Dunia Guinness Dunia Pencapaian
Ada yang terlupakan dari ganjaran keberhasilan suatu perusahaan. Terkadang, karena namanya yang mendunia, kita tak menduganya itu adalah nama sebuah merek. Sebuah brand. Sebuah keunggulan dari suatu pencapaian.
GUINNESS SEBAGAI AIKON BUDAYA, BUKAN SEKADAR MEREK SEBUAH PRODUK
Tentunya anda tahu apa itu Guinness world records?
Atau perhatikan dua gambar di bawah ini:

guinness ini
dan:

guinness itu
Apakah sama antara kata “Guinness” dalam kata “Guinness” untuk pencatat rekor-rekor terbaik, terpanjang, tercepat, dan ter-ter lainnya dengan “Guinness” sebagai nama sebuah merek bir hitam dari daratan Irlandia?
Silahkan anda google atau anda bing.
Ooops, ternyata mereka berhubungan. Guinness world records diciptakan atau diprakarsai oleh Sir Hugh Beaver –Managing Director dari Guinness Brewery pada tahun 1955.
Jadi, kalau anda mengira bahwa itu hanyalah kesamaan nama, ternyata anda salah. Rupanya, tanpa perlu aturan yang ketat mengenai Corporate Social Responsibility, dengan inisiatif sendiri, Sir Hugh Beaver “menjerumuskan” perusahaannya dalam upaya-upaya pencatatan pencapaian manusia terbaik.
Pengumpulan data dan fakta yang saling menguntungkan, menghibur sekaligus sungguh menggairahkan. Rupanya banyak cara untuk menjadikan sebuah merek menjadi sebuah “icon“ produk.
Bagaimana itu semua bisa terjadi? Melalui strategi pemasaran yang jitu? Dengan memborbardir pasar dengan jargon-jargon menakjubkan? Ya! Itu adalah cara termudahnya. Namun kelanggengan hanya didapat dari kualitas produk itu sendiri. Tiada yang lain!
Hebatnya, kata “Guinness”, tidak hanya menimbulkan pernik bayangan selintas yang menyatakan bir hitam, namun jauh lebih luas dan umum, yaitu Guinness sebagai satu bagian dari budaya dunia, bahwasanya pencapaian manusia atas prestasi dan kondisi tertentu layak untuk dicatat dan diabadikan.
GUINNESS SEBAGAI SALAH SATU PRODUK ANOMALI EKONOMI
Dibuat dari bahan pilihan, dengan kualitas air yang spesifik, mata air sungai yang mengaliri Dublin. Air yang mereka sebut “liquor” yang murni dan tepat sebagai bahan dasar pemrosesan bahan baku menjadi sebuah produk yang tercipta menjadi bir hitam dengan kualitas prima. Air mata pegunungan yang mengalir di tengah kota Dublin.
Baiklah, bicara guinness tidak akan fair bila tak bicara produknya itu sendiri.
Guinness adalah dikenal sebagai bir hitam. Bir sebagai sebuah produk komoditas tentunya dapat dinikmati konsumen setelah melalui proses panjang produksi dan pemasaran.
“Lalu apa hubungannya dengan anomali ekonomi?”
Tentunya anda tahu tentang blog ekonomi yang berpengaruh bernama freakonomics? Blog di harian NY Times yang diasuh oleh Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner
Dalam salah satu tulisannya, berjudul Indonesia’s Drinking Problem hal menarik yang dikemukakan adalah kemungkinan bir sebagai barang Giffen dan berlaku teori Giffen.
Dalam salah satu teori Makro ekonomi:
“Suatu barang GIFFEN, di mana efek pendapatan adalah negatif dan cukup kuat untuk efek penggantian artinya harga yang lebih rendah, lebih sedikit dibeli”
Artinya dapat dianalogikan bahwasanya bir sebagai minuman yang tidak mengikuti prinsip elastisitas harga, di mana kenaikan demand (permintaan) tanpa diimbangi supply (ketersediaan) yang imbang akan berdampak kenaikan harga. Atau harga yang mahal akan lebih tidak diminati oleh sebuah produk yang lebih murah daripadanya. Sehingga justru konsumen semakin banyak mencari (peningkatan demand) pada harga produk yang semakin mahal.
