Eyang,
Selamat jalan, semoga selamat sampai tujuan…
Maafkan saya yang selama ini selalu berprasangka tidak baik kepadamu. Yang, semenjak kepergianmu, saya merasa bersalah, kehilangan dan kesepian dengan berbagai pemberitaanmu, Eyang.
Setelah saya renungkan, Eyang adalah figure yang istimewa. Eyang selama enam jam, konon katanya, memimpin pasukan bamboo runcing melawan Belanda dan antek-anteknya di Jogjakarta. Usia eyang waktu itu masih 28 tahun.
Salut Eyang
Eyang juga yang menjadi pengemban amanah supersumir, dari Idola saya yang mulia Bung Karno. Bayangkan, konon katanya, seorang Mayjen dipercaya oleh pimpinan tertinggi bangsa, bukan para Jenderal yang lain…Eyang memang istimewa bagi Bung Karno, mungkin hingga akhir hayatnya akan selalu terkenang dan terkesan dengan Eyang.
Eyang juga membawa bangsa ini menjadi negeri yang membangun. Oil booming Eyang jadikan momentum menuju bangsa Indonesia yang gemar ripah loh jinawi. Eyang jadikan bangsa ini negeri agraris, bahkan tentara pun Eyang wajibkan masuk desa: menyangkul, menyemen, membata, mendirikan rumah dan menggali saluran air irigasi.
Tentara yang di negeri lain bertugas menjaga rakyat dan negeri dari serangan luar, bangsa lain, Eyang karyakan juga untuk membangun desa, dan tentu saja ikut mengamankannya. Mengamankan kami. Eyang juga membuat kami rajin berkerja. Rajin berkarya. Eyang meminta kami bahkan mewajibkan kami masuk golongan orang yang berkarya sapaya makmur, sejahtera.
Dan itu tampak dari padi yang menguning, jalan yang menguning, bangunan yang menguning, kemeja yang menguning, bahkan bila perlu Eyang wajibkan kami bercelana dalam warna kuning. Apakah perlu gigi kami tak disikat sebulan agar juga menguning? Eyang adalah symbol kemajuan.
Senyum Eyang menentramkan kami, Dahulu uang kami bergambar Eyang yang sedang tersenyum. Dengan kehadiran eyang di dompet kami, di brangkas kami, sungguh sangat menentramkan hati kami. Bahkan ketika kami sedang salah jalan atau melanggar lalu lintas, kami akan dengan senang hati menunjukkan wajah Eyang kepada Polisi yang bertugas dan mengamankan lalu lintas. Dasyat Eyang, Polisi pun ikut tersenyum setelah melihat wajah Eyang yang tersenyum manis.
Eyang juga pandai memilih menteri. Menteri yang hebat mengelola negeri. Kami yakin dengan tim ekonomi yang Eyang pilih. Pembangunan merajalela, pengangguran hanya sedikit, keluarga berencana benar-benar terlaksana, dan kami tak kuatir walaupun semuanya itu berasal dari pinjaman yang kami pun yakin pasti akan kami bayar esok hari.
Kami senang pribumi jadi pengusaha, bahkan sebelum keluarga Bakrie menguasai negeri. Cendana sangat harum dimana-mana. Minyak, property, jalan tol, televisi, koran hingga mimpi kami, semuanya telah dikelola dengan baik oleh putra-putri Eyang yang ganteng dan manis itu. Kami merasa terwakili.
Warisan Eyang masih hangat di wajah kami. Di kantor saya, tak ada etnis Tionghoa yang menduduki kursi, walaupun kami rindu adanya muka-muka jenis ini sebagai kawan kerja kami. Tidak sekadar bila ditemui di Pasar Pagi atau toko elektronik yang menjual televisi. Eyang adalah contoh pimpinan yang mengayomi. Bayangkan, Eyang benar-benar mencintai dan dicintai negeri ini. Eyang dipercaya hingga lamanya seusia Nabi Isa kita. 32 tahun! Eyang benar-benar hebat.
Mana ada wakil rakyat kami yang berani menginterupsi Eyang? Mana ada yang berani mempertanyakan kebijakan Eyang? Bukankah itu tandanya Eyang memang disegani? Eyang juga memajukan Pramuka, sehingga saya bisa menjadi Pradja Muda Karana yang baik. Tidak seberingas Pradja Muda yang lain yang selebor sekelas Pradja Jatinangor.
Eyang juga berkelas, menjadikan kami warga yang berswasembada pangan. Bahkan Pakde Harmoko, walaupun seorang menteri mau untuk mengikuti harga mentimun, wortel dan harga cabe keriting. Baik di Pasar induk Kramat Jati hingga pasar di seluruh pelosok negeri.
Eyang juga berani meminta sastrawan keblinger sekelas Pram, Arswendo dan Bambang Harymurti masuk bui! Ya, memang Bambang Harymurti bukan dibui saat Eyang memimpin, namun setidaknya bila TEMPO masih Eyang bredel maka Bambang tak jadi dibui, karena TEMPO tak terbit lagi. SIUPP memang oke, buktinya sekarang setelah segalanya bebas, wartawan makin keblinger. TEMPO makin nakal Eyang. Tommy Winata dan Sukanto Tanoto adalah penerus Eyang yang berani melawan TEMPO.
Santai saja Eyang, penerus Eyang makin menjamur, dan saat ini bukan sekadar pegawai negeri memakai seragam KORPRI, melainkan menjalar kepada bos property, bos minyak goreng hingga bos ekstasi.
