Itulah yang dikatakan Kepala BPOM dan Menteri Kesehatan terkesan tak ambil pusing terkait dugaan adanya kebocoran standar higienitas pembuatan susu formula untuk bayi sehingga dianggap beracun (harian KONTAN-25 Februari 2008).
Ah, dua ibu ini mungkin telah berubah menjadi nenek-nenek, sehingga lupa bagaimana repotnya memberi ASI, atau bagi ibu yang kurang beruntung, menggantikannya dengan susu formula, seperi Bun, istri saya.
Lalu, mengapa bayi mencret di usia belia, kok dianggap biasa-biasa saja…?
Padahal, pengalaman saya, ketika Ciprut terkena diare saat usia 2 bulan, kerjaan Mas Kopdang Cuma menangis, menangis dan menangis. Bukan apa-apa sekadar Gak Tega! Lihat anak kecil masih owak-owak, lutu-lutuna, eh diinfus di lengannya. Duh, mesakne’..
Apakah dua nenek-nenek itu tidak paham atau lupa karena kebanyakan proyek bahwa temuan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan bahwa diare merupakan penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia pada 2005.
IPB sudah mengungkap adanya bakteri Enterobacter Sakazaki dalam susu formula bayi namun pemerintah diam saja. Menunggu siapakah gerangan? Menunggu Petunjuk Mas Bambang? Ah, dia pun sedang bengong karena lama menanti dikaruniai cucu.
Tulisan terkait:
+ Mas Bambang Yang Tak Menjawab-jawab
Keterangan:
Gambar diambil dari blog sendiri karena masih anak sendiri.











Februari 25, 2008 pukul 12:26 pm
haduh repot ya? itu disebutin ga susu formula merek apa?
*yang 4 bulan lagi bakal punya bayi.. huhuhu*
Februari 25, 2008 pukul 12:45 pm
untuk 2 nenek itu, sejuta sehari tuk perawatan anak2nya gak masalah…. tuk kita2 ini 2ratusribu sehari itu benar-benar masalah…
kayaknya ini pertama kali saya mampir ya…? oya mampir juga diblog saya mas kopdang.
salam,
agung paramarta
Februari 25, 2008 pukul 1:24 pm
Mas Kopdang, dulu anakku juga terpaksa pake susu formula campur ASI tapi pas 4 bulan full formula..lha wong istri kerja, serem juga kalo baca tulisan sampeyan…(lebih serem daripada nonton hantu ambulance ).. tips.. beli susu formula di koperasi aja Mas..lebih murah n bisa ngutang…
Februari 25, 2008 pukul 2:18 pm
@ chic
mereknya? duh gak disebutin..Yang jelas tertulis “tidak diperkenankan bagi bayi berkumis..!
@paramarta
sejuta buat apa? buat bayi yang keracunan? mending gak punya duwit Mas, daripada ngeliat anak lemes diinfus..
@golg

Lha, koperasi itu khusus yang pake asi..namanya juga koperasi. Kalo pake formula namanya ngutang ke kopermula..
Februari 25, 2008 pukul 8:23 pm
yah yang bilang “paling cuman bikin mencret” semoga anak (cucunya)terkena bakteri sakazaki
Februari 26, 2008 pukul 12:54 pm
sampai batas apa bakteri itu bisa ditolerir tubuh bayi?
dan jelas BPOM gak mungkin peduli kan kita tau gmn cara kerja mereka malah adanya temuan ini dijadikan peluang untuk meraup suap lebih gede……,
knpa gak disebutin aja siy merk susu formula nya? seberapa banyak kandungan bakteri itu? sampai batas mana bisa ditolerir? dan akibatnya apa?
Februari 27, 2008 pukul 11:05 am
ada indikasi ini persaingan dagang, karena isu sakazaki ini pernah muncul kira2 thn 2006 yang dihembusakan oleh salah satu produsen susu formula besar untuk “menjatuhkan” dan saat itu yang kena produsen susu formula yang ada di jawa. penelitian yang dilakukan sudah diadakan dari 2003 sampai 2006 menurut berita yang ada, tapi hingga saat ini belum ada berita bayi meninggal karena keracunan sakazaki dan amit2 kalo ini terjadi. dan yang saya tau saat ini semua pabrik susu formula menerapkan standart hygiene dan GMP yang baik, dan pengecekan sakazaki pun sudah dilakukan di pabrik produsen susu formula bayi ini adalah bentuk kesadaran dan langkah antisipasi akan bahaya tersebut. dan untu mencret susu dimana bahan bakunya adlah skim slah stunya merupakan alergen dan bisa menyebakan mencret karena mengandung laktos, dan kemungkinan bayi belum bisa menghasilkan enzim laktose untuk memecah laktos tersebut dan mengakibatkan mencret.
Februari 27, 2008 pukul 11:21 am
Bung Atebt,
Berita ini merupakan hasil penelitian para ilmuwan IPB.
Bukankah ilmuwan boleh salah asal jujur dalam metodologi dan hasilnya?
kecuali yang menghembuskan adfalah politisi, yang boleh bohong asal “kelihatan” benar…
terima kasih atas informasi Kang Atebt

