Gosip Sebelum Kawin.

 desa saya  

Bosan juga bicara hal-hal serius dan memasuki masalah pulitik di negeri ini.

Blog ini sebaiknya saya kembalikan ke habitatnya kembali, yaitu sekadar blog hura-hura yang bisa dijadikan ajang menghibur diri. 

Bosan bicara Bank Indonesia, SBY, Soeharto dan/atau bala kurawanya. Terlalu sayang bila blog ini sekadar membicarakan pulitik jenaka. Lebih baik saya membicarakan hal lain yang lebih santai, menghibur dan tidak bikin pembaca mengernyitkan dahi. Setuju? 

Saya akan bergosip saja.  

Saya punya tetangga, namanya Den Bagus dan Den Raden. Mengapa saya ceritakan mereka? Karena mereka adalah warga biasa. Satu hansip dan satu lagi petugas gadai di kantor kas desa. Mereka ketiban rejeki dicalonkan Mas Bambang, Lurah saya, untuk dijadikan ketua koperasi warga desa. 

Den Bagus sejatinya orang kuat. Pekerjaannya setiap hari melembur menjaga poskamling dan menjadi tukang parkir dadakan saat ada hajatan di desa saya. Sekolahnya sudah tamat STM. Dan dia dianggap berhasil mengamankan aset desa dari serbuan calo tanah dari kota, maupun maling kambuhan di desa. 

Den Raden juga hebat. Pekerjaannya di kantor gadai desa saya. Jadi, kalau saya sedang ndak punya duit, saya bisa sekolahkan sepatu, jam tangan atau celemek ibu saya di kantornya. Sekadar buat pengganjal perut. Lumayan, aset saya yang butut-butut bisa digadaikan dan saya ndak repot memikirkan bagaimana menebusnya. Lha, wong butut banget jeh’, tukang loak pun berpikir dua kali untuk membeli barang-barang saya. Hebatnya pegadaian Den Raden tak pernah menolak barang apapun, bahkan barang curian sekalipun. 

Mas Bambang sedang pusing. Beberapa bulan terakhir di desa saya gaduh gara-gara ketua koperasinya, Bang Udin, beristri lagi. Warga gaduh, ibu-ibu PKK protes luar biasa. Padahal, menurut saya, itu tidak relevan dengan pekerjaannya sehari-hari yang sungguh piawai dan mumpuni.  

Sayang seribu sayang, ibu-ibu arisan dan ibu-ibu ahli utang tak rela uang simpanan pokoknya dan simpanan sukarelanya disalahgunakan sebagai uang mahar Bang Udin untuk beristri lagi. Tuduhan itu belum terbukti, namun gara-gara Mas Bambang, lurah saya, tergolong ISTI, maka usulan Bu Ani, istrinya, kontan disetujui.  

Seperti biasa, Mas Bambang takluk pada istrinya. 

Saya sebetulnya kurang setuju bila koperasi desa yang selalu menyediakan dana lunak untuk sekolah anak-anak desa saya bakal dipimpin oleh kedua calon itu. Lha, tahu apa Den Bagus yang sehari-hari bawa pentungan? Atau Den Raden yang ahli membeli barang loakan?  Idealnya koperasi itu dipimpin lewat pemilihan RAT yang dihadiri semua anggotanya.

Tapi memang AD/ART koperasi saya berbeda. Lurah dapat dengan gagah perwira mencalonkan bakal ketua koperasi siapapun juga. Bahkan selain anggota koperasi.  Jangan-jangan Koh Pabu, penjual material yang juga rentenir di desa saya, bisa dicalonkan juga. Gawat Kwadrat kalau begini!

Apalagi penentuan yang jadi ketua koperasi ditentukan oleh koclokan arisan yang mirip undian oleh ibu-ibu PKK. Gawat binti kualat! 

Kejadian ini pernah terjadi tiga tahun yang lalu. Bapedes, Badan Pembangunan Desa di tempat saya pernah senasib serupa. Para ahli pembukuan, perencanaan kampung di desa saya yang menjadi anggota Bapedes dan semuanya lulusan SMA, terkejut hingga kepalang benjut karena tiba-tiba Mas Bambang menunjuk Pak Syah Susetya, pengangguran yang vokal di desa saya dan tak tamat SMP, untuk memimpin Bapedes.  

Itu semua hanya gara-gara Pak Syah Susetya adalah anak Pak Beringin, juragan terkaya yang diam-diam menyokong Mas Bambang sewaktu pemilihan lurah empat tahun yang lalu. Mengingat hal itu, membuat saya tidak kaget ketika Koperasi desa akan mengalami hal yang serupa.  

Saya jadi curiga, jangan-jangan Mas Bambang memang tidak memilih orang berdasarkan keahlian, namun sekadar mencari aman. Ya, Mas Bambang ingin orang-orang berpengaruh yang memiliki banyak duit tetap mendukungnya di pemilihan Lurah Desa tahun depan.  Aman, karena Den Bagus, Den Raden atau Pak Syah Susetya adalah para anak kandung dari sahabat-sahabatnya yang kaya raya.  

