidenan anda akan dengan senang hati saya gantikan..
Pertanyaan terakhir…:
Mengapa Bapak sering kami lihat ragu-ragu melakukan sesuatu..apapun itu..?
Sekian dari saya,
Mas Kopdang,
Salah satu rakyat Bapak..














Posted by Aan on Januari 13, 2008 at 8:01 pm
ringan tapi padat berisi…
ohya salam kenal :p
Mas Kopdang: Lha, sampeyan ngomentari artikel opo bojone wong liyo?
Posted by Dimas on Januari 14, 2008 at 2:44 am
Pak SBY, sayah mau tanya, kenapa sayah belum lulus-lulus juga?! *kaburrr!*
salam kenal ;
Mas Kopdang: Tadi Pak SBY sms, kataaya: “gimana mau lulus, Mas..utang di kantin aja masih nunggak..”
Posted by tehaha on Januari 14, 2008 at 1:19 pm
hmm….
sama2 merindu mas..
merindukan keadilan…!!!
-lam kenal-
Mas Kopdang: tehaha siapanya Tehaer?
Posted by Beta Uliansyah on Januari 14, 2008 at 1:32 pm
Wah makin bermutu nih tulisan kopdang. Biasanya aduh.. ampun deh!
Mas Kopdang: Maklum, Mas..dulu saya sering menyambangi blog sampean..tapi sekarang saya jarang lagi..maaf ya..tapi hasilnya lumayan, pengaruh gaya penulisan sampean tidak berimbas lagi pada saya…
Posted by komikus keren on Januari 14, 2008 at 2:11 pm
wah, posting sampean nendang banget. sayang, yang ditendang gak ngerasa
Mas Kopdang: ndak apa-apa, besok-besok tak banting sekalian…
Posted by suko on Januari 14, 2008 at 8:42 pm
pas dibuka
pas ketemu yang jahilnya
tapi saya suka ….
ngapunten ya mas
Mas Kopdang: Perasaan lebih jail Pak Presiden deh, mau ngurusin beginian..
Posted by Mardies on Januari 15, 2008 at 12:53 am
Keren banget artikelnya.
*sedih, nggak pernah bisa nulis kaya gini*
Mas Kopdang: *Duh, jadi sedih, bisa gak ya rendah hati kaya sampean…?*
Posted by febee on Januari 15, 2008 at 5:18 pm
jadi ?? pemilu besok milih sapa neh ?? hahahaha
salam kenal yah..
Mas Kopdang: Yang jelas gak milih yang sekarang… paragraf terakhir cuman bikir GR beliau saja…
Posted by inibudi on Januari 15, 2008 at 6:30 pm
Sekedar Komen buat yang no 1. Lembaga Yudikatif yg dimaksud Mbah Montesqieu adalah Mahkamah Agung, yang kedudukannya sejajar dengan Presiden.
Kalo Jaksa Agung mah kedudukannya teteup dibawah Presiden…. Ya, terserah Tuan Presiden mau disuruh ngapain ajah….
Mas Kopdang: Wekss, terima kasih..betul sampean..!
Posted by jalansutera on Januari 16, 2008 at 1:14 pm
pertanyaan keenam:
Sudikah bapak SBY memberikan jawaban atas 5 pertanyaan yang diajukan oleh sdr kopidangdut ini?
Saya yakin SBY pun akan ragu menjawabnya!
Mas Kopdang: Pasti…!
Posted by theloebizz on Januari 16, 2008 at 3:38 pm
pertanyaan terakhir bagus bangeeet…”kenapa selalu ragu2 melangkah pak?”–> yakinlah apa yg terbaik saja..ikuti hati nurani..jgn bisikan sana sini..*laaaah jd serius gini…*
Mas Kopdang: Lha, saya menulis dengan serius lho..jadi semestinya Anda juga bersikap serius..MENGERTI..!!!
Posted by sawung on Januari 16, 2008 at 4:06 pm
Tidak jadi membangun pusat antariksa di biak. Liat saja di blog saya .
Kenapa ga jadi ya?
Mas Kopdang: terima kasih atas info baru dari sampean..
Posted by STR on Januari 16, 2008 at 6:32 pm
SBY pasti punya tidak cukup waktu buat jawab pancatanya sampeyan di atas, Mas …
Mas Kopdang: Saya ndak butuh jawaban.. hanya butuh bukti nyata… *cailaaah*
Posted by STR on Januari 16, 2008 at 6:37 pm
Oya, satu lagi, sayangnya SBY nggak ngeblog, jadi … ya jadi gitu …
Mas Kopdang: Nggak papa, tapi laporan dari BIN mengenai blog saya sudah diterima beliau, koq…
Posted by -tikabanget- on Januari 17, 2008 at 6:12 am
ayo bikinken blog buwat SBY kalo begituh..