Ini tentunya dapat diperdebatkan. Namun itulah tinjauan kritis freaconomics terkait kenaikan permintaan yang makin banyak dari konsumen yang jumlahnya 4 (empat) kali lebih besar dibandingkan kuota impor yang ditetapkan pemerintah Indonesia. Seperti berita yang dilansir oleh BBC.
Maka bir hitam dengan brand “Guinness” adalah satu satu dari produk dengan pemberlakuan teori “barang Giffen”.
***
Kembali kepada bir hitam, sebagai pengantar brand awareness, Guinness memproduksi 3 (tiga) kategori bir, yaitu Extra Stout, Foreign Extra Stout, dan Draught Guinness.
Hal menarik adalah bahwa hanya Foreign Extra Stout yang dipasarkan di Indonesia, itu pun tanpa kehadiran Guinness Extra Smooth, yang dalam pasar internasional masuk dalam “keluarga” foreign Extra Stout.
Pada awalnya Arthur Guinness memproduksi bir kualitas prima dengan menggunakan 6 (enam) hal khusus yang membedakan dengan produk lainnya secara akurat dan menyenangkan, yaitu proses membakar jelai (barley), pilihan ekstra hops, peragian khusus, proses pematangan, yang menghasilkan kelembutan krim, dan ketrampilan prima dari para peramu bir itu sendiri.
Namun dengan adanya perkembangan teknologi dan penyempurnaan terus menerus, maka terdapat 9 (sembilan) ciri pokok dari produk bir hitam kualitas prima yang bernama Guinness:
Bahan
jelai pilihan, dengan menggunakan hop yang khusus berjenis betina, dan air yang berasal dari Wicklow Mountains, serta bahan ragi khusus.
Penggilingan dengan proses dan alat yang berbeda sesuai dengan ciri khas Guinness.
Percampuran proses penyatuan bahan baku.
Separating
Proses pemisahan bahan hasil mashing menghasilkan cairan ekstrak gula dan air yang diendapkan.
Boiling atau Proses pemanasan, hingga suhu tertentu yang optimal menghasilkan produk kualitas prima;
Fermenting yaitu proses peragian. Ini adalah tahapan kunci untuk mengendalikan kadar dan cita rasa sesuai standar kualitas.
Maturating atau proses pematangan. Kalau terlalu matang? jangan terlalu. Terlalu cepat?juga jangan.. yang baik adalah yang sedang-sedang sssaaaja..!
Packaging yaitu proses pengemasan yang menghasilkan produk bercita rasa sesuai harapan, dengan menghasilkan gelembung nitrogen yang meletup-letup asoy sempurna.
Selanjutnya Enjoying..!
Yaitu proses menikmati produk dengan menuangkannya ke gelas masing-masing sehingga semuanya serba pas; atau mengangkat gelas dengan riang gembira bersama teman-teman anda.
***
Ah, apapun itu, Guinness telah mempersembahkan kemampuan terbaiknya demi menghasilkan sebuah produk dengan kualitas prima.
Bagaimana dengan Anda? Apakah anda sudah menikmati Guinness dengan memiliki tanggung jawab penuh ?
Bila sudah, mari kita berjalan-jalan keliling Dublin dengan segala suasana yang penuh gairah dan memberikan pencerahan dari kisah sejarahnya. Objek wisata kota yang magis, penuh cita rasa dan perjalanan panjang penuh suka-duka-lara-derita dan semangat memperjuangkan kehidupan, seperti apa yang dituturkan oleh Ndoro Kakung, Mas Iman dan mbak Tika yang kebangetan itu.
Selamat berpetualang dan :
“Nikmatilah apa adanya dengan penuh rasa tanggung jawab”.
*) Tulisan ini adalah tulisan dalam rangka mengikuti sayembara artikel dalam blog yang diselenggarakan oleh Guinness, dalam rangka memperingati 250 tahun diciptakannya salah satu minuman cita rasa dunia.










Hahahaha…
Selain “kopi hitam”, rupanya “bir hitam” pun perlu ditulis dengan riang gembira..lepas dari cocok tidak cocok menemani sebatang-dua batang “kretek hitam” lainnya.