Kebebasan Pers atau Bebas dari Pers?

Januari 31, 2009
"lies"

"lies"

 

Salah satu tanda modernitas bagi saya adalah adanya kebebasan pers. Modernitas disini berarti peradaban yang secara moral diantaranya menjunjung luhur adanya kebebasan berpendapat dan kebebasan memperoleh informasi.

 

Tapi apakah kebebasan itu sejalan dengan adanya kemerdekaan untuk tak berpihak? Tentu saja sulit. Bahkan wartawan atau stasiun tivi dan penerbit Koran akan selalu memiliki keberpihakan. Semoga keberpihakan itu adalah pada kebenaran bukan kepada kepentingan.

 

Apakah pers identik dengan jurnalisme?

 

Entahlah. Mungkin Paman, Hedi atau Ndoro jauh lebih bisa menerangkannya.

Menurut Bill Kovach, jurnalisme mengemban amanah. Lantas amanah seperti apakah yang harus dijalankan oleh dunia jurnalisme?

  1. Menyampaikan kebenaran
  2. Memiliki loyalitas kepada masyarakat
  3. Memastikan adanya verifikasi
  4. Memiliki kemandirian terhadap apa yang disampaikannya.
  5. Memiliki kemandirian memantau kekuasaan
  6. Senantiasa mewadahi forum kritik dan kesepakatan public.
  7. Menyampaikan sesuatu dengan menarik dan relevan pada public.
  8. Senantiasa menyampaikan berita dengan komprehensif dan proporsional
  9. Memberi kesempatan NURANI.

 

Maka, ketika saat ini banyak berseliweran berbagai tulisan, berita, tayangan yang tak memenuhi kriteria tersebut, bagi saya informasi itu adalah sampah! Cukup dibungkus asal-asalan dan dilempar ke comberan.

Baca entri selengkapnya »


Visi yang Melompati Resolusi: Permainan “Membunuh Masa Depan”

Januari 27, 2009

Late Night Surveillance At The Bar OR The Poor Man's Night Vision Goggles
Late Night Surveillance At The Bar OR The Poor Man’s Night Vision Goggles

 

Hmm,… judulnya agak familiar jika ditelaah secara parsial, tapi begitu digabungkan mungkin terkesan kontradiktif. Istilah Visi, Resolusi bukanlah barang baru. Bahkan mengandung makna komplementer apabila dielaborasi.

Saya pernah menyinggung makna sense of urgency bagi pencapaian tujuan maka tajuk berikut ini lebih dalam mengupas konteks pemakaian sense of urgency untuk menyusun visi.

Visi adalah sebuah jangkar yang menjaga fokus dan cadangan energi  dimanfaatkan untuk suatu tujuan. Sebuah visi melampaui filosofi sebuah resolusi. Ketika resolusi diidentikkan dengan janji dan diperbarui tahunan, maka visi lebih bersifat strategis, mengandung unsur tahan uji dan tahan lama, sehingga biasanya diperbarui minimal 5 tahunan.  

Penikmat artikel manajemen, biasanya paham benar dengan tujuan dari sebuah visi. Visi membuka kepekaan terhadap berbagai peristiwa yang semula terlihat acak, memaknainya dan memanfaatkannya demi sebuah perubahan dan kemajuan. 

Persoalan makin menarik dengan judul yang saya sisipkan: permainan membunuh masa depan. Thanks to Dr. James Canton seorang futuris global yang memperkenalkan sejenis games yang bermanfaat untuk mengekstraksi visi.

Bayangkan diri Anda, 20 tahun ke depan. Yang berusia 25 tahun saat ini, silahkan menggambarkan sosok diri pada usia 45 tahun. Bayangkan apa yang sudah dicapai saat itu. Baca entri selengkapnya »


Rizal Ramli Mencalonkan Diri Menjadi Presiden RI 2009?

Januari 26, 2009

Kalau memang benar Rizal Ramli mencalonkan Presiden RI, maka saya akan memilih ia.

Entah kenapa.


Blogger itu Penipu

Januari 26, 2009

Ngeblog itu menipu. Seperti pematung, yang membentuk rupa wujud dengan menghilangkan bagian-bagian yang tak perlu. Ngeblog itu bukan kehidupan blogger. Bagian dari kehidupan lebih tepatnya.

