Dia Kopidangdut

Senja yang membiru datang lagi. Bukan senja keemasan seperti biasanya yang kusaksikan lewat jendela kantorku. Awan berarak, layang-layang terbang di sekitar Monas, dan lampu taman berpendar, membuat efek-entah apa namanya-yang membikin aku sendu.

 

Padamu.

 

Senja yang sepi. Hanya deru mobil, tawa klakson dan suasana kantor yang menyeramkan. Senyap.

 

Aku di sini mengingatmu.

 

***

 

Ngeblog masih sesuatu yang mengasyikkan. Penuh energi yang meluap-luap, menjalar dari jemari menuju kibor. Tapi untuk apa?

 

Sebagai noktah pengingat atas apa yang kulalui. Sebuah eksistensi. Atau atas apa yang telah kupikirkan. Sejumput rasio. Atau kan semata-mata kesia-siaan? Nihil.

 

Aku tak ingin bila blog adalah ajang buang hajat. Tak terbaca. Hanya memberikan sedikit penanda singkat berdasarkan paragraf terakhir. Komentar singkat. Tak berisi. Nelek seperti pitik cilik.

 

***

 

KRINGGGGG…

 

Ah, itu kamu. Tentu yang kutunggu.

 

“Hey…”

Ah, Bukan. Ini bukan kamu.

 

“Belum pulang, Kop…?”. Untuk apa ia menanyakan hal yang sudah diketahuinya.

 

“Belum, Na…Masih ada kerjaan”.

 

“Kerjaan apa kerjaan..paling kamu ngapdet blog kan?”.

 

Fayna. Perempuan jelita. Wangi. Sungguh. Suwer deh…! Aku pernah membuktikannya tanpa jarak. Tapi itu dulu. Saat hujan masih meneteskan air mata, saat mentari menyengat hati pria kesepian.

 

“Kop, kapan aku bisa ketemu kamu?” Pertanyaan yang sama, entah untuk yang keberapa.

 

“Hm…aku sibuk, Na..”.

 

“Sibuk ngurusin Bunda? Ciprut?.. Aku tahu, Kop..”

 

“Hmm…” . Aku terdiam. Merasakan kekecewaan yang meruap.

 

***

 

Blog itu seharusnya berguna. Bukan sampah yang menggunung dan bikin sesak dunia maya.  Tiap hari posting. Tiap hari berharap. Berharap apa?

 

Iklan? Omong kosong! Komentar? Untuk apa?! Pujian? Dari siapa?

***

“Kop..jujur, aku kangen kamu. Waktu berubah. Perasaanku pun berubah. Tapi aku makin menjadi. Aku makin sayang kamu…”.

 

GLEKKK… Apa sih yang diharapkan dari pria semacam saya. Kesetiaaan yang selalu dipertanyakan. Masa depan yang amburadul. Penghasilan yang pas-pasan…

 

“Kamu beda, Kop..”.

 

Berbeda? Dari siapa? Apakah kamu pernah tahu apa yang sebenarnya membuat aku berbeda? Bila dalam perjalannya aku sama. Tiada beda dengan yang lain, lantas mau apa kamu? Mencari yang berbeda lainnya?

 

“Pokoknya kamu beda, Kop…”. Aku bingung. Terdiam. Kucari tema yang lain.

 

“Fay…kamu masih di situ? Memandang Monas yang sama, senja yang juga sama dan saat ini kamu juga melihat layang-layang putus itu. Layang-layang hijau tua?”

 

Tak ada suara. Hanya desah napas pelan.

 

“Itu lah bedanya Kop… Aku di sini memandang malam. Gelap gulita. Suram. Apakah aku memang terlahirkan untuk hal-hal yang tak menghangatkan? Tak ada sinaran? Selalu kangen pada hal yang tak pernah kudapatkan. Kangen kamu yang selalu saja terus tak peduli…Sekali saja kita bertemu lagi…”

 

Perempuan. Muda. Belum bersuami. Wangi. Kurang apalagi?

 

“Mau tahu pendapatku Fay..?”

 

“Iya…”. Ada  kesan ceria dibalik suaranya. “Jujur saja, Kop…”

 

“Karena kamu agen asuransi…”. Lalu telpon segera kututup.

14 Tanggapan ke “Dia Kopidangdut”

  1. paramarta Berkata:

    1. serius
    2. tegang
    3. wahakakakak …….

  2. Chic Berkata:

    halaaaaah… jubulaneeeee… abis ditelpon agen asuransi… :lol:

    *nyesel udah serius baca* :P

  3. Stella Rajagukguk Berkata:

    “Komentar? Untuk apa?”

    Jadi takut ngasih comment aku…

  4. Latree Berkata:

    ngeblog buat numpahin yg ada di pikiran. dibaca sukur, gak dibaca orang… ya dibac-baca sendiri kalau lagi senggang…

  5. ngodod Berkata:

    aku rep melu asuransi…

  6. Mas Kopdang Berkata:

    @ ngodod

    nek kowe rep melu asu ransi, agen sing nawari jenenge mbah Tarmiyem..lulusan SMA taun 60-an..

    :lol:
    kekekekekekek…

  7. SlempitanJempolKaki Berkata:

    slompret!! tiwas ikut tegang, mbayangin istrinya kopdang dirumah ngasah pisau sambil liat web kopidangdut.
    ternyata ujung2nya asuransi…
    sekedar berbagi. aku juga pernah dengan tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda alam didatengin agen asuransi yang tiba-tiba jadi sok akrab padahal mulut ini lagi penuh ngunyah mie ayam blakang kantor. Jan tenan…

  8. Mas Kopdang Berkata:

    @ SlempitankutukupretJempol

    Kekekekek…apa kabar Perang Pangeran Cokro?

  9. ngodod Berkata:

    men.. yang dicari asuransinya, bukan yang nawari asuransi.. hehehe…

  10. edratna Berkata:

    Wahh berarti dianggap nasabah potensial, masih dirayu agen asuransi…tapi dia dapat nomor telepon darimana ya?

  11. SlempitanJempolKaki Berkata:

    WAKS!!
    Perang Pangeran Cokro hanya segede upil yang tau lo?
    Siapa gerangan dirimu bung kopdang?
    Keluarlah apa dirimu sebenarnya wahai ki sanak!! Hubbyaaah!!

  12. Mas Kopdang Berkata:

    @ slempitanjempolkakikuyangbau

    Kekekekek..!
    jangankan masalah Pangeran Cokro.. diameter jempol kaki sampean ajah ane tau!
    apa perlu ane ceritain mimpi apa ente semalem?
    kekekekek..
    :lol:

  13. Mas Kopdang Berkata:

    @ edratna

    lha, di halaman “about” bukannya ada nomor Hape’ ane, Bu..?!

  14. JoEy D`JuVe Berkata:

    *curiga* Bu’hung tuch… pasti perannya di balik… *pulang lagi*

Tinggalkan Balasan