Februari 27, 2008 pukul 1:32 pm
Katanya sih bukan hanya mencret, tapi radang selaput otak juga! Wiiiih…
Setiap kali muncul isu-isu model begini pasti deh ntar dipolitisir. Gak disebutin merk-merk yang diteliti sampai ke Jerman (katanya) jelas supaya tidak terjadi perang antar perusahaan toh ya?
Capek deee..h!
Mending ASI: murah, praktis kayak “termos ajaib”, pasti dibawa ke mana-mana, sehat dan mesra!
Salam kenal Mas Kopidangdut!
Februari 27, 2008 pukul 2:09 pm
Cak Kandar bisa saja: ” portable, sehat dan mesra..” ..

satu yang kurang Cak: “Mak nyussss”
Februari 27, 2008 pukul 9:03 pm
Betul..!setubuh!…e ..setujuh!setuju…ASI kata AHLINYA tidak hanya unggul dalam hal formula gizinya, tapi juga KEMASANNYA itu lho masss..gemesin…..
Februari 28, 2008 pukul 8:46 pm
Maaf numpang lewat…
Saya hanya menyampaikan rasa sakit hati yg dirasakan oleh akademisi di IPB khususnya Fakultas Kedokteran Hewan.
Kami merasa dilecehkan oleh pernyataan Bu Menkes yg melecehkan profesi dokter hewan yg sngat mulia.
Februari 28, 2008 pukul 8:53 pm
Padahal sudah jelas disebutkan dlm undang2 bhw yg berhak menjamin keamanan pangan asal hewan (susu,telur,daging) adlh dokter hewan. Untuk semua dokter hewan, BANGKITLAH…jgn mau harga diri & profesi Kita diinjak2. Viva Veteriner Indonesia!!!
Februari 29, 2008 pukul 1:37 am
belakangan nonton tv buat resekkkkk gara-garanya dengar pemerintah nggak mau ngumumin merk dan jenis susu nya
Maret 1, 2008 pukul 12:47 am
@ Iyus
gemesin??
@ Tika
Maklum waktu kecil, Bu Menkes pernah kena suntik rekan sampean kalii ?
@ Freddy
mereknya: Susu Diare Dodolipet!

jenis susunya: Susu celup, Mas…
Maret 3, 2008 pukul 11:36 am
waduh tika,, maaf bgt ya……. IPB kemana aja? hasil penelitiannya ko baru keluar sekarang-sekarang ini? Ko langsung bikin heboh masyarakat sih?? Sementara hasil penelitian berguna lainnya disimpan di laci, hasil penelitian yang ini ko di sebar-sebar? walhasil, jadi banyak yang gak ngasih susu ke anaknya tuh.. Sebenarnya kan hal seperti ini bisa diselesaikan secara intern antar institusi (IPB langsung ke BPOM). BPOM dan Depkes juga sebenarnya harus cepat tanggap buat masalah ini. Statement yang tertunda buat ibu2 Indonesia gak percaya ma institusi resmi pemerintah, saya yakin kalo BPOM telah meneliti sebelumnya, dan atau memahami bahwa bakteri tersebut tidak berbahaya mungkin sudah langsung ada laporan resmi kepada masyarakat luas..secepat publikasi IPB dikeluarkan.
Buat BPOM : Kerjanya mana???? Kejadian ini menuntut masyarakat patut waspada karena tidak semua makanan yang kita makan ternyata diteliti terlebih dahulu bagus tidaknya untuk kesehatan oleh BPOM,,,
Buat rekan-rekan IPB : cari pamor? atau sekedar bikin heboh? Saya yakin maksud rekan-rekan baik. Tapi hendaknya punya pemikiran lebih jauh mengenai dampak dari hasil publikasi tersebut.. Maaf, saya tidak pernah merasakan dampak langsung dari hasil penelitian IPB lainnya yang lebih berguna untuk masyarakat luas.
Semoga kejadian ini lebih mendidik kita semua.
Salam Mendidik..
Maret 5, 2008 pukul 10:30 pm
Bijaknya sih pemerintah nggak menyembunyikan data tersebut, yang justru meresahkan masyarakat…
Masyarakat juga jangan terlalu panik, karena sebenarnya bakteri Enterobacter sakazakii dapat di matikan dengan suhu 70 C (prakteknya kalau bikin susu formula setelah mendidih air panas ditutup dan didiamkan kira2 30 menit utk dapet suhu 70 C lalu baru dibikin susunya, sumber FSA (Food Standard Agency)), dan jangan mendiamkan susu yang dah dibikin tadi lebih dari 2 jam, karena rawan tercemar kuman dari luar… Tapi bagaimanapun sampai saat ini ASI IS THE BEST 4 BAYI !!!!!
Mei 13, 2008 pukul 6:40 pm
Memang intinya susu sapi tetap aja berbahaya.
Blom hormon pertumbuhan sapi, blom sapi di paksa jadi kanibal, blom infeksi pada puting sapi, blom kandungan antibiotik dan sulfur pada sapi
susu the most political food in the world