 

Ngeblog itu dimungkinkan jujur namun tidak segalanya diungkapkan.

 

Bisa saja blogger menulis sesuatu hingga berbuih-buih tentang cara merawat mobil dengan benar dan menghemat pengeluaran. Namun tentu saja sisi kehidupan lain tak diungkap. Bagaimana sang ahli merawat dan penghemat BBM mobil itu ternyata boros menghabiskan kertas tisu toilet kamar mandinya, bagaimana ia menghabiskan 3 bungkus rokok sehari, dan bagaimana ia banyak memboroskan pulsa telpon rumah untuk sambungan dial up internet.

 

Ngeblog itu hanya etalase. Yang diungkap dan ditulis tentu saja bagian-bagian yang memang ingin dipertontonkan kepada khalayak. Blogger tidak akan mempersilahkan tamu pembacanya masuk hingga ke kamar tidur dan dapur. Cukup ruang tamu saja. Andaikan pun bagian lain rumahnya ditunjukkan, maka tentunya melalui proses make up dan penataan sebelumnya.

 

Maka,sikapilah seorang penulis, apalagi  sekadar blogger dengan apa adanya. Tidak lebih tidak kurang. Jangan terlalu asin, namun juga jangan terlalu manis.

 

Dan percayalah, apa yang Anda persepsikan tentang mereka, sejatinya persepsi itu tak lebih dari 1%  dari kenyataan yang ada.

:P


Belajar Hidup Memperbaiki Kesalahan

Januari 23, 2009

Belajar Hidup Dari Kesalahan

Belajar Hidup Dari Kesalahan

 

 

Bedanya hidup dan sekolah itu hanyalah kebalikan.

 

 

Dalam sekolah, kita belajar dahulu kemudian menghadapi ujian. Sedangkan dalam hidup, kita selalu ditempa dengan berbagai ujian, dan baru lah kemudian kita belajar.. Baca entri selengkapnya »


Ente Kenal Bugiakso?

Januari 20, 2009

Ada yang kenal Bugiakso..?

Ia nekat mencalonkan diri menjadi Presiden Indonesia 2009. 

:shock:

“Weleh..weleh…” 


Harga Buku Sekarang dan Sebelas Tahun Lalu

Januari 19, 2009
Harga Buku Sebelas Tahun Lalu

Harga Buku Sebelas Tahun Lalu

Tahukah ente, berapa harga satu buku keren, terbitan Yayasan Bentang Budaya, yang ditulis oleh Jalaludin Rakhmat, Dedy Djamaluddin Malik, Yudi Latif (Rektor Paramadina-semasa muda), dan Idi Subandy Ibrahim, rilis Juni 1997 yang ane’ beli Mei 1998, dengan desain sampul dibuat apik oleh Agus Suwage, bergambar kepala lelaki menyusu pada asu?

 

Harganya hanya Rp11,500 saja plus diskon 50%.  Saya beli di Toko Gunung Agung. Sehingga dapat dikatakan cukup dengan Rp5,750 ane bisa bawa pulang buku “Hegemoni Budaya” tersebut.

 

Bayangkan…! Dahulu, sebelas tahun yang lalu, buku “serius” dengan kajian yang oke punya, tebalnya 394 halaman, hanya dengan harga tersebut di atas. Sama saja per halaman dihargai Rp14,6.

 

Bandingkan dengan buku terbitan dengan kualitas sampul, kertas dan tebal halaman yang sama. Maryamah Karpov bisa membuat kita memar di sekujur muka, bila satu buku kita tawar Rp20,000 sahaja.

 

Ya. Memang hampir tak sebanding bila menyamakan harga buku sebelas tahun yang lalu dengan saat ini. Tapi jangan salah, waktu itu saya masih SMA. Anak sekolahan yang masih mampu membeli buku di luar buku pelajaran sekolah. Sekarang, buku sejenis seharga Rp70,000 sampai dengan Rp85,000.

 

Itu bisa untuk beli pulsa Rp11,000, Nomat dengan pacar Rp 30,000, Beli Bakso 2 mangkok Rp14,000, dan ongkos bajaj pulang dari Metropole (Megaria) –Utan Kayu Rp15,000. Jadi, dapat disimpulkan bahwa harga buku saat ini mahal. Lebih tepatnya mahal banget..!

 

Lebih baik untuk beli pulsa, ngajak nonton pacar, ngajak makan bakso, dan nganter pulang ke rumahnya.

