Jaman dulu, ketika sinetron belum merajalela dan radio masih duduk terhormat di singgasana hiburan warga, iklan yang sering muncul di antara sandiwara radio dan berita RRI Nusantara adalah salep kulit cap 88, yang berkoar-koar dapat mengatasi panu, kadas dan kurap Ente’…
Maklum, dulu itu si Mbok masih nyuci pake sabun colek B-29, atau sabun batangan Super Busa yang bikin kaki suka pedih dan panas. Belum lagi urusan jemur-menjemur yang dulu lebih lama dari saat ini, maklum dulu bumi belum sepanas sekarang, terbukti waktu itu Al-Gore belum banyak cerita perihal global warming..
Nah, giliran menyetrika, dahulu, masih menggunakan arang dengan setrikaan cap jago yang butuh kebat-kebit pake kipas hingga membara dan daun pisang sebagai peredam panas kain yang hendak disetrika..
Jelaslah sudah, proses tadi menghasilkan tubuh si Mbok - yang asri nan subur permai- keringetan tiada tara dan berhubung AC belum ada, maka panu, kadas dan kurap senantiasa setia menemani hari-hari si Mbok….So, mau apa kagak, grafik axis demand dari salep kulit 88 terus menanjak naik…
Lalu, apa yang terjadi saat ini? Apakah ada yang masih bertuah dari angka 88..?
Ketika “pasukan bodrex” Dede Yusuf berhasil mempercundangi “pasukan beringin tua” dan “banteng bangkotan” dalam pilkada di tanah Sunda, maka pasukan elit pun dapat dipergunakan untuk sesuatu yang tak perlu..atau menurut anak SMP jaman sekarang :
“Penting gak sih…?!”
Apa iya? Mengenai apa yang terjadi dengan Den Bagus Wolu-wolu (dibaca: Densus 88), adalah sebuah kerja nyata yang memang sudah seharusnya terjadi.
Pasukan yang dilatih dengan biaya mahal telah berhasil menangkap basah perusak rahasia negara, pengancam kedaulatan NKRI dan pengkhianat Proklamasi 17 Agustus 1945 sekaligus musuh negara saat ini: Guru SMA di Deli Serdang yang ketahuan sedang memanipulasi lembar jawaban.
Kekekekekek…
Saya kira, selama ini, pasukan Densus 88 itu terdiri dari pria perkasa yang punya selera, pandai, klimis dan selalu ditugasi pekerjaan sulit yang butuh perencanaan khusus, biaya besar dan dipenuhi baku tembak. Seperti yang biasanya saya bayangkan dengan pasukan elit yang bermusuhan dengan pasukan intelejen negara lain seperti si James Bond, pasukan SAS, the Saint, Mosad, CIA dan KGB.
Juga saya pikir mereka dilengkapi menggunakan teknologi canggih dengan perantara satelit, dapat mengacaukan radar, surveillance kepada penjahat korporasi tingkat tinggi, juga teroris-teroris lulusan pesantren sesuai versi Amerika yang selama ini tergambarkan lewat berita di CNN dan film-film produksi Chuck Norris dan Rambo-nya Sylvester Stallone.
Eh ternyata yang kepergok didapati sedang melakukan kejahatan tingkat tinggi kepada negara hanyalah teroris sekelas Mr. Bean: guru-guru SMA yang tak mau muridnya gagal ujian.
(*ketawa lagi ah…*)
Kekekekekek..
Ya. Gara-gara Ujian Nasional yang semelekete gak jelas juntrungannya. Ide dari Jin Kelebes (disingkat JK), malah karut marut ndak karuan, dijadiken obyek target pasukan kodok ala Densus 88..(*untung bukan Densus 69..hihihihi*).
Saya lihat malah si Jin hari itu cengangas-cengenges berenang dengan cucunya di kolam kampung halaman. Dimuat dalam halaman pertama salah satu koran nasional.
Kenapa pasukan tempur itu, yang dilatih melumpuhkan lawan dengan sangat taktis justru dipergunakan dan dimanfaatkan sebagai layaknya satpam sekolahan?
Pengkebirian sekaligus pelecehan terhadap institusinya sendiri.