Den Bagus anak Paman Diri, rentenir nomor satu di desa saya. Den Raden adalah anak Pak Poltak, mantan preman yang tiba-tiba kaya raya karena menjual seluruh warisan nenek-moyangnya, sedangkan Pak Syah Susetya, seperti yang saya ceritakan tadi, anak Pak Beringin yang sepuluh tahun lalu hampir saja mati dibunuh beramai-ramai oleh warga, gara-gara ketahuan menjual tanah kas desa. 

Jujur, saya tidak terlalu pusing dengan keadaan sekarang. Segemerlap apapun, sebobrok apapun, sericuh apapun pemilihan nantinya, saya selama ini tidak bergantung pada koperasi. Saya tidak bergantung pada Bapedes dan saya tidak tergantung pada Mas Bambang.  

Toh saya sudah lama merasa desa saya memang salah urus.  

Sekadar sekolah madrasah saja, murid harus bayar iuran bulanan yang ndak masuk akal. Sekadar membeli minyak goreng saja dibatasi 5 liter sebulan.

Dan Mas Bambang pekerjaannya hanya berpidato sembari keluar masuk salon TeNI, pria berkelamin ganda dan dwi fungsi yang termasyur hingga satu kecamatan, untuk sekadar memangkas rambut atau mencukur kumis. 

Jadi jangan harap di desa saya penuh ketertiban. Yang ada adalah penuh keajaiban, karena warga desa saya yang tak pernah diurus, mampu bertahan dengan segala macam goncangan maupun godaan. Mas Bambang tergolong orang yang cari aman. Bagi saya mencari aman bukanlah tergolong sebuah kehidupan. 

Tapi biarlah, mungkin sudah sejak awal desa kami memang tidak diberi hak untuk hidup layak. Bukan karena warganya bodoh dan tak berpendidikan, namun karena dipimpin para pandir dan orang jenaka. 

Daripada memikirkan itu, lebih baik saya kawin saja.

Karima, bunga desa tetangga sudah tak sabar saya peristri. 

Gosip ini saya tutup dengan ucapan selamat. Semoga Den Bagus atau Den Raden, siapapun yang terpilih, tidak tergoda kawin lagi, sehingga aman dari pencopotan paksa para ibu PKK. 

“Karima, Abang dataaaaaang!” 

***

Disclaimer: Bila ada persamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, itu semata-mata ke-GR-an anda saja. Saya tidak sedang membicarakan siapa-siapa. Ini semata-mata gosip semilir di desa saya. Salam kopidangdut dan Merdeka! 

keterangan: gambar diambil dari pbase.com

Tulisan terkait:+ Saya Bambang               

11 Tanggapan ke “Gosip Sebelum Kawin.”

  1. mantannya karima Berkata:

    “..Segemerlap apapun, sebobrok apapun, sericuh apapun pemilihan nantinya, saya selama ini tidak bergantung pada koperasi..”
    lha bukannya sampeyan pegawai koperasi juga? wah jangan-jangan duit buat ngelamar karima diembat dari kas koperasi nih ;)

  2. iway Berkata:

    endingnya kurang menggigit kang

  3. papabonbon Berkata:

    alhandulillah, mas kopdang kembali ke jalan yg benar :)

  4. papabonbon Berkata:

    diancok, tiba’e yo pada bae .. :)

  5. lahapasi Berkata:

    hehehe..,boleh lah mas sekali-kali di selingi yang kayak gini..

    *seneng*

  6. theloebizz Berkata:

    laaah..klo gitu mas kopdang aja yg gantiin mas bambang ya toh?? ;)

  7. l’ami de notre ami est notre ami « Mas Kopdang Berkata:

    [...] Ya..Mas Bambang yang selalu menunggu Godot. [...]

  8. Gosip Lurah Kopidangdut « Mas Kopdang Berkata:

    [...] dan desa tetangga.  Apa yang bisa diharapkan dari mantan hansip dan tukang gadai? Tulisan terkait:+ Gosip Mas Bambang + Pengakuan Mas Bambang+ Pemilu  Mas [...]

  9. Ketua Koperasi Kopidangdut « Mas Kopdang Berkata:

    [...] gosip sebelum kawin [...]

  10. Bantuan Likuiditas Koperasi Kopidangdut « Mas Kopdang Berkata:

    [...] sol sepatu, penjual krupuk dan penjual material ikut-ikutan menjadi rentenir. Termasuk di antaranya Koh Pabu (penjual material), Om Lem Sia Long (penjual mie ayam), Bedil Mukamad (Ketua RT Gorong Balo). Mereka [...]

  11. KopiDangdut » Blog Archive » Bantuan Likuiditas Bank Indonesia Berkata:

    [...] sol sepatu, penjual krupuk dan penjual material ikut-ikutan menjadi rentenir. Termasuk di antaranya Koh Pabu (penjual material), Om Lem Sia Long (penjual mie ayam), Bedil Mukamad (Ketua RT Gorong Balo). Mereka [...]

Tinggalkan Balasan