 

Persoalan kebutuhan bahan bacaan, lebih baik dua cara yang ditempuh: Satu, giat membaca blog sebagai pengganti buku. Kedua, nekat untuk ngembat buku perpustakaan sekolah…Gratis, tapi dosa dikit..!

 

:P  

terbitan Bentang

terbitan Bentang

 
 
Rp.11,500 diskon 50% lagi..!

Rp.11,500 diskon 50% lagi..!

  
  
dari samping

dari samping

 
 

Debat Kusir [Ber] Kacamata Kuda

Januari 18, 2009

 381621368_33029f0e77

 

 

Debat kusir itu mengasyikkan namun menjerumuskan. Asyik, karena kita bisa seolah-oleh duduk di depan kamera, disaksikan jutaan pemirsa, seperti layaknya komentator olah raga. Bisa mengeritik tanpa perlu pusing memberikan solusi.

 

Andaikan pun solusi dikehendaki, bisa asal comot dari pemikiran tokoh A di Koran S, tokoh U di radio I, atau jawaban dari rumusan sendiri yang tidak perlu secara ilmiah dipertanggungjawabkan metode dan sistematika berpikirnya.

 

Asal lawan debat tak berkutik, itu adalah sebuah kemenangan. Apalagi bila disaksikan oleh banyak pendengar setia. Biasanya hal ini terjadi di warung kopi, angkringan, atau warung indomi.

 

Namun, debat kusir bisa menjerumuskan. Jauh panggang dari api. Terkadang pembahasan tentang asbak, bisa diperdebatkan menjadi bagaimana bisa duren tumbuh di atas ruang tamu yang mejanya terdapat asbak. Susah. Tidak nyambung. Ndak kontekstual. Yang penting manggung!

 

Sakit memang bila kita berdebat secara elegan dengan orang bijak yang berwawasan luas. Kita bisa bertekuk lutut. Namun, banyak makna yang tak terpermanai. Banyak pengetahuan yang kita dapatkan. Ilmu yang tersedot dan masuk ke dalam jiwa raga kita.

 

Namun akan jauh lebih sakit bila kita berdebat dengan orang kerasa kepala namun sejatinya bodoh dan modal nekat. Kita hanya menghabiskan waktu, dan menjadi merugi. Mengapa? Karena tak ada apa-apa yang kita dapatkan. Tiada hikmah, yang ada malah sumpah serapah dan sampah.

 

Terkadang volume suara dalam perdepatan yang live show sangat menentukan. Diskusi jalanan yang benar-benar jalanan. Terkadang ada ekspresi melecehkan, melotot, nyengir kuda meremehkan, hingga suar menggelegar.

 

Beda juga dengan jaman masa kini, bilamana debat berlangsung hiruk pikuk di mailing list dan forum dunia maya. Tidak seperti perdebatan teman-teman Asterix yang meributkan dagangan ikan, daging  dimulai dengan tamparan dan diakhiri dengan tumpuk-tumpukkan para pendebat diiringi alunan sang musikkus Galia, mailing list atau milis biasanya perdebatan dimulai dengan pernyataan SARA, perbedaan pandangan politik, ideologi dan paling utama ya itu tadi, SARA, khususnya masalah agama. Baca entri selengkapnya »


Mengapa Stress dan Obatnya Diketahui Bila Saya Menjadi Menteri

Januari 17, 2009

 

gambar dari xkcd.com

gambar dari xkcd.com

 

 

Konon katanya masyarakat timur, termasuk budaya nusantara, menghasilkan masyarakat yang lebih mementingkan “to be”. Menjadi. Lebih menginginkan eksistensi diri, dengan pengakuan keberadaan dirinya di tengah-tengah masyarakat.

 

Maka, mereka lebih senang “sebagai”.

 

Sedangkan masyarakat barat, antara lain bangsa eropa, lebih cenderung untuk “to do”. Melakukan. Mereka senang bila bisa melakukan sesuatu, mencba pengalaman yang baru.

 

Maka, mereka lebih senang “yang akan, sedang, dan telah dikerjakannya”.

 

Sehingga pada orientasi hasil, bangsa barat lebih unggul. Sedangkan masyarakat timur lebih menyukai proses. Terserah apakah prosesnya lambat, cepat atau tanpa hasil.

