Terus terang, saya tidak merasa punya ikatan batin dengan Boed. Ikatan pekerjaan tentu saja, karena ia adalah pimpinan kantor saya.
Beberapa kali saya lihat, ia selalu mengenakan lengan pendek. Boleh batik atau kemeja biasa. Maka dari itu tidak hanya hari jumat, karena ia hari selasa pun kami diperbolehkan tak berlengan panjang plus dasi.
Saya suka itu. Tidak gagah-gagahan dan mengutamakan esensi kinerja. Secara subyektif, saya pun tak suka mengenakan dasi.
Dalam suatu obrolan santai, ia mengungkapkan bahwa jamannya punya pegawai yang “pinter-pinter” sudah lewat. Cukuplah pinter saja. Ia menambahkan: Tak perlu sekolah sampai strata tiga bagi pegawai kantor kami, tapi terus tingkatkan ketrampilan dan “jam terbang”.
Itu adalah beberapa fakta yang bukan jenis “katanya”, karena saya mendengarnya langsung dari beliau.
Perihal lampu taman di kantor kami yang seringkali masih menyala di waktu pagi menjelang siang, ia pun komentari. Remeh, tapi implikasinya besar. Reputation risk akibat nyala lampu. Alasannya: pengendara yang melewati kantor kami, akan berpikir:
“bagaimana pola tata kelola anggaran, bila untuk urusan listrik saja tidak hemat..”
Yap. Ia sederhana. Ia lebih memilih tak berdasi.
Akan tetapi…
Maap, saya tak pernah melihat garis ideologi dirinya secara tegas. Ia sakmadya. Raut mukanya tenang tanpa ekspresi tegas.
Tak pernah menyentuh garis penanda, sehingga terkesan blur. Neolib atau bukan, pro kerakyatan atau tidak, merah-hijau-atau kuning.
Oke lah Boed, maju terus pantang mundur. Tapi maap, bukan karena Anda digandeng SBY yang tak pernah sekalipun saya percaya, tapi memang untuk urusan kepemimpinan maupun kewakilan- saya belum bisa memilih Anda.
Posted via blackberry 9000/4.6.0.247
Recent Comments