Sumpah pemuda. Dari dulu rupanya anak muda doyan sumpah. Bedanya dulu sumpah altruistik sedangkan jaman sekarang narsistik.
Lantas untuk apakah sumpah itu? Meyakinkan diri sendiri? Ucap. Ikrar. Janji. Dengan keyakinan dan kesadaran menerima konsekuensi jika melanggarnya? Bila betul begitu Hebat!
Bolehlah kita mengaku satu tanah air. Mengaku bahwa bahasa kita sama. Tapi bila nasib berlainan bagaimana?
Satu kerja enak, yang lain, misalnya, masih pengangguran. Lalu tercipta jarak. Lantas berbeda komunitas. Beda pertemanan. Beda penghasilan. Apakah kita masih “satu..?”.
Sekarang tanpa disadari pembagian klas makin kentara berdasarkan kemampuan ekonomi. Lihatlah yang paling kentara: tikes pesawat, pengajuan jenis kartu kredit, bahkan hingga lingkungan akedemis. Lantas, yang satu itu apa, bila saya naik eksekutif, dan kamu naik ekonomi.
Ya. Tentu saja kita akan beralasan atau kamu berkilah bahwa itu bukan contoh yang tepat. Bahwa urusan nasib adalah urusan pribadi, tergantung perjuangan dan garis tangan.
Lantas apa itu yang dinamakan dengan senasib sepenanggungan? Penciptaan “tribal” baru. Bukan lagi aku Jawa kau Batak dia Bugis dan mereka Dayak. Melainkan aku blackberryan, kamu nokia club, dia anak twitter, kalau kamu narablog dan aku plurker. Sedangkan ayahku HD bikers club, mamahku Agogo Arisan Bersama, Masku Anak Starlet Club.
Sedangkan kami persatuan roker bintaro tanah abang. Ah, akhirnya identitas tetap perlu direkatkan, dimaknai dan terus dicari.
Sampai kapan?
Maukah kita menambah satu butir sumpah:
“Kami pemuda pemudi Indonesia bernasib satu, Nasib Indonesia..!”
Jakarta, 7:10:05 PM Mon, Oct 26, 2009










lapar … lapor …
pagi : sebel, karena sekolahnya anak ternyata upacara, si kecil kudu jalan jauh juga, 500 m lebih sendirian, karena motor gak boleh masuk sekolahan
sebel juga, anak TN di sby gak ada yg bikin acara asik berkenaan sumpah pemuda
)