 

Tapi sepertinya itu dulu. Sekarang, hegemoni budaya dan estetika merambah dunia timur. Orang Jepang bisa lebih “barat” dibanding orang Inggris. Dalam hal positif, tentunya diartikan bahwa kinerja dan kegigihan orang Jepang mengungguli orang Inggris.

 

Lalu bagaimana dengan bangsa kita?

 

Sepertinya kita doyan “sakmadya” dalam artian tertentu. Inginnya sedang saja. Setengah atau malah setengah-setengah. Telor minta setengah matang. Nilai IPK mendingan jangan kebagusan, yang penting di atas tiga. Masuk kerja jangan terlalu pagi, tapi juga kalau kesiangan bakalan ditegur habis-habisan. Kerja ndak perlu ngoyo, yang penting hidup tentrem gemah ripah loh jinawi.

 

Apa iya?

 

Padahal budaya konsumtif sudah merajalela. Pola gaya hidup justru gaya barat namun kinerja masih memegang erat prinsip “ngapain ngoyo, ntar cepet tuwir..”.

 

Perkumpulan paguyuban yang biasanya berdasarkan kepentingan produktif yang menghasilkan karya bersama seperti paguyuban kelompok tani, kelompok budaya, kelompok degung, sanggar lukis, bergeser menjadi komunitas kebendaan.

 

Apa contohnya?

 

Komunitas pemilik mobil “x”. Komunitas pemilik “lap top “M”. Komunitas pengguna “Duwet Ireng”. Komunitas pemilik y, pengguna R, dan komunitas-komunitas “karena kesamaan memiliki kebandaan lainnya”.

 

Produktif kah? Semoga. Namun yang jelas, karya bukan lagi menjadi ukuran. Yang penting hepi. Saya sudah punya a, kamu baru punya a versi tahun lalu. Baca entri selengkapnya »


Cirebon dan Budaya Indonesia

Januari 11, 2009

topeng cirebon

topeng cirebon

Saya lahir di Kota Cirebon. Kota wali. Kota budaya. Kota udang. Bukan otak udang.

 

Terima kasih yang teramat besar atas liputan asoy geboy dari papabonbon. Tulisannya tentang persiapan ke Tjeribon. Juga perihal nasi jamblang yang memang tiada duanya dan perihal denyut nadi industri rotannya.

 

Cirebon sejatinya adalah kota tua peninggalan sejarah pantura. Mistis. Menarik. Menakjubkan. Sungguh!

 

Menyesal juga tidak bisa menemani blogger keren nan beken ini keliling Cirebon. Mau bagaimana lagi, saya harus menemani anak-istri menuju Boyolali di saat tahun baru kemarin.

 

Kota tua dan kota budaya bukanlah hasil rekayasa seketika. Perlu proses menahun bahkan ratusan tahun untuk menjadikannya. Affandi, sang Maestro, lahir di daerah Plumbon Cirebon. Nano Rintiarno penggagas Teater Koma, besar di kota ini. Saya dan Anjar juga.

:P

 

Cobalah tengok gaya hidup masyarakat Cirebon tradisional dengan bermacam budaya yang bernafaskan keislaman. Pengaruh Sunan Gunung Jati sangat kentara.

 

Tahukah anda dengan “Salawat Brahi”? Atau gamelan Cirebon yang khas, sampai dipelajari oleh Richard North warga kebangsaan Amerika Serikat. Juga budaya tari topeng yang melegenda.

 

Apakah anda pernah menyaksikannya sendiri, di pelataran rumah pinggir pematang sawah, dengan nuansa cuaca pantura yang terik, namun sejuk, yang terang dan rupawan?

 

Tentu saja gamelan bukan semata-mata milik warga Cirebon. Hampir seluruh kota di pulau Jawa-Bali, bahkan hingga Malaysia terdapat seni gamelan. Maka tak aneh bila berbagai lembaga kebudayaan dunia, sangat antusias mempelajari seni budaya eksotis ini.

 

Silahkan dengarkan sendiri di sini.

 

Tercatat beberapa lembaga seperti komunitas gamelan network di Inggris dan American Gamelan Institute yang menyediakan gamelan siap dengar via iTunes. Bayangkan, bagaimana sejatinya budaya lokal sangat diminati dan dimaknai secara keilmuan bahkan meresap dalam budaya-gaya hidup warga asing.