Eyang, Jangan kuatir, kami selalu mengenang Eyang. Kami akan selalu mendoakan Eyang mendapatkan surga yang terbaik. Tuhan itu Maha Penyayang Eyang. Eyang pasti akan diampuninya. Yakin deh!
Eyang, bila Surga sudah milik Eyang, tolong kabari kami. Tunjukkan atau setidaknya bocorkan rahasianya bagaimana caranya hidaup di dunia enak, dan di akhirat masuk surga. Kami ingin mengikuti jejak Eyang.
Lihatlah Eyang. Pelindung Eyang banyak sekali.
Jujur, dulunya kami benci Eyang, karena kami percaya semuanya pun sama seperti kami, menolak semua keburukan hasil pekerjaan Eyang. Namun kami kecele, ternyata kami hanya minoritas, setidaknya di kalangan pemimpin kami. Eyang masih menjadi panutan. Pengikut Eyang berhasil semua menjadi pimpinan saat ini.
Eyang hebat betul deh, melahirkan pemimpin yang lebih banyak lagi dan lebih hebat dibandingkan Eyang.
Sudah ah, Eyang… Eyang istrirahat saja, berkonsentrasilah dengan pertanyaan jahil malaikat nanti. Kami percaya para malaikat telah hapal Eyang. Coba deh baca-baca lagi doa-doa dan puja-puji kepada Tuhan, ya kepada Tuhan, baik Tuhan Eyang, Tuhan kami dan Tuhan malaikat itu.. Tuhan kita tetap satu kok Eyang.
Eyang selamat jalan. Bangsa ini kehilangan Eyang.
Sekali lagi saya mohon maaf, tanpa adanya Eyang di negeri ini, kami takkan mengenal itu penderitaan, penganiayaan, dan sebuah kata: Korupsi. Terima kasih Eyang telah menjadikan kami manusia yang sejati.
Tanpa adanya Eyang, KPK takkan ada. Tanpa kehadiran Eyang, tak ada Mahkamah Konstitusi. Tanpa kepemimpinan Eyang KONTRAS takkan pernah lahir. Tanpa kehadiran Eyang, kami takkan dikenal sebagai bangsa yang penuh kreasi dan inovasi, walaupun miskin kepandaian teknologi.
Eyang… tanpa jasa-jasa Eyang, mungkin kami jauh lebih maju dari saat ini….Tapi sudahlah..nasi sudah menjadi bubur, hanya tugas kami yang masih bisa merasakan bubur, untuk maju bersama membangun negeri…
Selamat jalan Eyang,
Semoga selamat sampai tujuan…
Salam kompak selalu dari salah satu cucumu
Mas Kopdang.
P.S: Ingat Eyang, di surga tidak ada dokter dan pengacara, jadi bila ada apa-apa tolong kabari kami semua agar kami segera kirimkan doa.













Januari 27, 2008 pukul 8:41 pm |
kelupaan:
gambar uang diambil dari:
daengassing.com
Januari 27, 2008 pukul 9:42 pm |
Wah… saya jadi tersentuh…
Emang kalau bukan karena sayangnya saya kepada eyang, saya tidak akan kelayapan di jalan, ninggalin kuliah dan telat lulus karena keseringan ngajak temen-temen meneriakkan kata dan pujian cinta pada eyang di tahun 98.
Muah..muah… selamat jalan, semoga sampai tujuan… (asyikk bener)…
Dan tentu saja ketemu lagi ama eyang putri- Tien.. apakah disana eyang putri juga masih menjadi “Madam Ten Percent”?
Kalo ada yang penting kabari kamu ya.. eyang.. lewat mas KopDang aja…
Januari 28, 2008 pukul 11:16 am |
wah bagus tulisannya,
selamat jalan juga eyang! Hati2 ya!
Januari 28, 2008 pukul 10:17 pm |
dan eyang pasti bangga punya cucu ky mas kopdang yg mampu merangkum segala ‘panutan’ yg diberikan eyang selama ini….ati2 disana yah…
Januari 29, 2008 pukul 3:49 am |
Selamat jalan eyang Soeharto, salam buat eyang putri…
Kalo ada kabar tolong cucu-cucu eyang ini dikabarin…lewat Mas Kopdang aja…kalo di tempat istirahat terakhir, eyang merasa kesepian, atau eyang butuh bantuan buat menjawab pertanyaan-pertanyaan jahil para malaikat gak usah sungkan2 silakan eyang jemput aja Mas Kopdang. Mas Kopdang lebih pinter dari saya, saya yakin Mas Kopdang banyak banget mebantu
Februari 27, 2008 pukul 9:13 pm |
Neng akherat ora ono jus apukat..ora ono sego berkat…ora ono dankin donat…..onone malaikat….
Samapai jumpa di Pengadilan Akbar eyang…semoga kita sama2 selamat…mari amin-kan.
Mei 3, 2008 pukul 10:57 pm |
mas kopdang kasihani rakyat jangan diprovokatorin trus….. rakyat dah sengsara
Juli 1, 2008 pukul 11:14 pm |
[...] Kampret-Desus, ketua Aingem-ep tergopoh-gopoh menemui Bapak tiri Mas Bambang, si Eyang yang waktu itu masih menjabat sebagai Lurah. Dalam pertemuan itu Pak Kampret minta si Eyang, atas [...]