Berikut ini akan diceritakan bagaimana bahasa asing, terutama Bahasa Inggris, menjadi jembatan karya anak bangsa sebagai sumbangan kepada sastra dunia, dengan dan atau tanpa kepentingan maupun keuntungan ekonomi. Ditulis sebagai salah satu bahan perlombaan menulis blog yang diselenggarakan oleh British Council.
Selamat menikmati.
Bumi Manusia Indonesia
Apakah ada hal-hal genting dan penting yang telah disumbang oleh anak semua bangsa kepada dunia? Memberikan bingkisan kemanusiaan berupa budaya atau hasil inovasi yang semakin memperkaya dan sekaligus merayakan hidup?
Alunan jejak langkah manusia Indonesia sebagai bagian dari sebagian kecil slot kamar dalam sebuah perahu raksasa bernama peradaban manusia, jauh lebih besar dibandingkan dengan kapal Nabi Nuh.
Ah, bukan..! Kita tidak sedang berada dalam satu kapal besar. Kita adalah bagian dari manusia-manusia dalam rumah kaca yang besoaaaaar banget!
Setiap gerak kita akan banyak memberikan nuansa yang berbeda-beda. Kita sudah tidak bisa lagi bersembunyi. Kita saling menilai. Kita saling memuji. Seringkali juga menyeringai. Karena hidup adalah sesuatu gagasan yang tak tepermanai.
Lalu bagaimanakah caranya agar karya anak bangsa mendunia?
Untuk menjawab pertanyaan ini, sudilah kiranya Anda membaca sekali lagi alinea awal tulisan ini.
Alinea di atas adalah sebuah rangkaian kalimat yang mengumbar aroma Pramoedya. Bung Pram. Lengkapnya Pramoedya Ananta Toer. Konon kata orang-orang, Ia nyaris mendapatkan anugrah Nobel Sastra. Bagaimana bisa?
Inilah hebatnya bahasa. Lebih dari 50 karya sastra lahir dari Bung Pram dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Tentunya Bahasa Inggris berada di urutan pertama proses alih bahasa karya sastranya.
Dengan alih-bahasa ke dalam bahasa Inggris, yang relatif lebih dikenal dan sifatnya yang universal, maka buah pikirannya tersampaikan dengan persepsi dan daya imajinasi, terlebih lagi “cipta-rasa” yang kecil kemungkinannya terjadi reduksi persepsi yang diterima oleh pembaca. Maka tak aneh tahun 1988 Ia dianugerahi The PEN Freedom-to-write Award, Ramon Magsaysay Award pada tahun 1995, Fukuoka Cultur Grand Price, Jepang pada tahun 2000, tahun 2003 mendapatkan penghargaan The Norwegian Author Union dan tahun 2004 Pablo Neruda dari Negara Chile (sumber: pengantar karangan Bung Pram terbitan Lentera Dipantara).
Sampai akhir hidupnya, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.
Dari sepenggal bukti ini dapat dikatakan bahwa bahasa adalah esensi dari media utama dalam menyebarluaskan karya kepada warga dunia.
Selain Bung Pram memangnya ada bukti lain bahwa bahasa (Inggris) menjadi penting artinya dalam menyebarkan ide dan karya?
Cobalah pertanyaan ini Anda sampaikan kepada Seno Gumira Ajidarma, peraih Penghargaan Penulisan Karya Sastra 1995 dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. Maka ia akan menjawab bahwa bahasa Indonesia itu indah, namun untuk memamerkan keindahan itu pada khalayak ramai dunia, maka jadikanlah karya itu dalam bahasa Inggris. Untungnya ia telah dibantu oleh A.Teeuw yang mengalihbahasakan kumpulan puisinya dalam Modern Indonesian Literature II.
Bila Anda penyuka dan pemerhati seni pertunjukkan, maka Anda pun akan paham dengan Sureq Galigo yang aslinya berasal dari tanah Bugis-Sulawesi. Mengapa istimewa? Karena naskah Galigo ini telah dipentaskan dengan skala dunia internasional di beberapa tempat seperti Washington DC dan Singapore. Anehnya, justru kita masih banyak yang tak tahu Sureq Galigo ini. Sebuah kisah kepahlawanan (wiracarita) yang mengagumkan. Sehingga para ilmuwan sejarah dan satra Amerika menganggap sureq ini sebagai Kanon (Canons). Apakah kanon itu?
