Suami Kopidangdut

Jangan menangis suamiku, kamu tetap laki-lakiku…

Ayo kita jalan saja sore ini, kemanapun kamu mau. Kita bisa pesan Silverbird, seperti biasanya, menuju Papih Mega-Meutia.

Lalu kita terbang menuju Kaitak, Changi, atau cukup Ngurah Rai-Banda Neira. Bahkan bila kamu mau Schipoll pun bisa kita rencanakan segera. Paspor dan lainnya biar Papih yang urus.

Lalu kita bisa bermalam sejenak di Luzern, St. Moritz, atau Santorini..Yah, jauh sedikit tak apalah…asal kamu tak meneteskan air mata lagi…

Suamiku, jangan bersedih…, dekap aku seperti biasanya aku mendekapmu - dalam gemerlap hidup..namun tertatih dalam kesempurnaan- yang sungguh aku bosan dengannya.

Percayalah, kamu adalah pria hebat. Bertanggung jawab. Baik. Pemaaf. Pekerja keras. Ayah yang keren, dan perhatian… Namun itu rasanya terlalu berlebih bagiku.

Entah apa gerangan yang membuatku tak ingin kesempurnaan lagi..

Suamiku…Ingatkah pada dedaunan marple coklat yang gugur mencium tanah basah di Vancouver tahun lalu? Ketika itu aku memintamu segera untuk kembali ke penginapan… Tanpa banyak tanya kamu menurutiku…

Padahal ku tahu pasti betapa cintamu pada nuansa senja itu. Rerimbunan yang menyerah pada waktu, menari menuju Tuhan. Ketika bau tanah masih nyungsep, bercampur aroma croissant yang kugenggam. Langit yang kemerahan dan hanya ada kita berdua di tepian danau impianmu…dan Leicamu yang terpasang sempurna belum panas kamu genggam..Tahukah kamu, apa yang ku mau?

Penolakanmu. Itu saja.

Aku ingin sekali kamu mempertanyakan pendapatku. Keinginanku. Ajakanku. Setidaknya sedikit alasan yang menahanku. Tapi memang kamu. Ya itu kamu, yang selalu meratuiku. Memahkotaiku dengan seluruhmu. Kamu memang selalu begitu. Aku segalamu…

Suamiku, usaplah pipimu dengan jemariku ini…

Tak perlu kau tangisi apapun yang telah kulakukan…

Pahami saja ini sekadar kenyataan hidup kita berdua yang perlu menjadi nyata, bukan sekadar keterlemparan dari mimpi ke mimpi. Karena ku ingin itu. Sekadar ingin menyecap sejenak…

Aku tahu ini tak adil bagimu. Juga bagiku, Sayang…

Percayalah, kamu tak pernah mengecewakanku, sekali pun juga… kamu tak pernah memberikanku kegetiran hidup, penyesalan, dan ruang benci. Sungguh!

Tapi seperti kelak-kelok jalanan Auckland, kemiringan Pisa, pasar becek Marakash, kemuraman marmer Taj Mahal, dan riuh-rendah pasar tembakau Bremen, perjalananku sepatutnya seperti itu.

Ada usaha yang sia-sia, ada keinginan yang tak tergapai, ada kesadaran bahwa keringat lebih mulia dari sekadar laba, reksa dana, kenaikan suku bunga dan cinta yang terus menggelora…

Indah rasanya berpanas-panas ria saat hendak berkerja. Wajah-wajah berdesakkan sembari mendengarkan petuah Tuhan, dalam kotak berjalan. Belum sreg rasanya tak mencium wangur tubuh tukang ojek, mendekap jaket kumalnya, tawar-menawar setengah mati mempertaruhkan sekadar seribu-duaribu saja.

Luar biasa nikmatnya berebutan mengambil tahu petis terakhir bersama karyawan, menunggu hujan reda bersama pengendara roda dua lainnya - tanpa tahu kapan mentari muncul kembali, menghitung tagihan listrik bulan ini, berlonjakan dalam bajaj, atau setidaknya menunggumu dalam cemas pada malam gulita sepulang kerja.

Bagaimana rasanya ditolak rumah sakit karena kartu askes kita kadaluwarsa. Seberapa pegal andaikan kita berjalan menyusuri Sudirman, menggenggam helm dan mencari penambal ban, juga mengantri minyak tanah seperti masa Orla.

Juga ingin banget rasanya mendengarkan rengekan anak-anak kita minta Tamiya, Crayola, koin Timezone, atau tambahan uang pulsa.

Aku sungguh-sungguh ingin tahu apa rasanya…!

Suamiku…mata merahmu membuatku miris…Hati ku teriris.

Kehadiranmu dalam hidupku sungguh menambah kesempurnaanku. Sinergi luar biasa. Lebih dahsyat dari sekadar Sampek- Engtay, Lois- Clark, Romeo-Juliet, Pamela-Tommy Lee, Marc Antoni-Cleopatra, Richard- Cher, Dhanny-Maia, apalagi Tommy-Tata…

maka tak perlu bersedih…

Percaya saja ku tetap mencinta, berhasrat, dan setia…

Aku tetap istrimu sepanjang masa.. Tak mungkin aku menghubungi Bu Elsa.

Bukankah sudah pernah kusampaikan betapa kesetiaan bukanlah kewajiban, namun sebuah kemuliaan bagiku. Bahwa kesetiaan adalah kehormatanku, bahwa pengorbanan dan kesabaran adalah cita-citaku. Masih tak percaya…?

Kemarilah, Sayang…

Tatap mataku dalam-dalam..genggam jemariku, rasakan kehangatannya. Raih degup jantungku…Dapatkah kamu rasakan iramanya?

Suamiku, tak perlu kamu berkata apapun jua… hening sajalah…diam bagiku berjuta makna…..

Karena ini bukan cinta.. perasaanku padamu lebih mulia dari sekadar rasa cinta……

(*hening*)…….

……………….

(*dengan berbisik*)

Dan khusus mengenai Kopdang,…yakinlah itu hanya sementara…

Kayumanis, 4 Mei 2008

01.46 WIB

7 Tanggapan ke “Suami Kopidangdut”

  1. ngodod Berkata:

    yang buat ini bunda ciprut…? ato ayah ciprut dah mulai termehek2 dengan ke-melow-an dunia? betewe, di-link dunkz blog ane…

  2. latree Berkata:

    ternyata hidup serba enak itu tidak enak….

  3. paramarta Berkata:

    uuuiihhh…. lagi2 gak bisa komen

  4. JoEy D`JuVe Berkata:

    *ikut hening*

  5. theloebizz Berkata:

    hhuuuaaaaa…..baguuuussss euy!!!!….
    jd mulai sediiiih…..
    itu salah satu gambaran kehidupan jkt..hiksss…

  6. Rafki RS Berkata:

    Mohon maaf tidak ada komentar.

  7. slempitanjempolkaki Berkata:

    *hening*

    …. gak mudeng. tambah gak mudeng lagi karena yang lain kok kayaknya mudeng

Tinggalkan Balasan