Antara jam 4 pagi hingga jam 10 menjelang siang adalah jam tersibukku. Sarapan yang harus kuhidangkan.
Aku berjalan menyusuri lorong. Kedua tanganku sibuk membawa nampan berisi boullabaise, sup Rusia dengan bahan dasar ikan. Asap mengepul-ngepul. Ikan ini asli aku dapatkan dari nelayan Juwana, tak lebih dari 2 jam yang lalu. Masih fresh. Salah satu rahasia cara memasak andalanku. Hmmm..pasti lezat. Aroma Juwana seakan-akan bercampur aduk dengan cita rasa lapangan Gorky.
Semua tamu memberikan perhatian padaku. Tentu saja mereka bertanya-tanya sup apalagi yang kuhantarkan pada lambung mereka pagi ini. Ah, bukan lambung, namun kuperkenalkan lidah desa mereka yang hanya paham masakan Prancis, Cina, Turki dan Amerika dengan masakan metropolis sejati. Bolehlah duit mereka berlebih, namun cita rasa lidah yang tak istimewa. Maka saatnya mereka paham siapa aku ini. Jangan meremehkan koki dalam kota. Siapa bilang koki terbaik hanya ada di Jakarta dan Surabaya?
Siapa lagi yang mampu memasak berbagai sup dari segala penjuru dunia bila bukan aku. Seluruh hotel mengenal betul hal ini. Saatnya seluruh tamu menyadarinya. Di sebuah sudut kota pantura berdiri seorang koki luar biasa.
Ya, aku adalah sang juru masak pada hotel berbintang di sebuah kota yang tak perlu kusebutkan namanya. Jelas kalau ada istilah juru masak dan bukannya chef dalam restoran hotel, maka aku tidak berkerja pada hotel besar, mewah, necis dan megah. Namun setidaknya bukan berarti hotel kelas kambing, apalagi kelas bebek yang becek dan cuma penuh buat tempat esek-esek.
Karena temanku, Timbil, yang bekerja pada losmen seperti itu, selain menjadi juru masak pagi hari, juga sekaligus sebagai pegawai wasdrei siang hari, dan pencuci mobil tamu losmen di malam hari. Three in one dengan gaji one for three, gaji sebulan untuk hidup tiga minggu. Sisanya aku pastikan berasal dari tips perempuan-perempuan penglaris losmen. Tentu saja.
Aku lulusan sekolah memasak di Bandung. Tepatnya sekolah perhotelan. Jadi jangan pernah anggap enteng dengan kemampuanku ini. Apakah Tuan pernah menikmati mulligatwany soup khas India atau bortsch, sup andalan dari Polandia. Juga Anda, nyonya jelita, apakah pernah menikmati Stchy, favoritku terkini. Sup dengan biet merah, cream dan zurkol yang dihidangkan menggunakan susu yang dihilangkan airnya sampai kental dengan warna kuning komatsu. Warna khas yang ada di kendaraan berat pengeruk batubara dan tembaga asal Jepang itu. Ya, warna kuning semacam itu. Persis.
Silahkan Bapak pesan sup apa saja, dan kuberikan segalanya. Dunia yang tergeletak pada sebuah mangkuk. Bapak tinggal seruput saja.
***
“Ah, aku gak percaya sama pemasak..biasanya mereka gay..Andaipun normal-normal saja, pasti bakalan gak menghargai masakan istri dan bisa-bisa dapur bukan lagi wilayah otoritas kami..”
Ya. Satu-satunya kelemahanku adalah masalah asmara. Tentu saja dengan perempuan.
“Jangan-jangan uang belanja pun diaudit nanti, karena sembako di pasar sudah hapal di luar kepala..Malas ah memadu kasih denganmu, apalagi menjadi suami..tapi kalau memadu cinta bolehlah…”. Sial, ia mulai menggoda.
Sudah beberapa kali kutemui perempuan semacam ini. Takut bersuami seorang koki. Ah, perempuan sekarang kelihatannya saja yang mewarisi karakter Kartini sejati. Tapi nyatanya terlalu Ibu Tien. Banyak maunya dan ingin berkuasa.
“Aku pernah lihat blog-mu. Tak kusangka selain jago masak, kamu juga penulis ya. Walaupun blog-mu berisi resep-resep boga semua..”.
Pada suatu senja yang luang kubertatap muka dengannya. Perempuan senja biasanya kusebut. Duduk dengan leluasa, jemarinya menyelipkan sebatang rokok mungil yang selalu dihisapnya seusai berkata. Bukan kretek, juga bukan menthol.