Menurut Sir Frank Kermode:
“Canons, which negate the distinction between knowledge and opinion, which are instruments of survival built to be time-proof, not reason-proof, are of course deconstructible; if people think there should not be such things, they may very well find the means to destroy.”
Kanon, menurut Nirwan Ahmad Narsuka adalah kumpulan naskah yang dikukuhkan sebagai “ukuran”, norma, pegangan yang berwibawa, sukma bagi komunitas yang memegangnya. Kanon adalah standar yang menjadi sumber ilham bagi kehidupan penciptaan generasi berikutnya. Sedangkan menurut Harold Bloom, pemikir dan kritikus sastra yang sangat berpengaruh dari Yale, sebuah teksmenjadi kanon sastra karena kemampuannya membuat kita merasa asing di tengah lingkungan sendiri (feel strange at home). Atau sebaliknya, membuat kita merasa betah dan akrab di tengah dunia yang asing (at home out of doors, foreign, abroad).
Bagaimana bisa sebagai karangan dengan bahasa bugis, yang tentunya dengan alam pikiran masyarakat bugis, cita-rasa bugis, dapat memperkaya khasanah sastra dunia, bahkan tingkat “kanon dunia”?
Ya. Sekali lagi itu adalah berkat bahasa. Berawal dari ekspedisi Charles Wilkes pada tahun 1838 yang tiba di Singapore yang mendapatkan naskah kuno bin langka dari Alfred North, seorang pendeta yang berteman dan sama-sama bekerja di percetakan dengan Abdullah (bin Abdulkadir Munsyi) dan Husin bin Ismail. Nama yang disebut terakhir inilah yang menyalin naskah sureq Galigo, yang kemudian disimpan sebagian di Library of Congress, Cambridge Harvard dan dua naskah di London, hingga akhirnya dikembangkan menjadi seni pertunjukkan yang mengagumkan bagi semua orang.
Bagaimana dengan sejarah pelajaran bahasa di dunia?
Tentu saja sama. Alih-bahasa dari bahasa asing menjadi bahasa sendiri atau sebaliknya merupakan awal tonggak sejarah bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban sejarah manusia.
Ketika cendekiawan muslim melakukan penelusuran kembali filsafat Yunani, dan kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa ibu, maka ilmu pengetahuan menjadi massal dan saling bahu-membahu menciptakan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang berkelanjutan. Salah satu upaya paling awal dilakukan oleh Al-Kindi, namun al-Farabi-lah, penulis Madinah al-Fadhilah, orang pertama yang menciptakan kerangka klasifikasi pengetahuan yang paling berpengaruhdan digunakan secara luas.
Dari sana lah bangsa Arab melesat maju di depan bangsa-bangsa lainnya, termasuk bangsa eropa yang masih dalam masa peteng-rubet (kegelapan). Dunia Arab dan bangsa di dunia mengenal Avicena dan Averoes sebagai ilmuwan yang mumpuni dan meletakkan dasar cara berpikir ilmiah kembali berdasarkan warisan filsafat Yunani.
Hal ini terjadi juga di Jepang ketika Restorasi Meiji ada dan berlangsung. Ribuan karangan buku dalam bahasa asing diterjemahkan sedemikian cepat dan akurat. Transfer ilmu menjadi hal lumrah terjadi. Pengetahuan mengalami akselerasi yang berkelanjutan. Hasilnya dari semua itu, dapat kita lihat saat ini. Bagaimana Jepang unggul dalam hal teknologi sekaligus ekonomi.
Pengajaran Bahasa Inggris sendiri bagaimana?
Pelajaran dan pengajaran Bahasa Inggris di sekolah pendidikan formal? Ah, ruwet! Seakan-akan terbetik di masing-masing pikiran anak sekolah bahwa untuk bisa bahasa Inggris ya harus kursus atau les di luar pelajaran sekolah.
