Bersyukurlah kita masih punya anak bangsa yang cinta negeri ini. Bang Yos, Mas Prab, SBY, Bu Mega mencintai negerinya dengan berusaha menjadi nahkoda kapal nusantara.
Juga ada pendatang baru yang punya uang segepok seperti Rizal Mallarangeng, Jenderal Bangkotan sekelas Pakde Wir dan si nekat Yuddy Chrisnandi yang mendukung Hak Angket BBM satu-satunya urusan dari fraksi Golongan Karatan (GolKarat), yang katanya juga mau ikutan jadi Capres. Oh ya, apa kabar Sutrisno Bachir..?
Bung Rizal sendiri sudah memberi komentar mengenai tulisan tentang dirinya di blog ini. Santun dan tetap nekat berusaha mengambil simpati konsumen. Tapi sayangnya ia terlalu sadar, sentimen Jawa rupanya masih laku. Komentar Sang Adik dari Pemuda di titik nol itu Njawani. Niatnya…
Jujur, daripada saya nonton iklan para Capres, saya lebih senang nonton Fashion TV dengan lenggokan mbakyu yang kenes lan seksih itu. Lebih baik saya yang bernapsu, dari pada saya jadi korban napsu mereka semua.
++
“Jangan letakkan telur dalam satu keranjang”.
Begitu pun para pebisnis bin konglomerat Indonesia. Bisa saja setiap Capres mereka berikan masing-masing satu telur. Bisa telur asin, telur bungker, telur puyuh, telur angsa, telur ayam kampung, untuk ongkos pemilu, dengan harapan telur-telur itu, pada waktunya akan menetas. Telur asin bisa jadi proyek, telur bungker bisa untuk mengamankan usaha dari santet dan teluh, dan berbagai khasiat telur yang akan memuluskan para konglomerat mencari sesuap nasi dan segenggam berlian dari tanah Indonesia.
Bagi saya, semua telur itu hanyalah telur manusia. Bau dan tak perlu!
Cobalah membuat program yang dicontohkan Sodara Fadjroel Rahman dalam KOMPAS (22/7), seperti yang disampaikan Mbah Reggeae, penasihat spiritual ane’. Misalnya, (1). Nasionalisasi aset negara (telekomunikasi, migas dan tambang); (2). Penolakan pembayaran utang haram ; (3). Pajak progresif ; (4). Pengadilan Soeharto dan kroninya; (5). Pengadilan pelanggaran HAM berat.
Atau mungkin, kata Mbah Reggeae lagi: Orang-orang seperti Dradjad Wibowo atau Rizal Ramli mungkin akan menambahkan daftar itu dengan hair cut, optimalisasi posisi strategis (geo-politis) negeri ini di perundingan bilateral dengan negara/lembaga pemberi utang, pengurangan beban bunga rekap dan berbagai isu lain yang selama ini dihindari oleh banyak pihak.
Jadi bukan dengan isu murahan sekelas Nasionalisme sempit, Patriotisme kebangetan, Isu agama kampungan, jargon Pembelaan pada wong-cilik, dan cara-cara ajaib lainnya yang sudah ketinggalan jaman dan itu-itu saja. Seperti dagangan di Jakarta Fair, pasar malam dan arena hiburan lainnya: kembang gula kapas yang warna-warni mengembang. Cuma bikin batuk dan enaknya lima menit belaka. Selanjutnya sakit gigi….!
Indonesia sudah saatnya dipimpin oleh kaum bijak bestari, …seperti saya contohnya.
Huahahahahahaha…..
++
Saya minta nahkoda nusantara yang tegas, beringas, cerdas, kerja keras, ikhlas dan tuntas…
Jadi yang lama masih bertahankah…?
Dan wahai engkau para Jenderal Angkatan Darat yang terhormat..pasti setelah menjadi Presiden masih tetap akan pintar minta ucapan terima kasih seluas-luasnya..Bila engkau Jenderal Angkatan Laut, akan meminta ucapan terima kasih sedalam-dalamnya, dan bila engkau Jenderal Angkatan Udara, meminta terima kasih setinggi-tingginya…
Dan Cilaka lah kita bila Jenderal Pulisi yang jadi Presiden..akan meminta ucapan terima kasih SEBANYAK-BANYAKNYA…..
Merdeka..!










Juli 23, 2008 pukul 11:28 pm |
Saya sudah tak rehat lagi dan makin sehat.
Semoga kembali giat untuk membuat kata dan kalimat.
Karena sungguh asoy dan nikmaaaat…
Juli 23, 2008 pukul 11:35 pm |
dan nelon ada capre syg nge-blog seperti obama
Juli 24, 2008 pukul 7:54 am |
i smell dollar(s) **makan-makann**
Juli 24, 2008 pukul 10:09 am |
Mereka menikmati kebodohanku sebagai anak negeri…karena tidak mengerti akan janji manisnya…dan aku tertipu…
Juli 24, 2008 pukul 10:31 am |
lebih kurang saya setuju dengan tulisan ini.Namun sekali lagi janganlah kita terlalu fokus hanya pada tataran cover saja.Karena sebagus apa pun visi,misi harapan maupun cita-cita yang ditampilkan dalam iklan toh sekali lagi itu hanya dalam iklan.Biarlah masyarakat belajar dari sejarah dan kemudian menilai siapakah yang pantas memimpin bangsa ini 5 tahun ke depan.Perlu bagi masyarakat untuk belajar lebih jauh mengenai karakteristik calon pemimpinya baik melalui studi perbandingan,bertanya pada yang dianggap lebih mengerti maupun sekedar mencari biografi dari sang cali\on.Pokoknya jangan hanya termakan iklan!
Juli 24, 2008 pukul 11:20 am |
belum ada yang jualannya meyakinkan bahkan untuk sekedar cover saja..
Juli 24, 2008 pukul 6:09 pm |
sudah bosan tertipu janji2 palasu…
Juli 25, 2008 pukul 7:55 am |
dah lah mas kopdang yang jadi presiden aja, dijamin tol cirebon – tegal segera terwujud dan cirebon punya bandara internasional hahaha…..
aku dukung deh…….
Juli 25, 2008 pukul 2:23 pm |
Asyik mmg menunggu para calon “baru” itu ngomong detil. Utamanya org2 semacam fadjroel, dradjad, rizal ramli dan mreka yg selama ini mengklaim bukan lib atau neo-lib. Pasalnya, mallarangeng dan para lib/neolib sudah micara sekali. Cas cis cus. Sementara yg mengaku non-lib terkesan hanya berhenti pada hal2 besar, misalnya haircut, nasionalisasi, pengurangan beban bunga rekap dll. Tapi gimana detilnya/mekanismenya, maaf, hemat sy, gak pernah jelas. Ada kesan mreka krasan sekali berlindung di balik hal2 besar lain spt kepentingan rakyat, kemandirian dll.
Juli 28, 2008 pukul 8:20 pm |
ga beli!