Sepertinya, kita harus mulai mengasah siasat dan mempersiapkan diri untuk berperang. Ya, perang itu..! Perang yang memobilisasi pasukan dengan persenjataan militer dan baku tembak sepanjang waktu.
Sekali-kali kita yang berinisiatif menyerang. Terserah presiden kita mau menyerang negara mana.
Atau setidaknya kita ngompor-ngompori negara lain untuk menyerang kita.
Dengan perang, kita bisa melihat, jangan-jangan Presiden kita memang lebih jago di saat-saat pertempuran. Memberikan komando dengan tegas, bernegosiasi dengan musuh dan berpidato untuk menyemangati rakyatnya. Juga memerintahkan ilmuwan untuk segera membikin bom, mendesain pesawat tempur tercanggih, mengirimkan intelejen terbaik dan mencari sekutu yang mau mendukung kita.
Mungkin dengan cara ini, kita bisa bersatu. Bangsaku, bangsamu, bangsa kita adalah sama: Indonesia. Dengan peperangan ini kita bisa melihat mana yang patriotis dan mana yang oportunis. Lewat perang kita bisa memahami bahwa ada musuh bersama yang harus kita kalahkan.
Hanya dengan perang, kita bisa bahu-membahu membuat dapur umum, mengumpulkan dana, dan dipaksa melakukan akselerasi teknologi. Bukankah perangkat tercanggih saat ini adalah hasil rekayasa di jaman Perang..?
Dengan perang, orang-orang yang ribut karena pilkada bisa tersalurkan amarahnya. Dengan perang, orang yang merasa paling dekat dengan Tuhan bisa menunjukkan kepahlawanannya. Hanya dengan pergi perang, seorang istri bisa memahami betapa kehilangan suami akan terlalu berarti.
Perang itu perlu.
Pemilik dana kampanye semasa pilpres bisa dengan cepat balik modal. Stasiun televisi dan surat kabar tak perlu susah-susah mencari berita. Pengusaha makanan ringan akan diborong habis demi perbekalan tentara. Warga sipil yang bosan berkerja di kantor bisa ijin cuti untuk bela negara. Pengusaha bisa ikut tender pengadaan bendera, parasut, baju seragam, sepatu dan pulsa. Bukankah komunikasi di saat perang adalah vital adanya..?
Dari perang itu muncul perwira yang gagah dan berani mati. Matang dalam pertempuran dan bukan sekadar hasil lobi-lobi politik untuk dijadikan komisaris BUMN dan perusahaan yang minta dilindungi. Namun, mungkin juga muncul perwira yang melejit bak meteor. Tiba-tiba jadi Jenderal atau sebangsanya.
Juga para warga yang pandai bersilat lidah dan mempengaruhi massa. Segera diminta mengumpulkan pemuda-pemuda harapan bangsa untuk bertempur sekuat tenaga. Habib-habib diminta berdoa di masjid terdekat. Memohon pertolongan Tuhan bahwa bangsa ini harus menang dalam peperangan. Para jenderal yang berperut buncit dan perwira yang kebanyakan dugem diminta maju di garis depan.
Biar kita bisa tahu, bahwa kita memang punya tentara yang gagah perwira dan masih punya warga yang cinta negaranya..
Maka, perang itu perlu…
***
————-
keterangan:
[gambar diambil dari http://www.iwatchstuff.com/]













Posted by sam siza on Juni 16, 2008 at 2:14 pm
aku mau daftar mas kalo ada perang
dengan siapa aja juga mau yang penting melepas kepenatan kerja dan bisa ijin cuti
kalo boleh usul sama australia aja…………..
Posted by edoth on Juni 16, 2008 at 2:18 pm
Sekarang banyak Perang Saudara di Indonesia ya Pak? Mungkin karena udah lama (63tahun) gak perang….?
Posted by SlempitanJempolKaki on Juni 16, 2008 at 7:12 pm
ke bali aja bung. di sana banyak orang2 bule berambut perang.
Posted by latree on Juni 16, 2008 at 9:39 pm
ya ampun om, kau kesambet apa?
Posted by ngodod on Juni 17, 2008 at 8:27 am
ndak mau…
saya masih belum kawin. belum menikmati surga dunia.
Posted by wong peniron.. on Juni 18, 2008 at 7:13 am
hayuh,sipp setuju klo perang..
gimana klo kita tantang amerika??
“menyiapkan bambu runcing”
Posted by alex® on Juni 19, 2008 at 12:30 am
Konon sih Perang itu memang perlu katanya. Sebagai pensucian peradaban sesekali…
Cuma… orang bego mana yang mau jadi korban perang? Saya sih emoh.. .:P