Gegar Budaya Kopidangdut

2008 April 14

sajian musik dari ring1 dan brantas...

Di manakah- di jaman kayak gini- -ente semua bisa bicara budaya sampai jam empat pagi, ngudad-ngudud, ngombe kopi, dan ngomong tentang negeri kopidangdut sak penakmu..? Yang saya maksud adalah di Jakarta sini. Ya. Di kota simbol menara gading kapitalisme global ini.

Mungkin BHI bisa memberi tempat, nongkrong beralaskan marmer Italia tapi akan lebih asyik bila yang ente sambangi adalah kehidupan malam dalam Kenduri Cinta. (soalnya ane belum pernah kongkow bareng di BHI jumat malem.)

Berlangsung tiap jumat malam di Taman Ismail Marzuki. Seperti 11 April kemarin. Digawangi oleh Cak Nun. Bah Surip dan Ndang sebagai aikon. Namanya: Kenduri Cinta.

Boleh-lah di harian KOMPAS, Goenawan Mohamad bicara tentang STA (Sutan Takdir Alisjahbana) sebagai upaya mengenang si Doi yang sudah begitu berjasa dalam kesusastraan negeri kopidangdut (dibaca: Indonesia).

STA yang selalu bilang dalam beberapa kesempatan (termasuk) dalam polemik kebudayaan, bahwa Indonesia adalah sebuah idea yang sama sekali baru dan harus meninggalkan masa pra-Indonesia yang penuh dengan budaya kalah. Tidak ada yang perlu dibanggakan.

Menurutnya, J.P Coen, mungkin sekali, mengalahkan orang-orang Mataram hanya dengan 200-an pasukan. Kalau kita kuat, dari dahulu kala kita sudah bisa mengusir mister-mister Belanda. Nyatanya kebudayaan kita kalah. Tak perlu dibangga-banggakan.

Indonesia yang sekarang bukanlah terusan dari Majapahit dan Sriwijaya. Sejarah yang lama hanyalah buat yang botak dan berpemandangan dekat.

Kekekekekek…. Luar biasa banget STA ini.

Lain STA lain Cak Nun.

Di TIM, warga kopidangdut boleh bercerita apa saja. Dari hal yang sepele hingga yang sangat sepele. Yang serius itu perlu, tapi sesungguhnya itu pun pada hakekatnya adalah hal yang sepele bagi warga kopidangdut.

Warga yang tiap tahun gampang kebanjiran namun masih saja penuh tawa. Masyarakat yang susah senang tetap guyon. Yang cari duwit ndakik-ndakik tapi gampang memberi dan bersedekah. Intinya, masyarakat yang berbahagia.

Ada sebuah biji optimisme di setiap tutur Cak Nun malam itu.

Ibarat bahtera Nabi Nuh, ane dan semua orang (yang miskin tontonan apalagi tuntunan), dimisalkan adalah para pengikut Nabi yang membawa masing-masing satu kayu bahan membuat bahtera. Biarlah yang lain tak peduli, yang lain menertawakan, tapi lihatlah pada akhirnya mereka yang cuek dan menyepelekan akan makan be-ol-nya sendiri (pada bagian ini ane bener-bener ketawa ngakak…khas rakyat kere).

Pada waktunya, berikut Cak Nun berujar, bahwa warga kopidangdut akan menjadi masyarakat yang makmur. Seperti burung garuda yang lama mengembara, melanglang buana, memangsa penuh suka cita, melindungi daerah menjadi gemah ripah loh jinawi. Namun, pada suatu saat garuda ini terperangkap, masuk dalam sangkar.

Keinginan untuk terbang tetap ada, namun apa daya. Sangkar yang kokoh memenjarakannya. Lalu garuda beranak pinak dalam kurungan. Anaknya tak pernah tahu rasanya terbang. Makan sudah tersedia. Lambat laun keinginan terbang musnah dari benak si anak garuda. Insting itu tak muncul. Apalagi saat sang anak (cucu sang garuda) dilahirkan. Sang cucu menjadi garuda jinak, leyeh-leyeh dan sekadar makan, bobo dan eek.

Itulah kita. Sang cucu garuda adalah kita. Makhluk gagah perwira yang tak sadar agar keperkasaannya. Terlena akan kurungan dan belenggu dalam hidupnya.

Hebatnya, pada hakikatnya, garuda ini pada dasarnya tidak hanya memiliki kharisma, namun dua tingkat di atas itu yaitu memiliki prana. Sebuah tingkatan di atas wibawa.

Pada saatnya nanti, garuda akan ingin terbang kembali. Belajar mengepakkan saya dan melanglang buana. Menunjukkan pada dunia bahwa dia lah sang penguasa. Penguasa yang sekaligus pengayom. Penguasa yang tak menguasai.. Menang tanpa mengalahkan. Menjadi pemimpin yang tak menindas.. Tak menginvasi, tak akan menghegemoni, tak akan melakukan aneksasi..namun justru akan memangku.

Ya. Mangkubumi. Mangkubuwana. Mangkujiwa.

Bukankah enak, bila pemimpin tak menginjak, namun memangku? Siapa sih yang gak pengen dipangku? Siapa sih yang gak pengen mangku? Pangku-pangkuan itu kan enak. Bahkan bagi kedua-duanya..

Kecuali kalo ane’ mangku papabonbon atau ndorokakung apalagi mangku paman gombal

Emohhhhh…!

NB:

Tika: “Kalo pangku saya gimana Bang Kopdang…?”

Kopdang: *ngelirik bunda di rumah…*

:lol:

Bahan bacaan:

cendekiaan dan pulitik ituh...

+ Cendekiawan dan politik-nya LP3ES yang nerbitin PRISMA. (Beli gih di Gramed…)

+ Flash Gordon bersahabat dengan Cak Nun

6 Tanggapan leave one →
  1. 2008 April 14
    Mas Kopdang permalink

    Oh Ya…
    malam itu hadir juga, Joko Edi..mantan anggota DPR yang di-recall gara-gara studi banding (+jalan-jalan) ke timur tengah dalam rangka rencana dibuatnya aturan tentang judi di negeri kopidangdut..

  2. 2008 April 15

    Miskin tontonan apalagi tuntutan. Hahaha, asyik bos.

  3. 2008 April 15

    jadi ndak mau dibangku ni?
    yasudah, dimeja sajah..

  4. 2008 April 15

    nah… di bangku, dimeja, apa nie..?

  5. 2008 April 15

    asal dipangku trus gk nggerayang ajah.. wakakak..

  6. 2008 April 16
    SlempitanJempolKaki permalink

    walah makin ke bawah kok omongannya ala gojegan malam.
    daripada ribut-ribut, mending dipangku bangku. biar langsung maknyos!!
    kringeten dikit gak masalah, yang penting pupu jadi biru-biru…
    nulis uooooppoooo iki?!!!

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS