CERMIN KOPIDANGDUT

cermin…kaget!

“Hanya cermin satu-satunya “sesuatu” yang tak pernah diludahi”, kata Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir berjudul Merdeka.

Ya. Karena cermin adalah perwujudan pribadi. Egoisme yang mewujud dalam pandang mata seseorang. Dan karena itulah barang siapa yang menyodorkan cermin di khalayak, saat wajah babak belur oleh fakta yang merugikan, maka ada risiko yang muncul dan merongrong sang penyodor.

Jarwo Kuwat dalam Republik Mimpi akhirnya memiliki risiko itu. Kasus di luar cermin menjadi pengganjal harmonisasi hidupnya. Penipuan dipersangkakan. Republik Mimpi tak lagi memiliki Wapres saat ini.

Dalam dunia komunikasi yang paling popular, saat ini, televisi adalah kotak ajaib yang merajalela masuk tanpa henti ke setiap ruang keluarga. Cermin itu menjelma dalam acara berita, gosip, bincang-bincang dan liputan istimewa.

Bung Wimar Witoelar merasakan bagaimana acaranya timbul-tenggelam dalam blantika acara TV. Mbak Rosiana Silalahi, dibungkam dengan jabatan yang paling tinggi sehingga terpaksa untuk tak perlu bermain-main dengan cermin bincang-bincangnya yang menggugah selera intelektual kita. Kick Andy masih aman, karena bermain-main di ranah “batas” yang masih “pantas”.

Mereka, bagi saya, belum termasuk dalam wilayah lagu “seriosa”. Serius. Tertata. Tertib dan hanya sedikit mengumbar tawa. Tidak seperti Larry King Live atau Oprah Show, karena bincang-bincang kita, masih jauh lebih bijaksana. Ada jenaka walaupun bicara fakta derita.

Masih susah dan dianggap kurang menarik bila kita bicara fakta dalam cermin penguasa. Ada sebuah kepentingan tentang kebenaran yang “arif-bijaksana”, menurut mereka, untuk cukup dimengerti tanpa perlu mencuat-hadir dalam diskusi.

Bicara para pahlawan yang menjadi pesakitan di penjara. Memberitakan kenaikan harga. Antrian panjang sekadar menunggu minyak pengganti tungku. Atau bicara pulau kecil yang dijual dengan dicicil. Hutan yang dijadikan sumber dana keperluan Pilkada dan pemungutan suara esok lusa. Korupsi yang dikerdilkan menjadi bingkisan yang terbungkus rapi demi mengalihkan perhatian.

Dan lawannya adalah segala program “tebar pesona” yang menjadi penyeimbang fakta-fakta barusan.

Sang penguasa tak ingin setiap saat disodori cermin yang juga disaksikan oleh publik. Ternyata cermin, menurut mereka, pun perlu diajari tata krama.

Maka, rakyat Indonesia beri saja lagu “hiburan”. Ketawa-ketiwi, cengengesan dan guyon nakal khas rakyat semesta.

Duta acara tak serius ini diwakili oleh Tukul Empat Mata. Bahkan Om Farhan yang ternyata juga “sedikit nakal” harus rela gulung tikar. Biarlah fakta yang ada sekadar telikungan hidup para idola remaja, ibu rumah tangga dan para pencari kerja. Gosip Selebritas.

Bahkan untuk acara gosip pun, setidaknya tidak perlu berlebihan. Jam tayang yang elegan, manusiawi dan masih dapat dipertanggungjawabkan.

Ya, karena acara bincang-bincang itu pun ternyata tidak steril dari gangguan. Karena dibangun bukan dari kemandirian yang berdiri-sendiri dan terpisah dari sebuah organisasi stasiun televisi.

Ada nyawa pesanan sponsor di sana, jaminan keamanan dari penguasa yang harus tetap diperhatikan. Bila tidak, sekejap pengiklan lari tunggang-langgang, ada pesan singkat yang minta acara dihentikan dan diganti dengan acara kontes nyanyi hiburan yang konyol namun, setidaknya, tak berdiri di atas kawat berduri. Alasan akan ada dan mudah dicari. Karena yang punya dana dan penguasa merasa tak perlu diingatkan sedemikian rupa.

“Cermin kami, biarkan tergeletak sepi sendiri dan bukan jadi ajang diskusi…Kalau acara tawa-canda, itu sih Énté boleh-boleh saja…”

Penonton senang, pemasukan lebih dari lumayan dan penguasa tetap aman. Hidup yang makin kerasan. Apa lagi yang perlu dinantikan?

Maka, ketika blog beringsut sedemikian rupa dan menjelma menjadi cermin lain, maka bersiap-siaplah untuk dikebiri. Untuk hal ini, biarlah Herman Saksono yang banyak bercerita.

“Rakyat tak perlu melihat cermin”, ujar penguasa. “Buatlah gembira ria, tanpa perlu bicara. Karena untuk bicara fakta, biarlah kami yang menentukannya”.

Keterangan Gambar:

” Mas Kopdang, lagi kaget apa lagi narsis?”

:lol:

7 Tanggapan ke “CERMIN KOPIDANGDUT”

  1. tikabanget™ Berkata:

    hahaha..

    sayah inget satu kalimat temen sayah kemaren waktu diskusi ndak mutu pro kontra infotainment.

    “lha gimana, tik? itu yang nonton juga mangap=mangap kok dikasih acara kayak gitu. lha mereka yang bikin acara kan cuma memenuhi permintaan pasar.”

    well.. kadang memang penontonnya juga yang minta dikasih acara ndak mutu ndak mutu gitu.

    susah sekali mengedukasi masyarakat yang terlanjur terlena.

  2. mas kopdang Berkata:

    kekekekek….
    yang “terlena” pun sekarang hidup sendiri, dicerai sedemikian rupa oleh miswanya..
    :)

    Mulai saat ini jangan anggap penonton itu masih ketjil dan blonce-blonce..
    itu pun kalau Endonesya mau madjoe..
    kalau sekadar makan, tidur dan (maap) kentut mah gak perlu Merdeka..

    kekekekek..
    :lol:

  3. papabonbon Berkata:

    istriku jega demen tuh ama silet dan lain lain investigasi kehidupan artis :)

  4. Mas Kopdang Berkata:

    Papab…
    lha, ya memang disukai..dan saya pun juga sebenernya “masih doyan” denger berita neko-neko para artis..
    tapi apa iya, tiap hari kita makan coklat terus? lha bisa ompong dan obesitas ta iye?
    sebiaknya ya 4 sehat lima sempurna lah..
    ;)

  5. Koko Berkata:

    andai saja kebebasan berbicara benar2 dilindungi di indonesia

  6. Kira-kira penemuan terhebat apa? « Aku ingin begini, aku ingin begitu. . . Berkata:

    [...] bisa jadi pengingat diri, makanya ada istilah cermin hati untuk selalu ngejaga diri. Oya, di sini ada kata-kata menarik Hanya cermin satu-satunya “sesuatu” yang tak pernah [...]

  7. santos Berkata:

    bebas boleh tp th dr jg.

Tinggalkan Balasan