Maka, mengapa Sadie, sang penari perut asal Winconsin itu jauh lebih baik dari pada penari yang lahir dan besar di Timur Tengah? Tarian lenggak-lenggok yang ditiru di Indonesia namun dicekal di mana-mana.
“Sadie emang jagonya. Itu yang bikin aku terus latihan belly dance sepulang ngantor…masalah artis yang dicekal karena liukannya, ah, itu tiruan yang aneh, Kop. Yang asli gak gitu. Ada hal prinsip yang kudu dijaga. Bila bagian atas tubuh kita gerak, maka bawah harus “still”. Diam pada porosnya. Begitu pun bila bawah yang sedang main, maka atas harus sabar untuk diam. Inilah prinsip yang harus dijaga..”
Telpon yang tadi kuangkat sudah pada tahap liukan senja. Entah mengapa, aku dan dirinya tiba pada pembicaraan mengenai liukan tubuh. Obrolan seperti apa sih yang pantas di kala senja sedang meradang. Menciptakan romantisme dadakan dan hati yang rawan.
“Kemaren ada recital lho, Kop…kamu kenapa gak datang, bukannya aku udah kasih tahu kamu?”
“Aku semingguan kemarin gak di Jakarta..sorry.”
“Padahal aku dandan abis, lo…sampai gak nyangka dapat “the best make up”..
Wow. “Aku yakin emang juri gak salah pilih…”
“Hmmmm…” Ia terdiam.
“Coba deh kamu buka Youtube, Kop…ada Sadie di sana memperagakan apa itu tari perut. This is what I wish I could do in two years time. Tonton gih…kalo kamu sampe horny, aku berani taruhan berani tanggung jawab atas ke-horny-an kamu.”
Hah!? Apa nih maksudnya? Apa salahnya aku nonton via youtube. Sudah seperti yang kuduga sebelumnya. Sadie tampil luar biasa di situs itu. Tak ada kesan mengundang. Kostum minimnya jauh lebih menyatu dan melekat melewati batas-batas sekadar pembalut tubuh dan ornamen tampilan. Gerakan yang elegan. Mimik mukanya ekspresif sekaligus enjoy.
“Gimana Kop? Keren banget kan? Musiknya pas, ritmenya dinamis banget ya…Liat deh bagian rib cage* perut dia…bisa lentur dan terkendali? Gw yakin lo gak bakalan horny..Musiknya asyik kan?”
Segera saya besarkan volume suaranya di komputer mejaku. Menyetel tayangan Sadie di Youtube, namun dengan suara Randy Crawford mengalun sendu. Tembang “People Alone” membahana di senjaku sore ini.
“Aku tuh pengen banget kayak gitu. Keren. Orang Amerika yang jadi masterpiece dalam dunia belly dance. Perfect banget deh…Kop, kalo aku bisa kayak dia, entar aku ajarin kamu deh..”
Busyet! Bukannya belly dance indah bila dan hanya perempuan yang melakukannya? “Emoh…aku mending liat show kamu aja..private tapi lo..”
“Hihihi…iya deh..Asal jangan minta yang lain ya..! Huahaha..” Ia menggoda.
Sekejap bayanganku tentangnya kembali hadir. Wajah merah merona. Pulasan make –up yang menggelora. Liukan tubuh dalam satu sudut ruang. Remang cuaca yang menimbulkan nuansa berbeda.
“Oh iya, aku liat rekaman acaranya aja deh, Fal…”.
“Ah, nggak mau..aku masih masuk kelas beginner..Entar deh kalo udah advance, aku kasih liat…. Apalagi di foto dan rekamanku kemaren, aku ngerasa tampil terlalu terbuka. Gak enak ah…”.
Aih!..Apalagi ini? Ter-la-lu-ter-bu-ka..?
“Kop, gak enak aja..ini bukan konsumsi publik..”. Ia menambahkan sebagai reaksi diamku sejenak.
“Aku kasih foto wajahku waktu itu aja ya..”.
Lalu munculah di email. Wajah itu. Ayu dan ngangeni. Kerling mata penuh percaya diri. Namun, ada binar “mengundang”. Namun memang elegan. Namun memang cantik. Namun kamu memang betul-betul cantik.….
“Gimana Kop..keren kan…itu kalo gak aku crop, busana minimnya bisa kamu liat..”
“Lha, kenapa gak kasih liat aku…? Bahaya lho..membiarkan seorang pria berimajinasi, lambat laun berubah menjadi imajiliarrrrr…!”
“Huahahahaha…” Ia tertawa. Lalu kembali berkata: “Well….. you havent seen the costume, red and black, with a gold snake necklace, and gold earings, gold shoes…Terlalu vulgar buat kamu. So, I’ll leave it to your imagination.. huahahaha..”
…..
Maka selekasnya dengan sepenuh jiwa ku-berfantasi ria….naik busway hingga ujung mangga dua, lalu naik moda khusus menuju ancol dan kolam lumba-lumba, sebelum naik bianglala!
***
Podjok Monas, 29 April 2008
(*)
Dalam Belly Dancing tidak ada gerakan di mana tubuh bagian atas dan bawah gerak bersamaan. It’s the rule. Bahkan tubuh bagian tengah alias perut itu masih dapat dibagi 3 bagian juga: rib cage (tulang yangmenutupi diafragma), perut atas, dan perut bawah. Antara perut atas dan bawah itu juga masih ada 3 otot yang harus digerakan secara terpisah.










April 29, 2008 pukul 2:33 pm
kagak ada yang kenal nama nama yang disebut di atas. apa karena papabonbon kurang gaul ?
April 29, 2008 pukul 2:36 pm
@ papabonbon
Bukan…tapi ane emang yang salah gaul Pap..!
April 29, 2008 pukul 6:04 pm
yang jelas nari itu bikin body asik. suer!
April 30, 2008 pukul 12:23 am
Belly dance yg asli memang keren, tapi saya tetep lebih seneng tarian aceh, saman.
April 30, 2008 pukul 10:42 am
mbok inget sama yang dirumah, ditunggu-tunggu sampe ngantuk-ngantuk, yang ditunggu malah kelayapan
Mei 1, 2008 pukul 4:09 am
@ iway..

Lha ane kelayapan kalo bukan sama situ sama siapa lagee?
Mei 1, 2008 pukul 6:31 pm
Huaaa…
Belajar belly dance secara serius. Impian yang masih belum bisa tercapai sampe sekarang (diantara ribuan mimpi lainnya).
Mei 3, 2008 pukul 12:22 am
nari itu bikin body asik. suer!
mmm… menarik!! ikut kursus tari reog ah, trus coba posting ke youtube. sapa tau si Sadie tertarik, malah ngambil kursus debus bagian beling
Mei 7, 2008 pukul 10:50 am
hmmmm, interesting (short comment aja ah males nulis panjang2 tapi ga ada isine heheh) thanks for the new horizon
Agustus 11, 2008 pukul 12:52 pm
Mba,aq jd trtarik belly dancer neh.
Dmn ya tmpt kursus belydancer djakarta?
Aq mw liat2 latihannya
Mnta infonya dunk.
Krim k emailqu ya d: erny_lavender@yahoo.com