Salawat Brahi

Salawat Brahi

 

Sujiwo Tejo pernah berujar:

 

“Saya yakin setiap daerah memiliki kekayaan budayanya masing-masing. Saya percaya penjajahan fisik sudah tak ada, tetapi mereka, Eropa dan Amerika meninggalkan Bank Sentral di setiap negara, dan mengembalikan kepala negara dengan Bank Sentralnya…

Tetapi yang sangat lupa Eropa dan Amerika meninggalkan estetika kepada kita..

Sehingga yang dikenal anak-anak kita adalah do-re-mi-fa-so-la-ti-do, padahal di Banyuwangi, Batak, Flores dan setiap daerah tangga nadanya berbeda…”

 

Maka dengarkanlah melodi banyuwangi dalam “PADA SUATU KETIKA” menang dalam MTV ASIA tahun 1998.

 

Sampai kapan angkara murka ini berakhir..

Ada yang melihat sebaran daun kara

Berkabarlah..

Untuk sementara waktu pengakhir angkara murka..

Titi kala mongso..

Momentum…

 

Cirebon. Indonesia. Budaya. Manusia. Bersyukur dan berdamailah…


Pendek

Januari 10, 2009

pendek.

Menulis pendek bukan berarti pikiran kita pendek. Kalimat pendek bukan berarti kemampuan bahasa kita pendek. Otak dekat dengan telinga. Biar mendengar langsung dicerna. Mulut harus jauh dari kaki. Buat apa? Supaya ucapan salah tak mesti harus dibalas tendangan.

Pendek dapat diartikan ringkas. Hemat namun cermat. Enak dibaca dan pertanda kita sayang pembaca. Tidak bikin pusing kepala.

Saya suka pada kalimat pendek. Suka sekali. Sungguh!

 

Daripada tulisan panjang yang bertele-tele, tidak jelas apa yang mau disampaikan, sehingga terkesan memaksa dan akhirnya malah bikin bingung yang membaca karena alih-alih gampang dicerna, justru kalimat panjang paling riskan untuk tak terbaca atau sengaja dilewati oleh pembaca, seperti kalimat ini contohnya.

 

Betul?

 

Mencari perhatian justru muncul dari kesederhanaan.

 

“Aduh sakit..”

“Awas…”

 

Bandingkan dengan kalimat berikut:

 

“Ternyata saya sakit sekali lho rasanya karena baru saja terantuk batu!”

“Jangan lupa hati-hati kalau menyeberang ya, bisa-bisa terserempet bajaj di jalur cepat!”

 

Pendek. Mudah dikenali. Gampang diingat.

 

Blog. Lebih popular bila dibandingkan weblog.

Mas Kopdang. Enak didengar daripada Mas Kopidangdut.

 

SBY lebih keren daripada Susilo Bambang Yudhoyono. Hanura. Hati Nurani Rakyat. Gerindra. Alat potong?

 

Muchdi. Munir. Polly. JK. UI. UGM. PSSI. Hape.

ATM. Golput. PKS. ASU. Pabu Sacilat. Dagadu. SMS. BBM. Gaza.

 

Pendek. Ringkas.

 

Itu saja.

:P

Betul?

 

@ foto dari flickr creative commons


Lowongan Pertamina 2009

Januari 9, 2009

Email masuk. Saya baca. Rupanya lowongan Pertamina. Infonya berasal dari teman kampus yang berkerja di sana. pertaminaBerminat..? Baca entri selengkapnya »


Gadisku dan Burungnya

Januari 8, 2009

 

 

memandang burung

memandang burung

 

 

Wahai gadis kecilku,

Walau flu burung tak mewabah lagi, atau tak terwartakan, hati-hatilah mendekati burung, walau dalam sangkar.  Bukan apa-apa, toh ada baiknya perkataan Bapakmu ini bisa ditaati, sekadar mawas diri. 

Tentu saja! Ya, tentu saja bukan flu pilek batuk demam seperti yang Bapakmu sering derita..atau sejenis flu tulang yang katanya mulai banyak pelanggannya.

Bapak ajak kamu ke sini, bukan untuk menyaksikan burung, ..Bapak ajak kamu untuk menghadiri resepsi pernikahan. Ini bukan Kebon Binatang Ragunan, atau rumah “Kungkung dan Uti di kampung” yang melihara burung.

