Siapakah Bomberman JW Marriott (Jilid 2) dan Ritz Carlton

jw marriott jkt

Menilik dari kemungkinan cara para pengebom yang menggunakan teori telor, yaitu menyiasati pertahanan dari luar dan menyerang dari dalam, maka dipastikan jaringan ini memiliki dana yang kuat.

Mengapa?

Karena dengan cara baru yakni pengebom memilih untuk menginap dahulu selama beberapa hari di hotel untuk:

1. Menyiapkan serangan.

2. Melihat situasi.

3. Menyicil bahan-bahan bom

4. Merakit bom

Lalu di hari yang telah dianggap tepat, dengan santai pelaku menghampiri kerumunan untuk meledakkan bom.

Tentu saja dari awal petugas keamanan akan mudah dikelabui, karena “ancaman” datang bukan dari luar, melainkan dari “dalam” hotel itu sendiri.

Ini seperti prinsip firewall dalam dunia IT. Kejadian penyerangan pengrusakan dan segala macam terkait data jaringan bisa dilumpuhkan dengan keamanan memadai bila ancaman itu datang dari luar jaringan alias WAN atau melalui internet.

Namun bila ada satu dua komputer user yang merupakan jaringan dalam, maka pertahanan akan lemah dan mudah untuk ditembus.

Persis seperti telur. Kuat bila digetok dari luar, tapi rapuh di dalam.

Urusan teroris adalah urusan jaringan.

Ya. Network harus diantisipasi (dan diberantas) dengan network.

Kalau antara Presiden, wapres, BIN, Densus 88, KPK, KPU saja tidak kompak dalam urusan lain, bagaimana dalam penanganan bom pasca peledakan…

Ada beberapa hal menarik yang harus dicermati oleh kita semua:

1. Momen peledakkan dilakukan pagi hari! Hari Jumat lagi..

2. Peledakan mirip atau meniru dua cara peledakan bom bali. Yaitu pertama dilakukan dengan cara melakukan peledakan di dua tempat secara bergantian dan dalam jangka waktu yang relatif berderetan. Hal ini dilakukan saat bom bali jilid 1, dengan 2 tempat sasaran yaitu Paddy’s dan Sari club.

Kedua, cara yang dilakukan pada bom bali jilid dua di Raja’s cafe, di mana pelaku masuk ke dalam resto seolah-olah adalah pengunjung.

Dua hal inilah yang dipakai oleh pelaku pemboman.

Cara bisa sama, pelaku belum tentu jaringan yang sama.

3. Mencari perhatian Internasional. Mengapa? Karena MU akan hadir dan menginap di Ritz Carlton.

Menarik lagi adalah bertepatan dengan pertemuan rutin mingguan (breakfast meeting) ICP- Indonesia Country Proggramme besutan CastleAsia di Marriott yang merupakan jasa intelejen bisnis. Perusahaan ini adalah supplier info dan report terkini terkait isu pulitik dan keamanan serta ekonomi Yang akan dihadapi pebisnis.

Topik minggu ini sejatinya adalah pertambangan.

Hadir pagi itu TD Mackay dr Holcim (salah satu korban tewas), David Potter (freeport), Machribie (komisaris freeport), Kevin Moore (Husky Energy), Gary Ford (Anadarko energy) dan beberapa eksekutif puncak lainnya. Termasuk, Noke Kiroyan, ahli PR yang dahulu menangani KPC, Kaltim Prima Coal. (Sumber kompas)

4. Masih dalam rangkain pemilu, karena penghitungan suara belum final.

5. Ini adalah pemboman yang kedua di JW Marriott jakarta, dan ketiga setelah sebelumnya JW Marriott India pun jadi sasaran serangan bom.

Terlalu dini orang nomor satu di negeri ini untuk berkomentar. Parahnya lagi, seakan-akan berkaitan dengan pemilu.

Serangan terhadap kemanan negeri dikerucutkan secara sepihak menjadi ancaman pribadi. Sungguh sempit kalau tidak tega mengatakan sebagai pikiran kerdil.

Perlu upaya ekstra keras dari penyelenggara negeri untuk serius melakukan penanganan dan upaya pencegahan.

Maka menurut saya kunci utama dari upaya pencegahan dan pencarian pelaku adalah aliran dana antar anggota jaringan kelompoknya.

Mengapa?

Pengebom juga manusia. Butuh makan, perlu kebutuhan mandi, bahkan biaya untuk menginap di hotel kelas internasional.

Dukungan dana entah dari mana, harus ditelusuri. Besar kemungkinan uang tidak mengalir lewat jasa perbankan dan money remittance sejenisnya, namun dana segar siap pakai.

Lihat catatan deposit pembayaran penginap seluruh hotel. Bila gunakan kartu kredit untuk memblokir dana sejumlah biaya hotel bagi pelaku, maka dapat ditelusuri.

Bila uang cash, maka sungguh sulit untuk diketahui namun bukan suatu yang mustahil.

Siapapun pelakunya, jangan sampai menjadi mesiu baru untuk tindakan lanjutan.

Entah dipergunakan pemerintah untuk bersikap terlalu offensif, dan atau bagi jaringan pelaku untuk menjadi sandaran babak selanjutnya.

Indonesia, terlalu besar untuk jatuh hanya karena bom!

Jakarta, 9:22:59 AM

+ artikel terkait:

>> Mengapa JW Marriott identik dengan bom?

Sent from my BlogBerry®

powered by blog kopidangdut

http://kopidangdut.wordpress.com/

~dari urusan serius seperti dangdut hingga hal remeh sekadar politik jenaka~

7 Tanggapan ke “Siapakah Bomberman JW Marriott (Jilid 2) dan Ritz Carlton”

  1. dildaar80 Berkata:

    thank’s

  2. jack Berkata:

    Setuju kang.
    Salam dangdut.

  3. frells manado Berkata:

    saya setuju pak ,..teori bunglon nya juga si Bomberman pake ,.. supaya gak ada keliatan ggerakannya ,..

  4. papabonbon Berkata:

    ini sebagai pintumasih, tanda dari kelompok ini kalau, “kami masih ada”

  5. papabonbon Berkata:

    ini sebagai pintu masuk, tanda dari kelompok ini kalau, “kami masih ada”

  6. foe... Berkata:

    percayakan pd densus 88 anti teror mabes polri…..

    • andi Berkata:

      kalo ngga serahkan aja urusannya ama gultor 81 kopassus…..

Tinggalkan Balasan