Mas Kopdang: Lha, bukannya SBY singkatan dari Seleb Blog Yogyakarta
Posted by andrias ekoyuono on Januari 17, 2008 at 10:49 am
Mau koreksi, tapi ternyata udah dikoreksi ama inibudi
Kalau begitu, lebih baik saya mendengarkan kopidangdut sambil nunggu jawaban SBY
Mas Kopdang: Wah, itu sama saja menunggu Godot, Om.. !
Posted by pitik on Januari 17, 2008 at 4:54 pm
saya akan sampaikan ke pak SBY
*menyamar sebagai andi malarangeng*
Posted by GWnya on Januari 17, 2008 at 10:11 pm
mas kopdang di fwkan ja ke http://www.predeidensby.info/ …itu blognya sby khan yach….wehehehe.pasti mas kopdang semakin terekenal n nyeleb….mantab2 nich pertanyaan2nya
Mas Kopdang: Terima kasih atas infonya..
Posted by SBY on Januari 23, 2008 at 4:13 am
jawaban:
1. you know lah, saya kan kadang gak enak sama keluarga mantan bos.
2. apa salahnya sih berdoa,mas? ya sudah kalau gak mau mendoakan dia, doakan saja saya jadi presiden lagi.
3. Sttt..gak usah minta sama mbak tutut. Khusus untuk sampean saya kasih henpon, laptop, dan benwit tanpa batas. Tapi jangan bilang siapa2 ya..
4. Oh iya..saya setuju itu. Saya kan sudah pasrahkan sama Jaksa Agung. biar dia aja yg urus, sementara saya mau nyiapkan diri untuk pemilu 2009.
5.Oh..itu bukan ragu2 mas. Cuma ati2..Saya juga ndak takut sama siapa2 kok, selain..ehem2.u know lah..
Posted by lahapasi on Januari 27, 2008 at 9:15 pm
suharto dah mati tu mas/……
bikin pertanyaan lagi dong?
Posted by Orangmuda.com » Pelacuran Media Massa: Soeharto Berkuasa dari Liang Kubur on Januari 29, 2008 at 2:16 pm
[...] kabur! Ini bisa jadi preseden buruk buat wajah yudikatif kita yang sudah busuk! Silakan baca referensi dari Mas Kopdang [...]
Posted by Paling Cuma Bikin Bayi Mencret « Mas Kopdang on Februari 25, 2008 at 9:24 am
[...] + Mas Bambang Yang Tak Menjawab-jawab [...]
Posted by Bantuan Likuiditas Koperasi Kopidangdut « Mas Kopdang on April 10, 2008 at 5:30 pm
[...] Kampret-Desus, ketua Aingem-ep tergopoh-gopoh menemui Bapak tiri Mas Bambang, si Eyang yang waktu itu masih menjabat sebagai Lurah. Dalam pertemuan itu Pak Kampret minta si [...]
Posted by kakangmas on April 23, 2008 at 2:06 pm
emang kelihatan ya kalau SBY ragu-ragu? maaf, jarang liat YBS soalnya, beda pergajulannya
Posted by irwandiaz husen on April 29, 2008 at 3:43 pm
indonesia membingungkan…
Posted by satria.anandita.net - Pelacuran Media Massa: Soeharto Berkuasa dari Liang Kubur on Mei 10, 2008 at 2:18 am
[...] kabur! Ini bisa jadi preseden buruk buat wajah yudikatif kita yang sudah busuk! Silakan baca referensi dari Mas Kopdang [...]
Posted by Mas, Kapan Negeri Kita Maju…? « Mas Kopdang on Juni 13, 2008 at 3:44 am
[...] gak Mas…? Makmur gak Mas… Presiden kita kan Doktor Tani. Wapresnya kan Lulusan Prancis dan jago berpidato juga..Masak gak makmur sih [...]
Posted by KopiDangdut » Blog Archive » Bantuan Likuiditas Bank Indonesia on Juli 1, 2008 at 11:06 am
[...] Kampret-Desus, ketua Aingem-ep tergopoh-gopoh menemui Bapak tiri Mas Bambang, si Eyang yang waktu itu masih menjabat sebagai Lurah. Dalam pertemuan itu Pak Kampret minta si [...]