Jadi, lebih baik kita makan es krim, sate padang, lasagna, atau gula-gula kesukaanmu. Mau kan..?

Wahai gadis kecilku, jangan merengek. Bapakmu capek ngantri untuk setor muka dan bersalaman, lha kok tega-teganya malah minta gendong dan mendekati si burung itu.

burung-1

 

Besok-besok, kamu boleh melihara burung. Asal sudah bisa merawatnya dengan baik dan benar.  Jangan lupa, peliharalah burung yang ndak pesakitan, suaranya merdu dan ndak rewel. Kalau semua itu tak terpenuhi, lebih baik disate saja!

“Sate apa Pak…?”

Sate Penthul..!

:lol:

@ foto dokumen Pribadi

>>> Omong punya omong apakah Om dan Tante juga senang pelihara burung? Senang yang besar apa yang kecil? Yang berkicau atau sekadar hiasan… ? Elang atau emprit….

 

 

 

 


Ryan Lebih Jantan Dari Muchdi…

Januari 7, 2009

136089428_fa39eaa796Selamat tahun baru.

Tanggal 24 Desember tahun lalu, saya mengantar keluarga pulang kampung. Berlibur. Hingga tanggal 3 Januari tahun ini. Di sela-selanya, tanggal 30 dan 31 Desember, saya tetap masuk kerja. Luar biasa. Banyak cerita yang bisa saya utarakan di sini. Namun apa boleh buat, karena keterbatasan ruang bicara saya tunda saja kapan-kapan.

Tahun 2009 ditandai dengan berbagai pertanda, bahwa dunia masih saja penuh warna. Banyak cerita dan tentunya makna yang tak terpermanai.

Adil dan Pengadilan itu seperti sepupu jauh, dekat namun tak pernah bertegur sapa. Saya lupa, siapa yang berbicara tentang hal itu.

Dari dalam negeri 2008 ditinggal dengan banyak derai tawa, namun lebih banyak lagi tangis derita.

Bagaimana mentalitas seorang Mayor Jenderal yang mantan Deputi V Badan Intelejen Negara, malu-malu taik, tidak mau mengakui kalau dirinya telah berkomunikasi via telepon dengan PoliKarbol. Sebuah bukti bahwa mentalitas prajurit kita tak lebih jantan dibanding Ryan yang mengakui perbuatannya membunuh banyak manusia. Membuktikan bahwa tidak selalu seragam ksatria menunjukkan sikap jantan.

Juga membuktikan pengadilan kita masih panggung akal-akalan yang sungguh aneh tapi nyata.

 Jadi, jangan heran bila anda mau beli mesin cuci yang awet, tahan lama, maka salesman menawarkan merek “jaksa” yang perasannya tak menyisakan apapun. Atau beli mesin ATM bagi kalangan perbankan dengan referensi merk “penyidik” karena iap menyulap tersangka siapapun, dimanapun, kapanpun sebagai mesin ATM yang siap sedia diambil dananya.

Semoga, kalimat-kalimat di atas tak mengundang seseorang menaruh racun di botol aqua saat saya naik bajaj sepulang kerja. Nggak lucu dan nggak perlu..!

Lalu, kesedihan mendalam ditimpa oleh saudara kita di Manokwari yang merasakan kegetiran amuk alam yang coba bergoyang. Semoga, mereka semua diberi ketabahan dan hikmah menjalani masa depan.

Juga ribut-ribut soal berita mancanegara. Konflik Israel Palestina yang tak jua kunjung padam. Terlalu banyak kebencian, kecintaan cupet, kepentingan, kegelisahan, ketamakan dan hal-hal ciri khas manusia biasa yang membalut konflik.  Saya bukan ahlinya dalam hal itu. Namun setidaknya, saya doakan apapun yang terjadi bukanlah persoalan yang mengancam keseluruhan peradaban manusia, bahwa hati nurani nan mulia telah ditanggalkan lama, usang, berdebu dan siap diambil paksa oleh Tuhan, karena sia-sia telah diasingkan sendiri oleh masing-masing manusia.

Selamat tahun baru, semoga Pemilu 2009 melahirkan pemimpin baru….

Walau saya tak berminat menyumbangkan suara saya…yang merdu.

:P

 

gambar dari creativecommons flickr

http://www.flickr.com/photos/landotter/136089428/