Ya memang. Soal ujian adalah dokumen negara. Yap, betul bahwasanya lembah jawaban dianggap sangat rahasia. Namun, apa harus menggunakan salep kulit Densus 88? Bukankah masih ada Pengawas ujian, ada lembaga penjaga kode etik yang dapat dilaporkan?
Juga pertanyaan lebih mendasar mengapa Ujian Nasional begitu gegap gembita bukan karena keberhasilannya, namun justru karena anggapan kontra-produktif, dipertanyakan oleh tokoh pendidik, dan dipenuhi dengan ujian akal-akalan dan perselingkuhan antara murid-guru?
Ah sudahlah…saya saja yang terlalu berekspektasi tinggi dengan istilah “khusus”. Ada jalur khusus busway..ada juga Pasukan Khusus, Detasemen Khusus, dan khusus-khusus lainnya.
Ternyata yang khusus di Indonesia itu berbeda. Bukan sekadar “lebih”, atau “spesial” dan “istimewa”, namun hakikatnya lebih sederhana: “Siap melayani permintaan khusus alias tertentu..dari pihak-pihak yang merasa istimewa dan spesial..”
Sama halnya dengan Salep kulit cap 88, maka Densus 88 siap membasmi rasa gatal dan sanggup menjadi tukang garuk yang handal…bagi Ente yang merasa istimewa dan spesial di negeri kopidangdut tercinta ini…..!
….
Disclaimer:
Ane’ ngeralat judul di atas. Favorit ane sekarang Cap Kaki Tiga.. Pasti ente juga..Ini gambar di botolnya:
nb: kaki-kaki indah dapat ente peroleh di:
- www.fasity.com
- olivecaem.files.wordpress.com











April 28, 2008 pukul 8:23 am
si salep lagi kurang job om, maklum telor iris dah ga musim lagi
April 28, 2008 pukul 11:16 am
bukannya job mereka ganti?!
” Ngikuti pesanan …para petinggi”
April 28, 2008 pukul 1:14 pm
Hahahaha. Mgkin nanti klo yg gini2 ini diterus2kan, akan ada yg begini ini. Suatu saat pabrik pembuat peluru itu dihadiahi bintang mahameru klas I. Pasalnya, peluru satu dos yg dipakai oleh pihak yg kesel untuk nembaki petinggi itu macet semua.
April 28, 2008 pukul 3:49 pm
“wa..ka..ka..”
April 29, 2008 pukul 2:55 am
hahahahahaaha…. salut buat mas kopdang, asyik kayaknya buat diskusi.
salamhangat.
penghunikontrakan http://rijal28.wordpress.com
April 29, 2008 pukul 2:55 am
kok dikira spam??
April 29, 2008 pukul 3:14 am
kalo urusan gatel, saya pilih cap nosib…cespleng, tapi kalo urusan kaki tiga justru malah bikin gatel…:D
April 29, 2008 pukul 1:02 pm
aih…cap kaki tiga nya beneran kaki ya..hahahaha
April 29, 2008 pukul 2:17 pm
kemarin di kalimantan, densus 88 juga dipakai buat nangkap guru tk yang dianggap menghina presiden lewat sms :p
April 29, 2008 pukul 6:07 pm
kakinya ada enam…….
Mei 28, 2008 pukul 5:05 pm
tangannya juga enam.
Mei 29, 2008 pukul 2:34 am
huahahaha… ada2 ajah! btw emang realitanya begitu om, jadi jangan bayangin terlalu tinggi deh om.
mereka itu, yaaaaaaa gitu deh *pake gaya trio bajaj*
Juli 27, 2008 pukul 12:22 pm
Salep 88, Masih manjur kok Mas,
bahkan sekarang lebih cantik dan modern penampilannya.
Kita harus mendukung produk-produk manjur, berkasiat, dan terlebih-lebih yang terjangkau harganya
Agustus 30, 2008 pukul 9:54 pm
Seperti halnya salep kulit 88 yang sangat manjur menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit yang ringan seperti gatal, hingga yang sulit disembuhkan salep lain.
Ga salah bila Densus 88 juga mencoba membasmi penyakit Republik ini diberbagai bidang, dari sekolah hingga Keamanan Nasional.
Yang penting, harus tuntas seperti salep kulit 88 membasmi penyakit kulit.