“Ah, sekadar buah pena. Kasihan ibu-ibu jaman sekarang, susah sekali punya waktu luang untuk memasak. Maka kubuatkan resep cepat saji yang sehat dan nikmat tak kentara. Itu saja.”
Kulihat perempuan senja menyalakan rokoknya lagi. Entah untuk yang keberapa.
Bangku dan meja berderet acak. Dalam ruangan berpendingin udara yang luas. Hanya kami berdua di sini. Restoran yang sepi. Ah, ini bukan restoran. Ini hanya warung bagiku dengan ruangan berlebih dan ornamen tak karuan. Sepi. Pasti tak ada aneka sup tersedia di sini.
“Lalu, mengapa kamu selalu menuliskan cerita di blog-mu akhir-akhir ini..? Bukankah kamu dahulu selalu menulis isu-isu terkini?..Bahasa protesmu berkarakter, jitu dan lugas..Walaupun cerpenmu ndak buruk-buruk amat”
Aku berkomentar tentang blog-nya. Kulihat tahi lalat di pipi kirinya. Selain di wajah, kutahu ada lebih dari lima pada sekujur tubuhnya. Yang paling menarik tentu saja yang ada di paha kirinya. Mengapa aku tahu letaknya dengan akurasi tinggi, biar aku saja yang memahaminya pasti.
“Jaman sekarang susah sekali untuk menulis pendapat bila kita bukan wartawan. Ada undang-undang Informasi Transaksi Internet Luarnegeri atau disingkat ITI#. Brengsek! Maka aku memakai resep SGA saja. Seno Gumira Ajidarma”. Mukanya menyerungut. Penuh ekspresi kecewa. Tapi entah mengapa aku jadi merasa ingin segera memagut bibirnya atau meloncat ke kamar mandi saja.
“SGA itu keren”, lanjutnya. “Berita yang dibungkus dalam jalinan sastra. Dia terinspirasi oleh kitab Negarakertagama lho, yang katanya merupakan karya sastra yang berisi peristiwa jaman itu yang penuh penderitaan. Konon katanya kitab yang ditulis Prapanca itu berisi kisah di luar istana. Sapi kurus kering sebesar kambing. Rakyat yang kelaparan. Jauh dari suasana dalam istana. Untuk mengecoh raja, maka dibuatlah cerita, bukan berita. Jangan buat berita, buatlah cerita..Mana ada sih pengarang yang ditangkap karena bertutur.?”
Pertanyaan retoris yang manis. Tapi kamu lupa. Cekoslovakia di masanya pernah memenjara Bung Havel. Bukankah kamu pun tahu pasti, orang Blora kita pernah dibuang ke Digul semata-mata karena cerita. Tapi tak apalah. Bahan makanan baik pun bila salah bumbu bisa tak bercita rasa. Namun tak meracunimu. Cukup aman bagiku. Salah sedikit tak mengapa.
“Ya, aku merasakannya saat membaca Jazz Parfum dan Insiden”. Ada penekanan keluasan wawasan sastraku. Lihat lah perempuan senjaku. Koki pun paham sastra negeri ini. Jadi, kapan kamu mau merapat di kamarku? Pikiranku makin berantakan. Kubayangkan lekuk kurva sempurna dadanya.
“Seperti dalam ilmu periklanan. Bila produk tidak diperkenalkan dalam sebuah reklame, brosur atau bujuk rayu berbusa-busa dalam televisi melainkan sudah menjadi substansi berita, maka itu adalah keberhasilan sebuah produk… Ada aroma manipulatif tentu saja.” Ah, ia sekarang menyerempet teori advertising. Sempurna. Pasti lenguhannya pun panjang. Pasti goyangannya berirama. Pasti punya banyak variasi posisi.
“Jadi maksud kamu blog kamu yang berisi cerita pun sebetulnya menyampaikan sebuah gagasan kritis? Apakah pembaca sudah sampai ke arah sana? Yakin pesanmu telah diterima? Jangan-jangan malah kamu akan dianggap sentimentil, dangdut, penuh kata berbunga-bunga..Kurang ganas. Lemah bahkan tak bergairah.”.. Tanpa kusadari kata-kata gairah yang muncul dari mulutku sendiri malah makin menjadikanku menjadi-jadi. Ingin rasanya perempuan senjaku kuajak saja ke Losmen si Timbil, temanku itu. Murah meriah, tak ada aparat merazia.
Dia berpikir. Mungkin mengingat-ingat.