Sebetulnya hal ini dapat dieliminir bilamana tenaga pengajar dapat membawakan sebuah topik bahasan dengan riang dan tidak menakutkan. Seakan-akan, bagi murid kampung yang bahasa ibunya Bahasa Jawa dan sudah susah payah berbahasa Indonesia, harus semaput pingsan, hanya gara-gara takut dipermalukan di depan kelas karena wagu dan tak wangun ber-casciscus-weswos menggunakan bahasa Inggris.
Hal ini sebetulnya lumrah terjadi karena minimnya kesempatan anak didik mempraktekkan bahasa Inggris dalam pergaulan sehari-hari. Perlu usaha keras dari pengajar untuk menanamkan kesadaran bagi anak didik bahwa pelajaran di sekolah hanyalah panduan dan hantaran, namun pokok pelajaran adalah dalam semesta kehidupan.
Bagaimana dengan dunia maya, blog dan media komunitas lainnya. Apakah Bahasa asing, terutama Inggris, berpengaruh? Bukankah bahasa Indonesia lebih membumi?
Ya. Saya setuju dengan menggunakan bahasa ibu akan jauh lebih membumi. Namun sebagai warga dunia, dengan sumber ilmu pengetahuan dan sumber ekonomi masih berada di negeri barat yang notabene menggunakan bahasa Inggris, maka sudah sepatutnyalah semenjak dini kita dikenalkan dengan bahasa Inggris.
Seperti Jembatan Semanggi. Bahasa Inggris mengatasi kemacetan walau terkesan sedikit memutar pada arah yang berbeda. Maka Bahasa Inggris adalah [jembatan] Semanggi menuju Dunia yang mulus dan lancar. Masalah mengenai bagaimana kita sulit mencari kesempatan menggunakan bahasa Inggris dalam kesempatan sehari-hari, dan kesulitan dalam menerapkan kurikulum yang cocok dalam dunia pendidikan dan pengajaran Bahasa Inggris, itu hanya soal kebiasaan. “Bisa karena biasa..dan biasa karena terpaksa!”
Bahasa juga menunjukkan bangsa. Bahasa juga menentukan nasib kita. Dengan bahasa kita bisa menyampaikan pendapat dan alam pikiran dengan serta merta. Tanpa perantara, tanpa jeda, dan tanpa cela.
Semoga!
Jakarta, 28 Juni 2008 02.18 WIB
Mas Kopdang
NB: Saya melakukan percobaan menggunakan bahasa Inggris dalam salah satu postingan blog saya di sini. Hasilnya? Dari data statistik, terdapat beberapa pengunjung yang datang dari USA, Rumania, Jerman, Prancis dan Belanda. Padahal sebelumnya, saat masih terus menggunakan bahasa Indonesia, hal ini mustahil adanya. Pengunjung, ya itu-itu juga..!
Keterangan:
Tulisan ini sebagian besar berdasarkan inspirasi dan tulisan beberapa orang berikut ini:
-
Pramoedya Ananta Toer dalam “Larasati”. Hasta Mitra, 2000
-
Nirwan Ahmad Arsuka dalam “La Galigo dan Kanon Sastra Dunia: PENCIPTAAN dan PENEMUAN Manusia. Esei-esei Bentara KOMPAS 2003.
-
Roger Tol dalam “Pengembaraan La Galigo ke Washington DC-Memperkenalkan Husin bin Ismail”. Esei-esei Bentara KOMPAS 2003.
-
Seno Gumira Ajidarma dalam “Jazz, Parfum dan Insiden”. Bentang 1996.
-
Ziauddin Sardar dalam “Kembali ke Masa Depan”. Serambi 2003.










Juni 28, 2008 pukul 3:42 am
Kata anak jaman sekarang:
“So what gitu loh..secara ya english gw ga fluently2, masalah gak jago, du you know why? coz u drive me crazzzy. Plis, mai honey, don’t let anyone to tease yu, coz thats my job..”
HALAH..
