Hayooo, hebat mana antara marah dan menunggu? Marah tentu saja berbeda dengan menunggu. Marah itu berarti ada ketidakpuasan namun tersalurkan. Bila ketidakpuasan atau kebelumpuasan tidak tersalurkan maka menjelma menjadi nafsu. Menjadi dendam. Menjadi api dalam sekam.
Kalau menunggu? Kok dibahas menunggu? Memang berhubungan?
Masalah berhubungan atau tidak, pasti berhubungan. Namun menjadi soal apakah hubungan itu langsung dan merupakan sebab-akibat. Marah dan menunggu tidak seperti dua permukaan air pada bejana berhubungan. Hubungannya jauh, masih sejauh tikabanget menemukan jodohnya. Sedangkan menunggu merupakan proses menghayati sabar. Itu pun ada yang tidak sependapat.
Lenin berkata:
Menunggu adalah musuh revolusi…
Menunggu pun punya riwayat yang memilukan. Menunggu Godot sudah menjadi istilah yang lumrah untuk urusan menunggu kepada suatu hal yang nihil bin mustahil. Masyarakat yang termakan angin semilir adanya harapan. Adanya kepastian yang menggembirakan.
Kenyataannya? Nol besar…
Menunggu Ratu Adil, Mas
Ya. Nusantara selalu mengelu-elukan kehadiran Ratu Adil. Namun, yang terjadi adalah Ratu Bedil yang diperagakan oleh Westerling jaman pasca kemerdekaan yang lampau. Setiap pergantian pemimpin selalu dikaitkan dengan Ratu Adil.
Kalau begitu mending Ratu yang satu lagi Mas.. ratunya banyak..cantik-cantik lagi. Ada Maia, Mulan dan Pingkan Mambo.
Lha, kita memang mau ngomongin Ratu? Saya kan sedang ngomongin Marah dan Menunggu..! Ya. Saya marah. Masalah kenapa dan kepada siapa sepertinya tak perlu diumbar kemana-mana. Dan saya tidak mau menunggu.
Sok rahasia Lu..! Emang gw pikirin?
Hahaha… Yang jelas tahun depan saya termasuk golongan ilmu putih-seperti tahun-tahun lampau-, kecuali ada si Godot dan Ratu Adil yang terang-terangan mencalonkan diri.
Jujur saja, belum lima tahun saya sudah bosan dengan yang ini. Surabaya dan Jakarta ternyata tak ada apa-apanya. Pepesan Kosong!
Setuju Mas…Tebar Pesona Nih Yeee…!
Salam,
*Keterangan:
Dalam ilmu geografi, Surabaya dan Jakarta biasanya disingkat dengan 2-3 huruf. Contoh: Bandung menjadi BDG. Semarang menjadi SMG. Cirebon menjadi CRB.











Februari 26, 2008 pukul 6:27 pm
kalo Denpasar jadi DPS. nah sekarang apa hubungannya dengan marah dan menunggu ?
Februari 27, 2008 pukul 12:37 am
Hahaha. “…belum lima tahun saya sudah bosan dengan yang ini…”. Lalu gimana dg bbrp yg sudah terang2an menjedulkan diri?
Februari 27, 2008 pukul 9:09 am
jakarta kok CGK ? **mohon pencerahan**
Februari 27, 2008 pukul 9:16 am
@ paramarta
Jawab dulu: Surabaya jadi apa dan Jakarta jadi apa?
@ bah Reggae
Yang nekad itu Bah? pure modal duwit! masalah otak dan ethic, sepertinya gak beda jauh sam yang doyan tebar pesona..
@iway
JK aja deh…
Februari 27, 2008 pukul 10:30 am
ngomongin paan sih mas
garuk pala
Februari 27, 2008 pukul 10:46 am
Ngomongin seleb Batam yang bertampang preman, Mas…

Februari 27, 2008 pukul 8:55 pm
lha iyo.. salahe dewe nunggu… biasa aja mas, kalo waktu ada coblosan ya nyoblos kalo sempat dan ada yang cocok. Kalo ga ada yang cocok ato ga sempat ya tinggalkan aja….mending sampeyan ngeBlog sambil urus yang dekat2, RT, lurah…Gitu..
Maret 6, 2008 pukul 5:16 pm
dan saya pengen marah klo disuruh nunggu…hehehhe…apalagi yg kepastiannya ga jelas..
huhuhuhu…