Capcay di meja dingin tak bergeming. Kepiting soka yang ia pesan sudah tak tersentuh. Hanya secangkir kopi yang masih digenggamnya. Aku pun menyesal memesan swike. Tak jauh rasanya dengan ayam asam manis. Sudah kuduga. Di kota ini, hanya restoran hotelku yang masakannya tiada duanya. Betul juga teori si Timbil: “Restoran rame itu cuma dua kemungkinan, Bung…rasanya enak banget atau harganya murah banget!”. Celakanya, bahkan restoran ini sepi peminat.
“Mengapa aku harus mempedulikan pembaca? Mereka lah yang harus mengikuti pikiranku. Mereka lah yang harus berlari, melompat dan menangkap esensi buah pikiranku..Bila tak sanggup apa boleh buat!”
Ah, idealis. Bukan! Ini bukan idealis. Semacam narsis dan egois. Ia bukan semacam penulis yang senang berinteraksi dengan pembaca. Berbeda denganku. Kuberikan alamat email bahkan nomor hapeku pada pembaca setia blog-ku. Ada komunikasi. Ada tegur sapa. Bukankah ini khas Indonesia. Tulisan dengan cita rasa ketimuran. Tapi untuk urusan di ranjang, aku penganut kebarat-baratan. Atau malah barat pol. Mentok bahkan.
“Susah..kita itu pingin cepat hebat! Tidak mengenal proses teratur. Blog itu budaya tulis-menulis. Bangsa kita itu seperti anak SMA yang ikut program akselerasi. Kuat di otak tapi kedodoran pada mental. Budaya tutur lisan wayang dan sandiwara yang tiba-tiba diperkenalkan dengan radio, bioskop, film, televisi, sinetron, DVD… akar budaya membaca yang tak kuat. Budaya menulis yang rapuh. Dari omongan langsung disajikan tontonan. Maka jadilah seperti ini. Tak ada proses aktif. Tak ada sisi agresif. Cukup modal mata. Tanpa pikiran. Cuma butuh hiburan!”.. Wow. Ia memberondongkan kalimat-kalimat yang sebetulnya aku tak memahami betul apa maksudnya. Luar biasa.
Tak ada yang salah. Walau ucapannya terasa masam. Seperti mengicipi crème turgo, sup panas andalanku yang lain. Cream tomat dengan macaroni yang dicincang dan parmesan cheese dalam mangkok terpisah. Hidangan yang tak tepat kuberikan pada penderita maag akut. Bagaimanapun juga, masakan enak harus dihidangkan pada orang yang tepat, pada suasana yang mendukung dan kantong yang cukup.
Kontekstual. Itu kuncinya.
“Lalu mengapa tidak kamu kirim saja cerpen itu di media besar semacam KOMPAS dan Koran Tempo? Atau setidaknya blog-mu dipindah dengan hosting berbayar, bukan gratisan seperti sekarang…” aku mencoba meraba penggalan mungil kedalaman sikap hidupnya. Idealisme yang disandangnya.
Dengan anggun ia menjawab:
“Remember that when you take inventory of the things in life you treasure most, you’ll find that none of them was purchased with money..” (*)
Aku tercenung.
Senja yang menyapu mega. Kumasih duduk berdua dengannya. Aku semakin pusing saja menyusun rencana mengajaknya segera masuk dalam dunia lain. Dunia asmara mengepul, panas dan penuh cita rasa.
Kayumanis, 19 Mei 2008 , 01.18 WIB
(*) Diambil dari kalimat pada paragraf terakhir Post Scriptum “Pada Sebuah Beranda”, 25 Cerpen Bondan Winarno. –Penerbit Jalansutra, Jakarta 2005-.










Mei 19, 2008 pukul 1:54 am
Kembali ku di Ibukota. Siap berkeringat dan ternoda.

Mei 19, 2008 pukul 9:29 am
bukannya kamu yang menodai…? huwahahaha…
Mei 19, 2008 pukul 2:25 pm
mmm… ’sup permpuan senja’? pasti sangat istimewa.. hot and spicy.
Mei 19, 2008 pukul 3:01 pm
salam kenal dari bandung
saya suka membaca artikelnya, jangan tanya kenapa
Mei 19, 2008 pukul 3:30 pm
Sup yang ini panjang sekali…..
Cape bacanya eh..nyruputnya……….
Mei 20, 2008 pukul 2:45 pm
Saya punya paman yang profesinya chef, tapi di rumah tetep istrinya yg masak. Dia bilang chef itu cuma profesi, jangan dibawa ke rumah…kecuali special ocassion
Mei 21, 2008 pukul 2:45 pm
proffesional blogging kah maksudnya ?
Mei 21, 2008 pukul 6:54 pm
pooosssinggg bacanya… belum level sayanyah…
baru baca alinea tiga, udah kepengin mencet Back aja…