(*ngomong opo kiyeee..*)
Juni 28, 2008 pukul 1:42 pm
jadi seperti yang terjadi dengan the s.i.g.i.t.
Juni 28, 2008 pukul 10:51 pm
bahasa inggris itu penting ga penting sebenarnya, apalagi buat masyarakat eropa
Juni 29, 2008 pukul 5:41 pm
weleh… weleh…., beberapa nghari gak mengkunjunggi sampeyan kok tulishan zhuddah dalam kaidah bahazza yang ndakik…tapri aku setujhu kok… apaphun bahasa ninggris itu ya penting-penting jugah… messki bahasaah ngindonesia tidak kalaahh pentingnyaa…
Juni 30, 2008 pukul 2:37 am
@ ngodod
the sigit emang keren Om..
tinggal mau gak jadi group pop massal..? atau masih mengusung ke-indie-annya..
@ hedi
Bener..Irlandia dan Wales itu hebat, anak 4 tahun di sana udah jago-jago bahasa Inggris ya..?
@ilalang

ane juga heran, udah lama gak nyambangin blog ini bahasanya jadi kayak orang arab..?
ilalang kalo kegondrongan dan kepanjangan bikin risih..mending tak tebas sampai abiss..!
Juni 30, 2008 pukul 5:28 am
english is essential to our daily life….
cuma terkadang jd bahan candaan tersendiri yg msh belepotan tp brani menggunakannya…
yaaah mumpung ini bukan bhs ibu klopun slh ucap msh dimaafkan ya toh?
Juni 30, 2008 pukul 6:13 am
weleh… weleh… daripada ditebasin, ane ngabur dulu kali ye… :P:P
Juni 30, 2008 pukul 7:54 am
@ the Loebizz

Betul Mbak Fini..saya sepakat.
mau belepotan, mau dibecandain, asal kita tetep berani, nanti tentunya akan bermanfaat..
Apa manfaatnya?
Ya jadi bahan becanda temen2 kita sampe tuwir..
kekekekekek…
@ ilalang

gampang kalo kabur..tinggal tanya sama Mbah Iway..
di manapun Ente berada, Mbah Iway senantiasa mampu mengendus keberadaan ente..
sekalian minta serpis sama Mbah sebagai “Ahli Tebas Jarak Jauh..!”
Juni 30, 2008 pukul 2:34 pm
[...] [+] Bahasa Inggris seperti Semanggi lho… [...]
Juli 7, 2008 pukul 9:28 am
[...] kreatif yang rekan-rekan tulis, kami telah memilih 3 blogger dengan entri terbaik, mereka adalah: Mas Kopdang, Alief Rezza, dan Agus Muhammad Ustad Ketiga pemenang berhak mendapatkan hadiah hiburan dari [...]
Juli 7, 2008 pukul 6:36 pm
Jadi semangat nulis pake English.
Terus terang, saya gak baca smua mas. Saya baca yg paling atas ama yg paling bawah saja.
yg nambah semangat NB-nya itu.
Trims mas & Salam kenal.
Juli 11, 2008 pukul 5:25 am
[...] Blogging Competition periode 2 dengan tema Pengajaran dan penggunaan Bahasa Inggris di Indonesia : Mas Kopdang, Alief Rezza, dan Agus Muhammad [...]
Juli 11, 2008 pukul 8:21 am
[...] Ya. Ane’ dapat satu cakram kilat (FlashDisk) dengan daya tampung 1Gb alias satu gajah bengkak dari British Council hasil ketak-ketik sepenuh hati. [...]
Juli 12, 2008 pukul 11:41 am
makan makan ,,,,,
Juli 17, 2008 pukul 10:00 pm
duh, panjang jg artikelnya, tp detil koq, good .. yah, as second language ato 3rd language bolehlah lebih didalami bhs asing ini, tp teteup bhs Indonesia hrs lbh mahfum dlm EYD nya. bayangin aja bhs sendiri aja msh belepotan, apalagi mau jago bhs asing .. but it’s fine, learn need step ..
September 8, 2008 pukul 11:21 pm
[...] [+] Bahasa Inggris seperti Semanggi lho… [...]