Menunggu Marah Kopidangdut

2008 Februari 26

imageskambing.jpg 

Hayooo, hebat mana antara marah dan menunggu? Marah tentu saja berbeda dengan menunggu. Marah itu berarti ada ketidakpuasan namun tersalurkan. Bila ketidakpuasan atau kebelumpuasan tidak tersalurkan maka menjelma menjadi nafsu. Menjadi dendam. Menjadi api dalam sekam. 

Kalau menunggu? Kok dibahas menunggu? Memang berhubungan? 

Masalah berhubungan atau tidak, pasti berhubungan. Namun menjadi soal apakah hubungan itu langsung dan merupakan sebab-akibat. Marah dan menunggu tidak seperti dua permukaan air pada bejana berhubungan. Hubungannya jauh, masih sejauh tikabanget menemukan jodohnya. Sedangkan menunggu merupakan proses menghayati sabar. Itu pun ada yang tidak sependapat.

Lenin  berkata:            

Menunggu adalah musuh revolusi… 

Menunggu pun punya riwayat yang memilukan. Menunggu Godot sudah menjadi istilah yang lumrah untuk urusan menunggu kepada suatu hal yang nihil bin mustahil. Masyarakat yang termakan angin semilir adanya harapan. Adanya kepastian yang menggembirakan.

Kenyataannya? Nol besar… 

Menunggu Ratu Adil, Mas   

Ya. Nusantara selalu mengelu-elukan kehadiran Ratu Adil. Namun, yang terjadi adalah Ratu Bedil yang diperagakan oleh Westerling jaman pasca kemerdekaan yang lampau. Setiap pergantian pemimpin selalu dikaitkan dengan  Ratu Adil.

Kalau begitu mending Ratu yang satu lagi Mas.. ratunya banyak..cantik-cantik lagi. Ada Maia, Mulan dan Pingkan Mambo.  

Lha, kita memang mau ngomongin Ratu? Saya kan sedang ngomongin Marah dan Menunggu..!  Ya. Saya marah. Masalah kenapa dan kepada siapa sepertinya tak perlu diumbar kemana-mana. Dan saya tidak mau menunggu. 

Sok rahasia Lu..! Emang gw pikirin? 

Hahaha… Yang jelas tahun depan saya termasuk golongan ilmu putih-seperti tahun-tahun lampau-, kecuali ada si Godot dan Ratu Adil yang terang-terangan mencalonkan diri. 

Jujur saja, belum lima tahun saya sudah bosan dengan yang ini. Surabaya dan Jakarta ternyata tak ada apa-apanya. Pepesan Kosong!  

Setuju Mas…Tebar Pesona Nih Yeee…! 

Salam,  

*Keterangan:

Dalam ilmu geografi, Surabaya dan Jakarta biasanya disingkat dengan 2-3 huruf. Contoh: Bandung menjadi BDG. Semarang menjadi SMG. Cirebon menjadi CRB.  

8 Tanggapan leave one →
  1. 2008 Februari 26

    kalo Denpasar jadi DPS. nah sekarang apa hubungannya dengan marah dan menunggu ?

  2. 2008 Februari 27

    Hahaha. “…belum lima tahun saya sudah bosan dengan yang ini…”. Lalu gimana dg bbrp yg sudah terang2an menjedulkan diri?

  3. 2008 Februari 27

    jakarta kok CGK ? **mohon pencerahan**

  4. 2008 Februari 27
    Mas Kopdang permalink

    @ paramarta
    Jawab dulu: Surabaya jadi apa dan Jakarta jadi apa?

    @ bah Reggae
    Yang nekad itu Bah? pure modal duwit! masalah otak dan ethic, sepertinya gak beda jauh sam yang doyan tebar pesona..

    @iway
    JK aja deh… ;)

  5. 2008 Februari 27

    ngomongin paan sih mas :)
    garuk pala

  6. 2008 Februari 27

    Ngomongin seleb Batam yang bertampang preman, Mas…
    :lol:

  7. 2008 Februari 27
    IYUS permalink

    lha iyo.. salahe dewe nunggu… biasa aja mas, kalo waktu ada coblosan ya nyoblos kalo sempat dan ada yang cocok. Kalo ga ada yang cocok ato ga sempat ya tinggalkan aja….mending sampeyan ngeBlog sambil urus yang dekat2, RT, lurah…Gitu..

  8. 2008 Maret 6

    dan saya pengen marah klo disuruh nunggu…hehehhe…apalagi yg kepastiannya ga jelas.. :( huhuhuhu…

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS